Ingatan masa laluku kembali pulih seiring berjalannya waktu. Namun, ada satu hal yang masih belum bisa kuingat dengan jelas, yakni Ibu Suri. Sampai detik ini aku tidak tahu di mana keberadaannya. Tarra bilang, tahun lalu Ibu Suri pergi ke Singapura untuk melakukan operasi jantung. Dan setelah itu tidak ada kabar lagi dari Ibu Suri.
Aku penasaran dan nekat mencari alamat Ibu Suri berdasarkan catatan lama yang pernah kusimpan. Tetangga sekitar mengatakan bahwa Ibu Suri sudah lama menjual rumahnya untuk membiayai pengobatannya di Singapura. Desas-desus mengatakan bahwa Ibu Suri telah meninggal dan di makamkan di pemakaman Tanah Kusir. Namun, sampai detik ini belum ada berita valid mengenai keberadaan Ibu Suri.
Lalu aku bertanya, apakah ada rekan atau keluarga yang bisa kuhubungi. Tapi sayangnya, mereka merespons dengan gelengan. Ibu Suri tidak punya keluarga. Dia tidak menikah, tetapi punya banyak anak asuh, yakni karyawan yang pernah bekerja dengannya.
Aku semakin penasaran. Apakah Nala termasuk karyawan dari Ibu Suri?
Mereka langsung mengangguk dengan tatapan sinis seakan-akan sedang melihat tikus di dapur utama. Mereka sudah hafal dengan semua sifat buruk Nala. Bagi mereka, Nala adalah wanita yang tidak tahu diuntung.
Nala adalah anak yatim piatu yang diasuh oleh Ibu Suri beserta karyawan lainnya. Ibu Suri mengajari mereka teknik menjahit kebaya, membeli kain yang baik, hingga memasarkannya di tempat langganan. Tahun 90-an adalah masa kejayaan Ibu Suri dengan usaha kebayanya. Ibu Suri selalu menjadi kepercayaan pejabat dan para artis zaman dulu.
Suatu hari Nala memberikan sebuah desain kebaya sebagai referensi koleksi terbaru. Ibu Suri suka dengan desain tersebut dan langsung membuat polanya sebagai percontohan. Ketika kebaya itu sudah jadi, Ibu Suri lupa menaruh nama Nala di dalam label kebaya, dan tidak memasukkan nama Nala di dalam katalog butik milik Ibu Suri.
Tak terima karena hasil penjualan kebaya yang meroket, ditambah nama Nala sebagai desainer tidak disertakan ke dalam label dan katalog kebaya, serta hak atas royalti sebagai desainer tidak dilebihkan, membuat Nala kesal dan berontak kepada Ibu Suri.
Secara perbuatan memang Ibu Suri salah. Dalam dunia bisnis memang selalu ada percekcokan. Seharusnya komunikasi adalah kunci dari penyelesaian masalah tersebut. Namun, saat Ibu Suri hendak membayarkan royaltinya kepada Nala, tiba-tiba Nala menggunggat Ibu Suri ke pengadilan. Kasusnya semakin berat karena Ibu Suri digadang-gadang terlibat perselingkuhan dengan petinggi kepolisian yang mana istrinya adalah pelanggan setia dari butik miliknya.
Sekuat apa pun Ibu Suri menyanggah, bukti antara dirinya dan petinggi kepolisian terpampang jelas di pengadilan. Sebenarnya hanya sebuah foto makan malam bersama. Tidak terlihat seperti hubungan spesial. Namun dalam hasil persidangan, Ibu Suri kalah dalam mengajukan banding. Alhasil butiknya ditutup dan dia mendapatkan banyak cibiran dari masyarakat. Nama besarnya sudah jelek di mata publik.
Tak lama setelah karier Ibu Suri meredup, kini nama Nala yang semakin bersinar. Dia punya usaha butik sendiri yakni Kebaya Saya.
Ibu Suri pernah bertemu dengannya untuk minta maaf, tetapi sayanganya Nala mengusir Ibu Suri. Nala lah yang membuat karier Ibu Suri hancur. Dia yang memfitnah ibu asuhnya hingga seperti ini.
Ibu Suri membiarkan Nala mendapatkan apa yang dia inginkan. Baginya, hanya dengan cara itu dia dapat menebus kesalahan masa lalunya. Sampai detik ini pun Ibu Suri tidak pernah membenci Nala. Dia sangat menyayangi anak asuhnya itu.
"Lantas ke mana anak asuh lainnya? Maksud saya karyawan-karyawan Ibu Suri?" tanyaku menginterupsi.
Salah satu tetangga mengajakku ke rumahnya. Dia memperlihatkanku bingkai foto di ruang utama rumahnya. Foto para wanita berjumlah 18 orang, berbaris horizontal, kompak tersenyum di depan kamera. Terlihat satu wanita berkebaya anggun dengan rambut bersanggul tinggi, duduk di tengah kursi tersenyum manis menghadap kamera. Dia adalah Ibu Suri dengan segala keanggunannya.
Siapa pun pasti akan jatuh cinta pada sosoknya yang menawan.
"Dua baris dari sebelah kanan Ibu Suri adalah saya. Di sebelah saya adalah Nala. Dan sisanya adalah karyawannya."
"Jadi Ibu termasuk karyawan Ibu Suri?" tanyaku lagi.
Wanita tua itu menggeleng penuh tawa manis. "Tidak, tapi bisa juga iya. Saya suka bantu-bantu beliau menggunting sisa benang di kebaya yang sudah jadi. Saat itu ada tukang foto keliling menawarkan jasa dan saya pun ikutan berfoto dengan mereka." Wanita itu mengetukkan kepalanya pelan. "Ah, iya, sampai lupa. Kamu bertanya ke mana karyawan lainnya, bukan?"
Aku mengangguk.
"Mereka berpencar setelah melihat butik Ibu Suri hancur. Ada yang memilih menikah, bekerja konveksi di Tanah Abang, dan ada yang kerja di luar. Saya juga kurang paham mengenai keberadaan mereka."
"Tidak adakah seorang pun yang ikut dengan Nala?" tanyaku terkejut.
Awalnya wanita paruh baya itu menggeleng mantap, namun satu dua kedip matanya menatap bingkai foto itu lagi, bola matanya langsung terbelalak.
"Ini," ujarnya.
Alisku bertaut ikut mengamati. Sosok anak remaja yang ada di sebelah kiri Ibu Suri dan anak yang ada di pangkuan Ibu Suri.
"Dua anak ini adalah kakak beradik. Mereka yang keberadaannya tidak pernah saya ketahui. Yang jelas adiknya Uli ini sering sakit-sakitan."
"Uli?" mataku terbelalak dan mengamati foto itu sekali lagi.
Benar dia adalah Uli. Orang yang bekerja di rumah Nala bukan hanya sebagai asisten penjahit melainkan dijadikan sebagai wanita penghibur.
-----------------------------------------------------------------
Note:
Halo semua, selamat tahun baru 2026 ya!
Udah lama nggak buka Wattpad atau pun update cerita, karena entah mengapa aku merasa setiap posting selalu sepi. Aku nggak tahu apakah masih ada yang baca atau nggak. Jadi aku selalu nunda untuk posting.
Aku kangen masa-masa Wattpad lagi, tapi kayaknya nunggu momen dulu deh kapan bisa rajin update. Soalnya akhir-akhir ini lebih fokus kirim naskah ke penerbit juga.
Oh iya, kalau masih ada yang baca cerita ini, jangan lupa vote atau komen ya. Biar aku tahu, kalau masih ada yang baca cerita ini.
Terima kasih.
Xoxo,
Elsinna.
KAMU SEDANG MEMBACA
Star On the Stage
Misteri / ThrillerTidak semua orang bisa meraih mimpinya dengan mudah. Bitta, seorang gadis desa bercita-cita menjadi aktris papan atas agar bisa bertemu dengan Karsa Aranantyo, bapak kandungnya yang selama ini telah menelantarkannya sejak kecil. Bitta memulai karier...
