Harta, tenar, dan rupa.
Adalah komposisi dari hak istimewa yang sering kita temui dalam kehidupan sekitar.
Dengan harta kamu bisa beli apa pun yang kamu inginkan. Dengan tenar kamu bisa mencapai apa pun yang kamu rencanakan. Dan, dengan rupa kamu bisa meraih pujian yang kamu dambakan.
Memiliki semuanya, so perfect. Memiliki dua di antaranya, so good for you. Hanya memiliki satu, it's okay. Tapi kalau tidak memiliki semuanya? So heavy. Berusalah untuk meraih satu dulu―karena ketika satu itu tercapai, tak menutup kemungkinan, ketiga-tiganya bisa kamu raih seiring berjalannya waktu.
Aku hanya punya urutan satu di antara tiga pilar itu; yaitu rupa.
Aku berambisi menjadi aktris karena selama ini aku tidak pernah dianggap ada oleh orang-orang di sekitarku. Mereka mengabaikanku padahal aku juga bentuk manusia yang nampak. Aku percaya bahwa ketenaran mampu membuat diriku bernilai, mampu membuat orang-orang membuka matanya untuk menatap wajahku, dan mampu menganggapku bagian hidup dari mereka meskipun kami sebenarnya tidak saling mengenal dekat.
Sudah muak aku dihina karena tidak memiliki Bapak, mimpiku menjadi aktris sering diremehkan hanya karena aku gadis desa, paras cantikku sering digoda oleh orang-orang yang tak punya adab dan sopan santun. Satu hal yang perlu kamu ketahui tentang rupa adalah: menjadi cantik tapi miskin itu mengerikan.
Maka aku memilih nekat melarikan diri ke Jakarta untuk menaikkan nilai dari diriku. Aku ingin membuktikan dan memamerkan kepada mereka tentang keberhasilanku. Agar mereka tidak bisa menghinaku lagi. Manusia yang sering tertindas akan selalu berkata demikian, bukan?
Setelah aku nekat ke Jakarta seorang diri dengan modal uang seadanya. Aku mulai menjalani hidup baru dengan identitas baru yang kubuat menjadi Bitta. Aku mendatangi lokasi tempat di mana aku diterima kerja. Mataku terbelalak melihat alamat kantor yang ternyata berada di area gedung perkantoran elit. Aku lompat-lompat antusias menyadari bahwa aku akan bekerja di sini. Seketika mimpi untuk menjadi artis harus kuundur demi mengumpulkan uang tabungan yang sudah lama kupakai.
Aku bertemu HRD di kantor. Ditunjukkanlah sebuah kontrak kerja yang harus kutandatangani. Aku membacanya dengan detail dan saksama. Ada satu poin yang mengganjal di mana tugasku adalah mencari konsumen yang mau berinvestasi dengan minimal nominal seratus juta. Jika dalam sebulan aku tidak mendapatkan konsumen, maka aku tidak akan menerima gaji. Ini benar-benar sulit. Bagaimana aku bisa menemukan orang kaya yang mau berinvestasi dengan cepat? Aku tidak banyak mengenal orang di tempat ini dan aku juga tidak bisa menanggung beban seberat ini.
"Tenang saja Mbak Bitta. Ini kerjanya per-grup kok. Jadi Mbak Bitta akan bekerja sama dengan tim lainnya," ucap HRD yang mengerti akan kegelisahanku.
Karena aku butuh pengalaman kerja dan butuh uang, maka tanpa basa-basi aku menandatangani kontrak kerja di perusahaan ini. Dan di situlah pertama kalinya aku bertemu dengan Tarra.
Tarra tahu aku berasal dari kampung. Dia bisa mengetahuinya dari logat bicara dan penampilanku. Kupikir dia cenanyang, namun ternyata aku adalah representasi dirinya dua tahun silam. Dari Surabaya, Tarra nekat ke Jakarta seorang diri tanpa restu orangtua. Dia ingin merasakan tinggal di Jakarta―bekerja, naik transportasi umum, dan terpenting bertemu dengan banyak artis ibu kota. Tarra suka menonton konser musik. Dia fans berat Afgan. Waktu itu Afgan melakukan on-air di salah satu TV swasta. Salah satu koordinator acara mengajak Tarra untuk menjadi penonton bayaran di acara tersebut. Per hari dia bisa meraup uang lima puluh ribu rupiah ditambah nasi kotak gratis di setiap sesi acara. Dia senang dengan pekerjaannya, tetapi tak lama acara musik itu bubar, dan Tarra mulai mencari pekerjaan kantoran.
Pekerjaan seperti berjualan adalah keahilan yang tidak semua orang bisa kuasai. Dan inilah kelebihan Tarra. Selain cantik dan aktif, dia lihai dalam bernegosiasi. Tarra punya banyak kenalan orang kaya berkat menjadi penonton bayaran. Target investasi perusahaan ini mayoritas artis pendatang baru. Dan Tarra selalu closing dengan target yang memuaskan.
Waktu itu Tarra bertanya apa mimpiku, lalu aku menjawabnya ingin menjadi aktris. Dia tertegun, menatapku, dan tidak tertawa sedikit pun. Baru kali ini aku beretemu dengan orang yang menghargai mimpi seseorang―tidak menganggap remeh dan mempercayai ucapanku melalui binar matanya. "Ya, kenapa nggak dicoba lagi aja, Bit?" tanyanya.
"Gue masih cari uang untuk bertahan hidup di sini, Tar," tukasku. Aku sudah lihai dengan logat ala Jakarta.
"Jangan pernah menunda mimpi yang selama ini ada di kepala lo, Bit. Gue pernah baca buku judulnya P.S I Love You karya H. Jackson Brown Jr., dia bilang, 'twenty years from now you will be more disappointed by the things that you didn't do than by the ones you did do. So throw off the bowlines. Sail away from the safe harbour. Catch the trade winds in your sails. Explore. Dream. Discover."
Aku mengangguk. "Kalau mimpi lo apa?" tanyaku lagi.
Tarra malah tertawa kencang. "Gue nggak punya mimpi, Bit. Gue nggak punya ambisi besar. Gue cuma suka menikmati hidup sesuai takdir. Makanya, setiap gue melihat orang yang punya mimpi besar, gue selalu berharap agar impian mereka bisa terwujud. Karena gue tahu, mewujudkan mimpi itu butuh pengorbanan besar."
"Tapi dengan bermimpi bisa memberikan harapan hidup, bisa membuat hidup kita lebih terarah, atau mengkhayalnya aja bisa bikin kita senang. Impian itu nggak harus besar, Tar. Yang penting di saat lo sedang terpuruk, lo akan ingat mimpi itu, dan berharap bahwa hari esok lo bisa mendapatkannya. Jadi nggak ada salahnya untuk mulai mencari mimpi baru."
Tarra mengerutkan dagunya. "Gue kayaknya udah menemukan mimpi baru, Bit. Gue bermimpi akan menikah dengan Afgan. Nggak ada yang nggak mungkin kan dalam hidup ini?" ujarnya cekikikan tanpa henti.
Aku tertawa dan membalasnya dengan anggukan. "Gue jadi paham kenapa orang suka menertawakan mimpi gue. Mungkin karena dibayangan mereka, seorang seperti gue nggak akan mampu menjadi aktor yang ada di TV dengan latar belakang gue yang seperti ini. Dan di dalam pikiran gue, seorang kayak lo nggak mungkin bisa menikahi Afgan karena kalian adalah orang dengan latar belakang yang berbeda. Afgan penyanyi dan lo marketing. Kalian juga nggak saling kenal. Tapi, pada dasarnya akan selalu ada jalan untuk mereka yang mau mengusahakan. Misalnya lo jadi penonton bayaran, atau kerja di perusahaan rekaman Afgan, atau bisa juga lo masuk ke dalam circle artis untuk bisa lebih dekat dengan idola. Make sense, right?"
"Benar sekali. Dan lo juga begitu. Kalau lo mau jadi aktris, lo harus cari info casting, atau minimal jadi selebgram dulu biar dikenal masyarakat, atau coba mulai cari pekerjaan yang relevan. Production House biasanya suka butuh pekerja macam marketing promotion, atau penulis, atau apalah gue nggak hafal. Coba aja dulu."
Mataku berkilau riang mendengar penjelasannya. Hatiku ikut berdebar tak sabar mencoba semuanya. Lalu teringat sesuatu. "Tapi gue masih butuh uang sebelum gue mewujudkan mimpi itu, Tar. Gue perlu makan dan bertahan hidup. Nggak mungkin gue melepaskan gaji gue demi mimpi yang belum pasti."
Tarra paham. "Mulai dari hal kecil aja yang nggak mengganggu pekerjaan lo." Dia menggulirkan ponselnya dan menunjukkannya kepadaku. "Jadi YouTubers! Pagi sampai sore lo kerja seperti biasa. Malamnya lo ngonten. Lo kan cantik, pasti cepat lah dapat subscribers."
"Tapi gue nggak tahu mau bikin konten apa."
"Makanan aja. Belakangan ini lagi populer. Atau daily vlog?"
Aku tertawa geli. "Kalau kamar kos kita kayak kamarnya Aurel Hermansyah, gue mau mau aja bikin daily vlog. Kamar kos kita aja udah kayak panti sosial."
"Betul juga. Ya udah kita buat konten makanan aja pas pulang kerja atau weekend."
KAMU SEDANG MEMBACA
Star On the Stage
Mystery / ThrillerTidak semua orang bisa meraih mimpinya dengan mudah. Bitta, seorang gadis desa bercita-cita menjadi aktris papan atas agar bisa bertemu dengan Karsa Aranantyo, bapak kandungnya yang selama ini telah menelantarkannya sejak kecil. Bitta memulai karier...
