Naskahku yang berjudul; 'Ayah, Apa Salahku?' kalah melawan orang-orang hebat yang sudah lama berkarya di bidang kepenulisan skenario. Tapi aku sangat bersyukur karena anak bawang sepertiku bisa masuk ke dalam deretan 10 naskah favorit pilihan juri.
"Udah, nggak usah kecewa. Buat lagi naskah yang baru. Nanti kirim ke PH lain," ucap Tarra yang mulutnya berceloteh, tetapi matanya tertuju pada ponsel. "Oh, atau lo jadi penulis buku aja. Banyak tuh, penulis Wattpad yang karyanya bisa di film atau series-in. Lumayan buat batu loncatan lo."
"Tapi, gue nggak pernah nulis novel. Novel terlalu puitis. Beda sama skenario yang langsung ke intinya," kataku.
Tarra menggeleng. "Selalu ada jalan bagi mereka yang mau berusaha. Mau gimana pun bentuk tulisannya, lo itu punya basic menulis yang bagus. Jadi tinggal lo kembangin aja tulisan skenario lo itu."
Aku bersyukur memiliki Tarra di dalam hidupku. Di saat aku mulai menyerah terhadap mimpi dan hidup, Tarra selalu berusaha membuatku bertahan dan terus maju meraih mimpi. Tidak banyak orang seperti Tarra, dan aku menganggapnya dia adalah privilege yang kumiliki―ya, meskipun caranya agak memaksa seperti barusan.
Dan akhirnya, aku memutuskan untuk membuat Wattpad. Menuliskan ulang cerita skenarioku ke dalam bentuk novel. Kemudian mengirimkan naskah terebut ke penerbit. Ternyata menjadi penulis juga sama sulitnya menjadi aktris. Jika menjadi aktris harus casting, maka menjadi penulis harus antre menunggu koreksi editor, dan itu membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk proses penerimaan. Bahkan ada juga ketika naskah ditolak, penulis tidak mendapatkan kabar apa pun dari penerbit. Dan hal kesamaan lainnya adalah; privilege tetap ada di mana-mana. Si cantik, kaya, dan terkenal bisa mendapatkan semuanya dengan mudah―tanpa harus berusaha. Mereka akan ditawari langsung tanpa harus casting atau mengirimkan naskah ke banyak penerbit. Memang terdengar tidak adil, tetapi hal seperti itu banyak terjadi di mana-mana.
Aku percaya satu hal, bahwa di setiap usaha pasti akan berbuah hasil―cepat atau lambat. Yang menjadi milikku―pasti akan dipertemukan dengan jalan yang tepat. Dan kalau pun menjadi aktris atau penulis bukanlah takdirku, maka aku harus berusaha merelakannya, tetapi bukan berarti melupakannya begitu saja. Setidaknya aku pernah berusaha dan bahagia dengan mimpi itu. Dan ketika waktu sudah menyembuhkan semua kesedihanku, barulah aku memilih jalan yang lain―yang mungkin saja akan membawaku pada nasib yang lebih baik.
Sejujurnya aku sudah muak dengan semua kalimat penolakan. Berbagai cara dari ikut kompetisi, promosi, sampai spam cerita sudah kulakukan. Tapi ternyata semua cara tersebut belum cukup untuk membuat karyaku bisa diterima. Rasanya gerah, lelah, hingga menyerah. Semua kegagalan yang kuterima telah mengusik kepalaku di sepanjang malam. Tidur menjadi berantakan. Bekerja menjadi tak fokus. Diri semakin tak terurus.
Sampai suatu ketika atasanku menegur kelalaianku dalam menginput data. Aku mengaku salah dan pantas dimarahi karena sejujurnya aku juga mengerjakan deadline lain untuk kompetisi menulis skenario yang batas pengumpulannya hari ini. Aku dimarahi dan dimaki-maki di depan semua staf. Sekuat tenaga aku mencubit pahaku agar tidak mengeluarkan air mata di depan banyak orang. Tapi saat atasanku tahu tentang alasan cutiku―yang mungkin saja berita ini cepat menyebar dari Tarra yang terlalu berambisi menjadikanku seorang aktris papan atas―membuat dia menatapku dengan remeh. Atasanku menertawakan mimpiku, meragukan kemampuanku, menghina fisik dan asalku berada, sampai mengutukku bahwa orang seperti diriku tidak pantas menjadi aktris. Sejak ucapan tajam itu terucap, aku tak dapat lagi menahan air mata, aku berbalik badan, dan berlari menuju toilet, menangis sejadi-jadinya.
Sekuat apa pun kamu berjuang untuk meraih sesuatu, jika perjuangan itu tidak menghasilkan nilai, maka semua usahamu akan dianggap hal yang sia-sia, buang-buang waktu, tenaga, sekadar main-main, atau mereka akan menyebutmu dengan sebutan malas hingga bodoh. Mereka tidak akan pernah peduli seberapa banyak kamu berusaha, menangis, jatuh, bangkit, terbentur, luka. Mereka hanya peduli pada hasil yang kamu pernah ucapkan.
Aku memang sudah terbiasa dan kebal dengan ucapan seperti atasanku. Hinaan adalah makanan sehari-hariku. Namun, ketika aku sedang terpuruk, meragukan kemampuan diri, merasa hidup bagaikan buntu tak ada jalan keluar, aku pasti frustasi dengan semua itu. Lalu ada orang lain datang dengan entengnya mengatakan hal sekejam itu, rasanya seperti mendapatkan tamparan dua kali; dari diriku dan orang yang merendahkanku. Aku semakin rendah diri. Apakah aku tidak boleh meraih mimpi? Apakah mimpiku sehina itu hingga diriku tidak bisa mendapatkannya? Apa yang membuat mereka bisa sekejam itu dalam berucap? Dan apakah mimpiku menyakiti mereka?
Meraih mimpi itu seperti berjudi. Tidak semua orang bisa mendapatkannya. Rintangan dan perjuangannya berat. Ada hal yang harus dikorbankan. Lantas mengapa masih banyak orang yang menghakimi dan menyepelekan mimpi seseorang? Kalau saja dari awal mereka mengenalku sebagai anak dari Karsa Aranantyo, mungkin aku tidak akan dihina tajam seperti itu. Tapi, mereka mengenalku sebagai anak dari desa antah berantah yang naif dalam mengejar mimpi yang tinggi. Makanya mereka menertawakan latar belakangku yang terlihat mustahil untuk diraih.
Aku keluar toilet dengan sedikit perasaan lega setelah menangis. Tarra memelukku dan memberikanku Americano. "Nggak usah didengerin bos jahanam itu. Dia nggak tahu semua perjuangan lo. Pokoknya jangan menyerah dan jangan menganggap diri lo rendah. Lo adalah orang keren yang pernah gue temui, Bit. Tenang, semua usaha lo suatu saat nanti pasti akan berbuah hasil. Lo akan memetik kesuksesan lo dari hasil jerih payah lo."
KAMU SEDANG MEMBACA
Star On the Stage
Mystery / ThrillerTidak semua orang bisa meraih mimpinya dengan mudah. Bitta, seorang gadis desa bercita-cita menjadi aktris papan atas agar bisa bertemu dengan Karsa Aranantyo, bapak kandungnya yang selama ini telah menelantarkannya sejak kecil. Bitta memulai karier...
