"Tar, gue nggak mimpi kan?" ucapku menatap layar laptop. Daftar nama pemenang kompetisi menulis skenario. Tertulis namaku menjadi pemenang utama: Bitta Proxima – Benalu Tanpa Malu.
Tarra memuncratkan air mineralnya hingga mengenai lengan bajuku. Dia juga sama terkejutnya melihat namaku menjadi daftar pemenang. Dan lebih tepatnya, sorot matanya lebih fokus kepada angka 50 juta. Tarra memelukku dan berjingkrak-jingkrak. "Gila, traktir gue boba sebanyak-banyaknya. Beliin baju gue. Bayar semua tagihan dan kosan kita pakai duit lo ya!" ucapnya bersemangat.
Aku menempeleng kepalanya dan cekikikan. Lanjut memeluknya dengan erat hingga menangis. "Makasih ya, Tar. Gue banyak berhutang budi sama lo. Kalau bukan karena lo, mungkin gue nggak akan bisa seperti ini, mungkin gue akan menyerah, dan mengubur mimpi gue dengan pulang ke Martapura. Tar, lo seperti peri yang diturunkan Tuhan buat gue."
Tarra mengetuk kepalaku. "Jangan hiperbolis, ah! Gue paling nggak bisa dipuji begini. Jadi makin nangis." Dia mengelap air matanya dan menatapku riang. "Bit, gue ikut senang menjadi saksi perjuangan karier lo. Tapi lo harus ingat, perjalanan lo masih sangat panjang setelah ini. Jangan mudah terlena pada satu momen kemenangan. Orang cuma bisa mengingat itu sementara. Dan lo harus bisa menciptakan kemenangan lainnya untuk diri lo sendiri. Jatuh bangun itu adalah hal biasa. Jadi jangan menyerah. Dan paling penting jangan lupakan orang-orang yang ada di sekitar lo setelah lo menjadi sukses."
Aku mengangguk cepat dan mengelap air mataku. "Kalau gitu, mari kita rayakan momen kemenangan ini!"
Aku mengajak Tarra makan di restoran all you can eat sesuai pesanannya. Dia bilang ingin perbaikan gizi dengan banyak makan daging sepuasnya. Di saat aku sedang mengambil tambahan sayuran dan jamur, tiba-tiba terdengar suara pria memanggilku dengan lantang. "Kak, tunggu." Awalnya aku tak tanggap. Tapi setelah aku mendengar suaranya yang semakin dekat dan tak asing di telinga, lalu dia menyebut ciri-ciri pakaianku. "Kakak yang pakai baju loreng-loreng dan pakai tas biru." Barulah aku menoleh ke belakang.
Aku dan pria itu saling terkejut. Pria jangkung, rambut berpomade, berlapis kaos hitam polos, memakai celana jins robek, serta style yang bertabrakan adalah bentuk dari sahabatku yang sudah lama sekali tak pernah kujumpa.
"Bintang!" seru pria itu. Ya, seharusnya aku sudah bisa menebak melalui suaranya. Logat Palembangnya tidak pernah hilang dari seorang Miki Hendra Saputra. "Ini aku Miki. Kau lupa sama aku?"
Sudah dua tahun lamanya aku memutus hubungan dengan orang-orang yang ada di kampung halamanku. Termasuk Miki. Aku tahu ini terdengar jahat. Miki selalu ada untukku―sama seperti Tarra, tetapi aku tidak mau kehadirannya kali ini malah membuatku goyah untuk kembali ke Martapura. Aku masih ingin berada di sini karena mimpiku baru saja dimulai. Sejujurnya aku lebih penasaran apa yang membuatnya bisa berada di Jakarta, serta penampilan drastisnya yang membuatku menjadi pangling. Lantas harus apa aku sekarang?
Aku menggeleng berpura-pura menjadi orang asli Jakarta. "Sori, gue bukan Bin―"
"Bit, Bitta, cepatlah!" Tarra meneriakiku untuk segera duduk.
"Oh, maaf, saya kira Kakak itu sahabat saya, soalnya mirip banget," ujar Miki dengan raut wajah kecewa. Kemudian memberikan dompetku. Saat aku menjulurkan tangan hendak menerima, tiba-tiba Miki menarik kembali dompetku yang dia bawa. Dengan celamitannya dia membuka dompetku dengan kasar dan membaca identitasku. "Benar kan. Kau ini Bintang. Tahi lalat di jari manis kau nggak bakal bisa menipuku." Wajahnya berubah kesal. "Kenapa bohong sih, Bin?"
Sial. Miki lebih pintar dari dsugaanku. "Balikin dompet gue," ujarku maksa.
"Jawab dulu kenapa bohong," suaranya meninggi membuat semua orang yang berlalu lalang melihat kami secara jelas.
Aku membungkam mulutnya dengan jemariku dan mengajaknya pergi ke mejaku. Tarra bingung melihatku membawa orang asing ke meja kami. Lalu aku mengenalkan Tarra kepada Miki dan begitu pun sebaliknya. Aku berterus terang kepada Miki tentang semuanya; kenekatanku, pekerjaanku, tempat tinggalku, casting yang sudah banyak kujalani, hingga kemenanganku menjadi penulis skenario. Miki mendengarnya dengan fokus dan sabar. Matanya sempat berkaca-kaca tetapi cepat dia lap dengan cepat. Miki tidak mengomel, dia banyak mengkhawatirkanku dan mencariku lewat media sosial. Dia menceritakan bagaimana kondisi Mamak setelah aku kabar dari rumah. Mamak sempat drop dilarikan ke rumah sakit, badannya kurus, dan mengunci dirinya rapat-rapat di rumah. Mamak tidak marah dengan perbuatanku, Mamak justru menyesal karena tidak mengizinkanku sejak awal. Mamak sangat berharap aku bisa pulang menemuinya atau sekadar menghubunginya.
Air mataku berderai. Sudah dua tahun lamanya aku tidak mendengar suara Mamak. Aku sangat merindukan dekapan dan suaranya. Miki menunjukkan ponselnya kepadaku. "Telepon Mamak dulu, Bin. Walaupun kau masih ingin tinggal di sini, setidaknya Mamakmu tahu bahwa kau baik-baik saja. Orangtua cuma butuh kabar dari anaknya."
Tanganku gemetar saat mendengar dering panggilan suara. Butuh satu ketukan dering, telepon pun terangkat. "Halo, Miki. Tumben kau telepon. Ada apa?"
Aku masih diam, tapi air mataku sudah berjatuhan tanpa henti. Tangan dan bibirku gemetar secara kompak setelah sekian lama tak mendengar suara Mamak. Miki menganggukkan kepalanya menyuruhku untuk bersuara. "Halo, Mak. Ini Bintang," suaraku pecah. "Maafin Bintang ya, Mak, baru bisa menghubungi Mamak sekarang."
Suara Mamak semakin bergetar, nadanya terombang-ambing haru. "Ya Allah, anakku, Bintang. Ini beneran kamu, Bintang?" Mamak menangis terkejut. Dilanjutkan dengan kami melakukan panggilan video untuk melepas rasa rindu. Kami saling menangisi satu sama lain. Mamak terlihat semakin menua, kantung matanya menghitam, dan ubannya kian beranak pinak. Mamak cepat-cepat mengelap air matanya. "Anakku semakin cantik. Bintang tinggal di mana? Bintang bahagia sama pekerjaannya? Biutang nggak lupa makan dan salat, kan?" Pertanyaan Mamak semakin panjang seperti wawancara.
"Aku tinggal di Jakarta Selatan, Mak. Aku di sini ngekos sama teman kantor, namanya Tarra." Aku menunjukkan wajah Tarra di layar ponsel. "Aku baik-baik aja, Mak. Aku makan dan salat dengan teratur. Nenek gimana kabarnya?"
"Nenekmu baik, Bin. Sekarang lagi di pasar," ujar Mamak yang sekarang intonasi suaranya sudah kembali normal. "Kapan Bintang pulang ke rumah? Kami semua rindu sama Bintang."
Aku membalas pertanyaan Mamak dengan senyuman. "Aku masih betah di sini, Mak. Nanti aku pulang ya, Mak, kalau dapat cuti. Yang penting minta doanya agar semua berjalan lancar. Aku kemarin habis menang kompetisi, Mak."
"Kompetisi apa, Nak?"
"Menulis skenario, Mak," jawabku cepat.
Mamak tidak merespons cepat. Suasana mendadak hening dan saling menunggu suara. Akhirnya aku pun mengalah. "Maaf ya, Mak. Aku masih ingin terjun ke dunia entertain. Aku suka dengan pekerjaan ini karena aku bisa menemukan diriku yang sesungguhnya. Butuh perjalanan panjang untuk bisa sampai di titik ini sebagai penulis. Semoga Mamak bisa menerima dan nggak marah lagi dengan keputusanku."
Sebelum aku menutup telepon, Mamak menjawab, "Jaga baik-baik dirimu di sana, Bintang."
KAMU SEDANG MEMBACA
Star On the Stage
Mystery / ThrillerTidak semua orang bisa meraih mimpinya dengan mudah. Bitta, seorang gadis desa bercita-cita menjadi aktris papan atas agar bisa bertemu dengan Karsa Aranantyo, bapak kandungnya yang selama ini telah menelantarkannya sejak kecil. Bitta memulai karier...
