Menjadi YouTubers itu tidak mudah. Harus pintar cari ide konten, harus bisa scripting, harus bisa editing, dan semuanya harus dilakukan sendiri bagi YouTubers pemula sepertiku. Awalnya aku dan Tarra menikmati konten yang kami buat; Bittara Channel namanya.
Namun masalahnya menjadi orang penuh konsistensi itu sulit sekali. Apalagi tidak didorong oleh motivasi dan hasil yang signifikan. Semakin hari viewers YouTube kami semakin menurun. Belum lagi harus membagi waktu antara bekerja dan ngonten, semua rasanya melelahkan jika harus dikerjakan secara berbarengan.
Tarra menyerah dari dunia konten dan kemudian dia merekomendasikanku info casting dari teman lamanya yang pernah menjadi penonton musik bayaran. Aku diberikan nomor agensi acara TV yang katanya pernah menjadi pemeran dalam acara reality show.
Awalnya aku sempat ragu karena acara ini termasuk setting-an. Tapi kalau dari sini bisa membawaku pada karier yang lebih besar lagi, mengapa tak kucoba saja? Lantas aku menghubungi pihak agensi dan memberikan close up foto terbaruku kepadanya. Selang beberapa jam aku di telepon oleh pihak agensi dan mereka langsung memberikanku kontrak kerja tanpa melakukan casting terlebih dahulu.
Aku terpaksa cuti untuk melakukan proses syuting acara Kita Putus Aja. Di situ aku berperan sebagai Sarmila yang curiga terhadap pacarnya yang mulai berubah cuek dan menghilang. Dari pagi hingga malam―aku dan para host acara―membuntuti kegiatan Romi (pacar fiktifku) untuk menyelediki semua sifat anehnya. Tidak perlu banyak menghafal script, aku disuruh berimprovisasi adegan ketika melihat Romi selingkuh. Tidak sulit bagiku untuk berakting marah di depan Romi, dan aku melakukannya dengan sangat luwes sekali take.
Setelah proses syuting berakhir, anehnya, aku tidak merasakan bahagia, melainkan merasa sedih. Secara tidak langsung aku membodohi masyarakat tentang acara ini, acara yang kukira adalah realita sungguhan, di mana semua orang akan merasa simpati terhadap tokoh. Tapi ternyata, dunia layar kaca sejatinya penuh intrik muslihat. Semua membutuhkan keuntungan untuk kekayaan, meskipun harus membohongi banyak pihak.
Setelah aku menerima honor pertamaku dari berakting, agensi menawariku casting-casting berikutnya. Masih tentang reality show; yakni acara pencarian jodoh. Mereka bilang badan dan wajahku sangat mendukung untuk mengisi acara tersebut, yang nantinya akan ada pria yang memilih satu wanita di antara 30 pilihan yang ada. Aku tahu ini perkerjaan mudah, tetapi entah mengapa aku tidak mau melanjutkannya lagi.
Lantas aku meminta info casting untuk film, sinetron, FTV, atau TVC kepada agensi. Anehnya, mereka menatapku dengan sinis dan tak suka atas permintaanku yang terkesan melunjak. Mereka berkata, "Kalau mau jadi aktor besar minimal harus ambil peran kecil dulu seperti ini. Jangan pilih-pilih peran kalau kamu belum punya nama besar atau backing-an kuat. Ya, kecuali kalau kamu mau dipake sama orang film, mungkin bisa aja kamu pilih-pilih peran sepuasnya," ujar mereka menertawai dan menatapku dengan centil.
Percayalah, dunia di balik layar itu tidak seramah apa yang kita kira. Bertemu dengan pria hidung belang, psikopat, sensitif, ambisius, pemarah, hingga perferksionis akan sering ditemui di sini (ya meskipun di dunia kerja lainnya juga sama adanya). Tapi, istilah tidak sopan seperti ini bagi mereka adalah ucapan sehari-hari. Aku tahu hal ini dari Tarra. Dia sudah mengenal sisi gelap dunia entertain sejak menjadi penonton bayaran. Salah satu kenalannya pernah mengalami pelecehan seksual dengan iming-iming akan dijadikan artis besar. Bukan hanya wanita saja, pria pun pernah mengalami hal serupa, baik sesama jenis atau pun semacam ani-ani. Makanya, Tarra berpesan kepadaku untuk selalu menjaga diri. Jangan mudah menerima tawaran dari agensi bodong.
Sebelum aku pulang dari kantor agensi, salah satu asisten yang pernah kutolong waktu dia sedang menyortir wardrobe―namanya Kak Patrecia―memanggilku lirih sambil berlari kemayu. Matanya lirik kanan kiri mengawasi sekitar seolah tidak boleh ada yang tahu keberadaannya sedang bersamaku. Dia memberikanku sebuah kartu nama berwarna putih. Agensi khususu TVC. "Hubungi aja nomornya. Biasanya mereka suka cari talent untuk iklan. Jangan bilang siapa-siapa ya. Good luck, Bitce!" Begitu katanya dan meninggalkanku cepat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Star On the Stage
Misterio / SuspensoTidak semua orang bisa meraih mimpinya dengan mudah. Bitta, seorang gadis desa bercita-cita menjadi aktris papan atas agar bisa bertemu dengan Karsa Aranantyo, bapak kandungnya yang selama ini telah menelantarkannya sejak kecil. Bitta memulai karier...
