20

19 5 0
                                        

Aku kembali ke Jakarta.

Saking buru-burunya aku tak sengaja menabrak bahu pria paruh baya berjaket kulit hitam. Dia tak menggubrisku dan sibuk mencari kopernya. Pertemuan kami pun terjadi dua kali tanpa dia ketahui. Jelas saja karena aku mengenakan hoodie, masker, dan topi yang tidak membuat orang mengenal siapa diriku.

Namun hal yang tidak kusangka terjadi adalah aku secara tak sengaja menguping pembicaraannya di telepon. Dia menyebutkan namaku dengan ciri-ciri yang sama seperti aku.

"Saya minta kenaikan upah dua kali lipat. Bapak lihat saja di internet. Berita mengenai Bitta Proxima sudah mencapai peringkat atas," suara pria paruh baya itu lewat telepon.

Aku terpaksa menunda memesan taksi demi mengamati siapa pria tua ini dan siapa orang yang diteleponnya. Aku memasang telinga rapat-rapat. Berusaha menutupi diriku sebaik mungkin agar tak dicurigainya.

"Loh, tidak bisa begitu, Pak Karsa. Saya sudah susah-susah mencari celah kesalahan Bitta dari segala sumber. Dia termasuk orang yang tidak punya jejak masalah di mana pun. Dan saya orang pertama yang mencetuskan ulasan mengenai karya Benalu Tanpa Malu. Kalau bukan karena filmnya, dia tidak mungkin menjadi trending," ujarnya menggertak.

Pernah ingat pribahasa tentang, 'sepintar-pintarnya menutupi bangkai, baunya tetap akan tercium juga'? Seperti itulah cara Semesta mengungkapkan kebenarannya―melalui apa pun dan tanpa disangka-sangka.

Aku sudah bisa menyimpulkan siapa dalang dibalik semua kasus ini. Bapak dan keluarganya sengaja menjatuhkanku melalui karyaku untuk membuatku terpuruk. Tapi apa sebenarnya motifnya? Apa mereka takut aku akan membongkar ke media?

Tiba-tiba aku mendapatkan panggilan dari nomor tak dikenal. Panggilan yang berlangsung selama tiga kali tanpa henti membuatku penasaran. Diangkatlah telepon itu dengan keheningan. Terdengar suara wanita lirih dengan napas tersengal. Dia adalah Titin, asisten rumah tangga yang tinggal di rumah Nala, yang membantuku saat aku pingsan.

"Maaf kalau saya lancang. Saya dapat nomor Mbak Bitta dari kartu nama buku yang Mbak Bitta pernah jatuhkan saat pingsan. Mbak, saya boleh pinjam uang dua ratus ribu? Atau saya kerja apa saja di rumah Mbak untuk biaya saya pulang ke kampung?"

Alisku bertaut. "Memangnya ada apa, Tin?"

"Saya kabur dari rumah Ibu Nala."

Aku merasa was-was. "Kamu habis melakukan kejahatan di sana?"

"Nggak, Mbak. Saya kabur untuk menyelamatkan diri. Saya nggak mau dijual Ibu Nala―"

"Dijual?" ucapku mengangkat alis.

"Iya, Mbak, saya takut," suaranya pecah menangis.

"Tin, kamu di mana sekarang? Saya akan jemput kamu."

"Saya di terminal Pulo Gadung, Mbak."

Dengan cepat aku mencari Titin untuk menenangkannya, sekaligus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kupikir Nala akan berubah setelah kuancam dengan kasus masa lalunya. Ternyata tidak sama sekali. Ucapan Ibu Suri tentang Nala adalah benar. Nala memang wanita yang picik dan hanya mementingkan dirinya sendiri.

Aku menemukan Titin di ruas jalan dekat arah masuk terminal dan menyuruhnya untuk segera naik ke mobil.

"Apa yang sebenarnya terjadi, Tin?"

Titin menangis dengan pilu. "Saya takut, Mbak. Saya nggak mau dijual ke lelaki hidung belang. Kemarin saya menguping pembicaraan Bu Nala dan Bu Mumun. Mereka bicara tentang hotel dan menyebut nama saya. Lalu saya cerita ke Teh Uli, senior jahit di tempat Bu Nala, dan katanya saya adalah target selanjutnya. Saya akan dijadikan wanita malam oleh lelaki pilihan Bu Nala."

"Tunggu, kenapa kamu kabur sendiri? Teh Uli bagaimana?"

"Dia sudah saya ajak untuk kabur dengan saya. Tapi dia memilih tinggal. Dia nggak punya pekerjaan lain jika keluar dari rumah Bu Nala."

"Memang apa yang diiming-imingkan Nala hingga Teh Uli nggak mau kabur?"

"Setahu saya Bu Nala yang membiayai perawatan rumah sakit adiknya yang terkena kanker otak. Teh Uli adalah anak yatim piatu."

"Sudah lama Teh Uli bekerja di sana?"

"Sudah lama sekali, Mbak Bitta."

"Dan kamu sudah berapa lama bekerja dengan Bu Nala?" tanyaku.

"Saya pegawai baru, Mbak. Dua minggu lalu dari pertemuan kita. Saya ini bukan asisten rumah tangganya Bu Nala, tetapi saya penjahit yang bekerja di rumahnya."

"Bagaimana kamu bisa mengenal keluarga itu?"

"Saya pemenang kompetisi desain kebaya yang diselenggarakan Bu Nala. Beliau suka dengan kebaya buatan saya dan mengajak saya untuk tinggal di Jakarta. Bu Nala mengiming-imingi saya sebuah kesempatan besar untuk bisa membuat brand saya sendiri. Tetapi ketika saya pindah ke Jakarta, saya malah dipekerjakan seperti buruh ilegal. Kerja tak kenal waktu, upah saya hanya dibayar 300 ribu, dan parahnya lagi saya nggak mendapatkan bayaran atas desain kebaya buatan saya yang sekarang menjadi koleksinya. Saya sempat protes dan minta kompensasi, namun Bu Nala menolak usulan saya. Setelah saya gajian, saya sudah bilang mau pulang ke kampung, tetapi Bu Nala mengiming-iming saya lagi dengan janjinya yang dulu. Saya tetap mau pulang. Sampai akhirnya Bu Nala menawari saya bekerja di tempat lain―menjadi LC di tempat karaoke langganannya. Awalnya saya nggak tahu pekerjaan itu seperti apa, sampai akhirnya saya bertanya ke Teh Uli, dan Teh Uli bilang saya adalah target selanjutnya. Maka saya memilih kabur sebelum saya menjadi korban."

Aku menepuk bahunya pelan dan membawanya pergi ke apartemenku. Setidaknya dia bisa merasa tenang di sana.

Titin bisa kujadikan senjata untuk menghancurkan karier Nala. Memang terdengar kejam, tapi bukankah dari awal aku sudah memperingatkannya untuk bertaubat?

Aku menatap secangkir kopi di dapur dengan temaram lampu setengah redup. Berpikir dan mengatur strategi penghancuran. 

Star On the StageTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang