Titin memelukku ketika aku tiba di apartemen asing ini. Kepalaku masih sulit menerima jika aku punya apartemen senyaman ini―milikku sendiri. Aku berusaha mengingat apa saja yang pernah kulakukan di apartemen ini; rak buku, meja kerja, dapur, hingga kamar tidur.
Aku duduk di meja kerjaku, membuka laci, dan mencari apa pun yang bisa ditelusuri. Ditemukanlah sebuah ponsel Android jadul yang masih bisa dinyalakan. Aku disambut oleh wallpaper bergambar pantai di mana aku, Tarra, dan Miki menghabiskan waktu bersama. Benar, berarti mereka adalah orang terpenting dalam hidupku.
Aku membuka aplikasi WhatsApp, berharap akan ada pesan penting berasal dari sana. Tapi ternyata tidak ada hal menarik di dalamnya. Kemudian aku membuka Telegram, di dalamnya ada banyak pesan tak terbaca; dimulai dari grup kelas skenario dan grup project lainnya yang tidak kukenali.
Kubukalah pesan grup kelas skenario itu dan kubaca dari paling atas. Sebuah pesan lama di mana ada beberapa orang menyalahkanku atas kasus plagiarisme karya―dan ada pula yang membelaku bahwa karyaku adalah orisinil. Aku mulai mengerti tentang maksud hutang yang Miki lontarkan kepadaku kala itu.
Lalu aku membaca sebuah pesan lainnya dari sebuah nomor asing. Pesan itu berbunyi; are you okay, Bitta?
Karena aku penasaran, aku mengeklik foto profilnya (yang tidak ada fotonya, tapi setidaknya aku bisa tahu siapa nama pengirimnya), namun yang terjadi tanganku tergelincir dan malah memencet tombol panggilan. Sial. Aku langsung mematikan panggilan tersebut.
Dan sepersekian detik kemudian, nomor itu meneleponku lagi. Aku panik kalang kabut dan meneriaki Titin untuk segera mengangkat teleponnya.
"Halo, Bitta. Kamu baik-baik aja?" suaranya berat dan menggebu.
"Nganu, saya Titin. Maaf kepencet." Aku menyuruh Titin berdialog seperti itu.
"Ini nomor Bitta, kan?" tanyanya lagi yakin.
"E-eh bukan. Ini Titin―Bapak salah orang."
"Astaga! I'm sorry. Saya kira ini nomor Bitta, karena Miki yang kasih nomor ini."
Sebelum panggilan itu ditutup, aku merebut ponselnya dan berkata, "Kamu siapa?"
"Saya Davi."
"Davi siapa? Davika Hoorne? Artis Thailand? But your voice is man."
Terdengar suara tawa di sana. "Davione Bayanaka." Lalu dia melanjutkan ucapannya. "Kenapa telepon, Bitta? Something urgent or what?"
Aku mengetuk jemariku berusaha berpikir. Lelaki ini―meskipun asing, namun entah mengapa aku merasa dekat dengannya, walau hanya dari suaranya saja. Apakah dia orang yang kukenal dekat juga selain Tarra dan Miki? Dia juga mengenal Miki, kan?
"Bitta, are you there? Do you need something to tell? Atau kita bertemu aja?"
"Boleh. Kita bertemu di Steak House aja."
***
Davi menepati janjinya. Dia datang sepuluh menit lebih awal dari perkiraanku. Maka dari itu aku tidak pusing mencari sosoknya yang mana.
Setelah aku mengamati wajah dan postur tubuhnya, aku langsung jatuh cinta, dia memang tipeku, dan pantas saja aku tidak punya keraguan untuk bertemu dengannya.
Davi menatapku cukup lama setelah kami memesan makan. Aku sampai ke-geeran dan berpikir bahwa kami―sebelum aku kecelakaan―adalah pacaran, atau mungkin mantan, atau bisa jadi gebetan yang belum sempat mengutarakan perasaan.
"Kenapa pengin ketemu? Kangen ya? Atau mau nagih hutang?" tanyaku blak-blakkan dengan wajah datar. Biarkan saja, aku perlu tahu apa sebenarnya hubunganku dengan lelaki tampan ini. Kalau dia jawab kangen berarti kami punya hubungan spesial. Kalau dia nagih hutang berarti tidak ada hubungan apa-apa di antara kami.
KAMU SEDANG MEMBACA
Star On the Stage
Misterio / SuspensoTidak semua orang bisa meraih mimpinya dengan mudah. Bitta, seorang gadis desa bercita-cita menjadi aktris papan atas agar bisa bertemu dengan Karsa Aranantyo, bapak kandungnya yang selama ini telah menelantarkannya sejak kecil. Bitta memulai karier...
