28

4 1 0
                                        

Aku menangis di sepanjang jalan pulang. Merasakan bahwa hidup ini tidak pernah adil. Mengapa orang yang bersungguh-sungguh sulit mendapatkan apa yang dia harapkan―sementara mereka yang tidak ada usahanya justru bisa mendapatkannya dengan sangat mudah? Mengapa mereka menyia-nyiakan dan meremehkan apa yang sudah mereka dapatkan? Apa karena terasa mudah didapatkan, makanya mereka begitu? Dasar tidak bersyukur!

"Gimana, Bit? Berhasil nggak?" tanya Tarra penasaran ketika aku sampai di kosan dengan wajah pucat seperti mayat.

Aku menimpuknya dengan tas yang kubawa. "Berhasil apaan! Lo nggak lihat, bibir gue sampai biru begini, badan gue sampai bergetar begini."

Tarra tertawa geli, dan dia cukup peka dengan membuatkanku teh hangat. "Udah, namanya juga pengalaman. Nikmati aja prosesnya."

Aku menghela napas panjang dan merebahkan tubuhku di atas ranjang. Lelah dan tiba-tiba saja aku menangis. Apa benar jika kegagalan ini tidak berhasil tanpa restu Mamak? Dalam kondisi seperti ini aku rindu Mamak. Terbesit di kepalaku untuk pulang kampung dan kembali melanjutkan hidup seperti apa yang Mamak harapkan. Namun, Tarra melarangku. Dia tahu aku sudah melangkah sejauh ini.

"Lagi pula Mamak juga nggak suka kalau gue jadi aktris," tuturku lesu.

"Apa alasannya? Di mana-mana namanya orangtua itu pasti bangga kalau anaknya berprestasi dan menghasilkan banyak uang," timpalnya tak mau kalah.

"Karena Bapak."

"Kenapa Bapak lo?"

Aku menghela napas kasar. Sudah lama aku merahasiakan ini dari Tarra. Setidaknya dia bisa menjaga rahasia ini. "Bapak gue Karsa Aranantyo."

Tarra langsung menyemburkan air mineralnya tepat ke wajahku, dia tertawa lebar menganggapku hanya melantur, namun saat aku memasang wajah serius, tawanya langsung pudar. "Jangan bercanda lah."

"Serius." Aku bangkit dari kasur dan mengambil album foto pernikahan Mamak dan Bapak yang kusimpan di dalam lemari.

Tarra menganga lebar setelah melihat bukti foto Bapak dan Mamak. Dia masih tidak percaya akan identitas diriku. Dia mulai cocoklogi mengenai ambisiku ingin menjadi aktris, mengapa aku nekat ke Jakarta, dan mengapa aku suka menonton acara TV yang bintang tamunya adalah keluarga baru Bapak. Sampai di mana aku bercerita mengenai awal kisah hidupku, bagaimana Bapak menelantarkanku dan Mamak, di situlah Tarra menangis terisak-isak. Dia memelukku erat dan mulutnya terus mengumpat sifat Bapak yang bertolak belakang dari apa yang ditampilkannya di televisi.

"Kalau gue jadi lo, gue bakal viralin di sosmed tentang siapa Bokap gue. Biar tahu rasa si Karsa udah menelantarkan anak kandung seenaknya. Daripada capek-capek pembuktian diri dengan casting jadi artis, mending lo akuin semuanya di depan media. Nanti lo juga bakal jadi artis, Bit. Mau gue bantu viralin? Kayaknya gue punya kontak reporter gosip, deh," ucap Tarra menawarkan.

Aku menggeleng. Lebih tepatnya tidak mau terkenal karena sebuah kontroversi.

Tarra tak habis ide. Dia membongkar rak bukuku dan mengeluarkan secarik kertas yang tersimpan di sana, kemudia melemparkannya ke arahku.

"Kenapa lo nggak coba menulis skenario lagi? Sama kayak waktu lo memenangkan banyak penghargaan teater lo itu. Mending lo bangun, cuci muka, dan buat cerita lo." Tarra menunjukkan laman Instagramnya. "Faltron lagi buka kompetisi menulis skenario. Untuk umum dengan tema bebas. Pemenangnya akan dapat 50 juta dan naskahnya akan di film-kan. Ini bakal jadi kesempatan emas buat lo. Kalau lo nggak bisa jadi artis, setidaknya lo bisa jadi penulis skenario," kedua mata Tarra berbinar yakin.

Tarra benar. Jika aku tidak ditakdirkan menjadi aktris, maka aku bisa memilih takdir lain sebagai penulis skenario. Toh, semua itu masih dalam lingkup yang sama. Aku akan menjadi otak dalam sebuah film dan menjadi saraf dari mereka yang melakoni karyaku.

Aku menelan ludah berat. Sudah lama sekali aku tidak menulis skenario. Aku rindu masa-masa di mana aku riset, membayangkan situasi, mengatur plot, dan menyusun babak per babak hingga menuju ending. Aku masih teringat jelas ucapan pedas Kak Sayid bersama Kak Nirmala tentang kualitas aktingku yang buruk―tetapi kualitas menulisku sangat berpotensial. Aku memejamkan kedua mataku dan menarik napas dalam. Harusnya aku menyadari sejak awal kalau akting memang bukan kemampuanku. Haruskah sekarang aku putar haluan menjadi penulis skenario lagi dan meninggalkan mimpi sebagai aktris film?

Star On the StageTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang