Sebelum aku keluar dari rumah Bapak, aku sempat celamitan memasuki ruang kerjanya. Entah naluri macam apa yang merasuki tubuhku, aku nekat membuka isi lemari kerjanya, dan menemukan amplop cokelat yang berisi banyak foto. Saking takut ketahuan, aku hanya bisa memotret apa saja yang ada di dalam foto itu secara buru-buru, lalu keluar bak maling yang hampir ketangkap basah.
Ketika aku tiba di apartemen, aku langsung mengamati foto-foto yang kujepret tadi; banyak foto yang kusebut sebagai foto hiruk pikuk kebakaran, yang entah terjadi di mana, yang kupikir hanyalah sebuah foto kompetisi atau pun properti syuting. Namun setelah kuamati secara jelas, ternyata foto itu adalah bentuk rumahku yang termakan oleh si jago merah. Kobaran api yang meluap, asap abu-abu yang gelap tinggi, orang-orang berlari ke sana ke mari, serta pemadam yang sibuk memadamkan, dan di foto terakhir terbidik gambar kecil Mamak sedang mengungsi di rumah Bicik Nuni, Ibu dari Miki. Semua foto itu sudah membuktikan secara nyata bahwa Bapak adalah dalang dari semua permasalahan ini.
Aku menangis, mengurung diri di kamar, dan mungkin semalaman aku lupa bentuk matahari seperti apa. Lalu Titin memanggilku, jemarinya terus menggedor pintu kamarku agar aku mau membuka pintu. Dia memaksaku untuk makan, menunggu sampai aku mau menelan bubur yang sudah dimasaknya.
"Mbak, mau sampai kapan terpuruk seperti ini? Mbak harus bangkit. Saya akan bantu Mbak Bitta bagaimanapun caranya," ucapnya meyakinkanku. "Mbak belum tahu kan ruangan itu?" Titin menunjuk sebuah ruangan kosong yang ada di samping kamarku.
"Gudang maksudmu?" tanyaku yang tidak tertarik.
Titin menggeleng. "Ruang Berpikir. Tempat itu selalu menjadi tempat rahasia Mbak Bitta untuk bekerja."
Aku semakin penasaran dan langsung menuju ruangan gelap itu. Tidak begitu luas, tapi cukup layak dijadikan sebagai ruang kerja. Sekelebat potongan memoriku tiba-tiba muncul. Aku seperti sedang menulis di sebuah papan tulis hingga tengah malam, aku membaca banyak buku tanpa mengenal waktu, aku duduk di bean bag sambil memikirkan alur. Dan tiba-tiba badanku oleng.
"Aku punya papan tulis kan, Tin?" tanyaku.
Titin mengangguk riang dan membuka tirai hitam yang berisi papan tulis raksasa. Tempat di mana inspirasiku menulis datang. Benar, papan tulis adalah mediaku untuk berkarya. Dan masih ada bekas tulisan lamaku yang tersisa: Star On the Stage.
Kepalaku mendadak terasa berdenyut ketika membaca tulisan ini. Hatiku bak tersayat padahal tidak ada yang mencongkelinya. Atau jangan-jangan apakah judul ini adalah naskah yang selama ini aku ciptakan?
Aku mengamati tulisannya dengan mata menyipit-nyipit karena beberapa bagian penting cerita banyak yang sudah terhapus, beberapa lagi banyak yang tercoret, dan di antara lainnya ada yang sesuai dengan kisah hidupku. Aku bisa menyimpulkan bahwa cerita Star On The Stage adalah cerita masa laluku bersama Bapak dan Mamak.
Lantas harus bagaimana aku dengan naskah yang sudah hilang itu? Membuat ulang atau aku harus membuat dengan versi baru?
Kepalaku semakin pening dengan potongan memori yang kian lama kian mendekat. Sekeping kenangan mulai merasuk lagi ke dalam otakku. Mataku terpejam berfokus dan terus mengingat-ingat.
MATCH CUT
2. INT. BITTA'S APARTMENT – DAY [FLASHBACK] 2
Bitta membuka kedua matanya, berjalan keluar dari rumah Bapak setelah menerima pesan, kepalanya terasa berat, vertigonya kambuh, sempat terjatuh, namun ia bangkit lagi. Tapi tiba-tiba ada bayangan gelap muncul dari arah belakang. Seseorang menghantam kepalanya dengan benda berat berbentuk datar persegi.
----------------------------------------------------------------
Author's note:
Gak kerasa ya malam ini sudah memasuki penghujung Ramadhan di tahun 2025. Semoga Ramadhan kita di tahun ini penuh berkah, penuh kebahagiaan, penuh amal baik yang bisa diterima di sisi Allah.
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1446 H. Mohon maaf lahir dan batin, semuanya!
Lots of love,
Elsinna Widy.
KAMU SEDANG MEMBACA
Star On the Stage
Misteri / ThrillerTidak semua orang bisa meraih mimpinya dengan mudah. Bitta, seorang gadis desa bercita-cita menjadi aktris papan atas agar bisa bertemu dengan Karsa Aranantyo, bapak kandungnya yang selama ini telah menelantarkannya sejak kecil. Bitta memulai karier...
