"Bitta, bagaimana persiapan IELTS-nya? Sempurna?" Tanya Nala yang ingin tahu progres belajarku. Mungkin lebih tepatnya ingin aku cepat pindah dari negara ini.
Aku memberikan wajah polos. "Susah, Ibu. Kayaknya saya sudah nggak berminat kuliah di luar negeri. Sejak kejadian gegar otak itu, kemampuan saya dalam menulis semakin menurun. Saya nggak punya ide dan inspirasi untuk menulis." Aku memasang wajah lesu. "Apa saya pulang saja ya ke Martapura? Saya takut merepotkan Ibu dan Bapak kalau saya tinggal di sini. Bukankah akan bahaya kalau sampai media tahu siapa saya?"
Bola mata Nala yang tadinya sayu berubah bulat, secepat itu setelah mendengar kata pulang dari mulutku. Dia mengelus kepalaku dengan lembut. "Kami akan mendukung apa pun keputusanmu, Bitta. Nanti coba Ibu bicarakan dengan Bapakmu dulu ya." Wajahnya langsung berubah sedih. "Padahal Ibu mulai nyaman dan senang ada kamu di rumah ini."
Aku tersenyum kecut.
Dan ketika makan malam tiba, Bapak menanyakan hal yang sama kepadaku untuk memastikan kebenarannya. Di saat aku menjawab iya, Gemmy malah mengguncang-guncangkan badanku seperti anak tantrum yang tidak dibelikan mainan di mal, dia tidak mau aku meninnggalkannya―padahal jelas-jelas sejak aku keluar dari rumah sakit, mereka sudah meninggalkanku sendirian di rumah dan tidak menganggapku ada layaknya keluarga yang nyata.
"Memangnya apa rencanamu setelah pulang?" tanya Bapak yang justru berbeda dari harapanku. Mimik wajahnya seakan sedang berpikir akan tindakkanku. "Apa kamu sudah tidak ingin lagi menjadi penulis skenario?"
Aku mendadak gerah panik. "Kemampuan menulis saya sudah tidak seperti dulu lagi. Makanya saya memilih untuk pulang, sekaligus berusaha mengingat memori yang pernah terlupakan. Saya merasa terbebani tidak bisa mengingat apa pun tentang masa lalu."
Bapak mengepalkan tangannya di atas dagu dan kemudian manggut-manggut. "Baiklah, jika itu maumu, Bintang."
Aku diantar oleh Bapak, Nala, dan Gemmy menuju bandara. Satu mobil bersama keluarga adalah hal yang selalu aku impikan sejak kecil. Membayangkan apa rasanya bisa bernyanyi bersama sambil menunggu kemacetan, ditepuk pelan bahunya ketika perjalanan sudah tiba, makan di rest area ketika menemukan kuliner yang menggiurkan, dan mudik―seumur hidup aku tidak pernah merasakan momen hangat itu. Dan sekarang di mobil ini aku malah menangis, khayalanku tentang mudik lebaran yang selalu tayang di iklan TV, terjadi kepadaku secara nyata. Mungkin bagi Gemmy hal seperti ini adalah biasa, tapi bagiku tidak. Semua kenangan ini adalah hal yang tidak akan pernah mau aku lupakan seumur hidupku. Ternyata pengalaman ini mahal harganya.
Kami tiba di bandara. Nala dan Gemmy memelukku dengan erat penuh sumringah. Ketika pelukan erat itu merenggang, tatapan mereka langsung tertuju kepada Bapak, seolah memberikan gestur yang sama untuknya agar mau memelukku sebagai anaknya. Terlihat raut wajah kikuk dan garang terukir dari wajah Bapak, namun dia menuruti ucapan istrinya, dan kami semua berpelukan.
Terkadang atmosfer sebuah pelukan mampu membuatku bimbang tentang apa yang sebenarnya terjadi. Apakah mereka benar-benar jahat kepadaku atau akulah selama ini yang telah berbuat jahat kepadanya? Ya, kata 'dendam' masih terus teringat di kepalaku, dan itu semua masih belum kutemukan alasannya.
Aku mengelap air mataku dan berusaha netral.
"Kalau kamu masih mau menjadi penulis skenario, Bapak akan usahakan kamu bisa berkarier kembali seperti dulu asalkan kamu tetap diam kepada media tentang siapa dirimu. Jangan pernah libatkan Bapak, Ibu, maupun Gemmy untuk keberhasilanmu. Kamu bisa ingat itu kan, Nak?" tanya Bapak memastikan.
Aku mengangguk paham, namun aku perlu memastikan satu hal. "Waktu sebelum saya pingsan, kira-kira apa yang sedang kita lakukan, Pak?"
Bapak sedikit tercengang. "Waktu itu kita mau makan malam bersama, Nak. Kamu mendatangi Bapak untuk meminta bantuan atas masalah plagiarismemu yang lagi viral."
Alasannya cukup bisa diterima. "Kalau saya mendatangi Bapak, berarti sebelumnya saya punya rumah, kan?"
Gemmy relfleks menyenggol lengan Nala. Dan Nala mendekati dan merangkul bahuku. "Iya, Bitta. Kamu dulu ngekos. Hanya saja waktu kamu lagi terkena skandal, kamu mendatangi rumah kami dengan membawa seluruh barang-barangmu. Kami pun belum tahu apa alasanmu membawa barang-barangmu ke rumah kami. Jadi Ibu menyuruhmu makan siang dulu untuk menenangkanmu dari rasa sedih setelah menangis. Tapi saat kami semua ada di meja makan, tiba-tiba kamu keluar dari rumah, dan kamu terjatuh. Kami semua panik pas kamu pingsan," ujarnya meyakinkan sekali.
"Oh, begitu. Berarti selama di Jakarta saya nggak punya tempat tinggal ya."
Bapak merangkul bahuku lagi. "Betul, Nak. Untuk kali ini jangan buat Bapak khawatir lagi ya, Nak."
Aku mengangguk dan mempersiapkan barang-barangku untuk segera masuk. Jawaban dari mereka sudah sangat jelas untuk dicerna. Mereka tidak tahu apa-apa tentang diriku; terutama tempat tinggalku. Untuk saat ini, diam dan berpura-pura bodoh adalah kemanan untuk melidungi diriku.
Dan ketika mereka keluar dari bandara, di saat itulah aku pulang menuju apartemenku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Star On the Stage
Mystery / ThrillerTidak semua orang bisa meraih mimpinya dengan mudah. Bitta, seorang gadis desa bercita-cita menjadi aktris papan atas agar bisa bertemu dengan Karsa Aranantyo, bapak kandungnya yang selama ini telah menelantarkannya sejak kecil. Bitta memulai karier...
