31

3 0 0
                                        

Aku dan Miki ibarat anak kembar. Kelahiran kami hanya selisih satu jam. Nasib orangtua kami juga sama; berpisah karena keadaan. Jika Bapak meninggalkanku untuk mencari pekerjaannya, lain halnya dengan Bapak Miki yang meninggal karena pekerjaannya. Bapak Miki meninggal karena menyelamatkan lansia saat insiden kebakaran di Palembang. Dari situlah aku merasa senasib dengan Miki. Kami memakai mainan yang sama, makan makanan yang sama, sekolah di tempat yang sama, susah senang kami lalui bersama. Miki adalah kakak bagiku, meskipun dia sangat menyebalkan.

Sejak kecil aku adalah anak yang pendiam, sementara Miki adalah anak yang ceria. Aku selalu dijauhi teman-teman, sementara Miki selalu dikerubungi banyak orang. Jika diibaratkan sebuah baterai, aku adalah sisi negatif dan Miki adalah sisi positif. Miki adalah definisi manusia dengan kalimat; jangan menilai seseorang dari kovernya. Miki sebenarnya manis, tapi wajah manisnya tertutup oleh daki matahari Martapura hingga menjadi dekil dan terlihat tak pernah mandi selama seminggu. Sudah sering kali aku menyuruhnya untuk menggosok dakinya atau sekadar maskeran menggunakan buah-buahan yang ada di kulkas. Tapi Miki selalu mangkir setiap kali wajahnya kuoleskan irisan buah. Wajahnya yang dekil itu membuat orang-orang menganggapnya seperti pencuri, penjambret, atau orang mesum yang mau menghabisi orang di sekitarnya. Padahal dia hanya diam, duduk, dan bernapas.

Namun, untungnya Miki punya kelebihan lain. Dia suka bergaul, asyik dengan siapa saja, tidak mudah tersinggung, solidaritasnya tinggi, bahkan kelebihan lainnya adalah dia anak yang lucu. Siapa pun yang berada di dekatnya pasti akan tertawa, atmosfer yang dibawa Miki selalu membuat orang-orang menanti kehadirannya. Dan semakin lama, kalimat yang tepat untuk menyimpulkan jati dirinya adalah; gak ada lo gak rame. Seperti itulah kesan Miki dimata banyak orang.

Dan setelah melihat perubahan Miki yang sekarang, aku pun dibuat terkejut olehnya. Dia sudah tidak dekil lagi, rambut dan wajahnya mulai terawat, dan dia berubah menjadi dewasa. Aku mendadak pangling dan melihat Miki seperti orang asing, tapi setelah kuamati, dia tetaplah Miki yang kukenal.

Miki tinggal di Jakarta bersama Mangcik-nya. Kebetulan Mangcik-nya sedang merintis usaha otomotif dan mengajak Miki untuk terjun langsung menjadi bagian dari karyawannya. Miki memang terampil untuk urusan reparasi atau servis berbagai macam masalah mesin. Aku pun lega melihat dia bisa bekerja dengan apa yang disenanginya.

Aku senang rasanya bisa bertemu Miki kembali, rasanya seperti memiliki pondasi di tengah bebannya beton yang kupikul, dan perasaan senang itu membuat Tarra curiga kepadaku. Dia mengatakan hal yang sering ditanyakan orang-orang di sekelilingku; "kalian pacaran?"

"Enggak!" bantah kami berdua. "Kita ini saudara."

Wajah Tarra yang tadinya menegang, sekarang menjadi kemerahan penuh makna. Aku menebak sebuah kejanggalan. Apa mungkin Tarra menyukai Miki pada pandangan pertama?

Ketika sampai di rumah, aku langsung sergap bertanya pada Tarra. "Lo suka Miki?"

Tarra mendadak gelagapan dan membuang pandangan matanya dari wajahku. Suaranya galak. "Nggak lah. Tipe gue kayak Afgan."

"Tapi Miki punya lesung pipi juga kayak Afgan," sahutku yang agak mual juga mempromosikan Miki di depan Tarra. "Ya, emang kalah kalau dibandingin Afgan. Tapi kalau lo pacaran sama Miki, gue jamin lo bakal awet muda. Dia bisa bikin lo ketawa terus."

Tarra tersenyum malu. "Emangnya Miki pelawak?"

"Iya. Dia itu moodbooster semua orang." Lalu aku teringat sesuatu dan mengecek ponselku. "Apa coba gue suruh ikutan ajang stand up comedy aja ya?"

Bola mata Tarra berbinar penuh harap. "Coba telepon dan tawarin audisinya."

***

Aku berhasil memaksa Miki untuk ikut audisi stand up comedy. Awalnya dia sempat menolak karena merasa sungkan dengan pamannya. Tapi ternyata, pamannya justru mendukung keras usaha Miki untuk bisa lebih sukses lagi.

Miki menjadi satu di antara ribuan peserta yang mengikuti audisi. Dia menghafal dan bermonolog sendiri dengan buku catatan kecilnya sebagai rangkuman presentasinya. Aku dan Tarra ikut gugup menemaninya selama proses audisi berlangsung. Dan setelah berjam-jam kami menunggu Miki tampil, ternyata dia tidak lolos babak penyisihan. Aku bisa melihat raut kesedihan yang dibalut senyuman manisnya itu.

"Udah, Mik, nggak usah sedih. Kita coba lagi nanti kalau ada kesempatan. Yang penting lo udah berusaha," kata Tarra menghibur Miki.

Miki membalas ucapan Tarra dengan anggukan. "Iya, ambil pengalamannya aja. Bisa ngelihat wajah Raditya Dika dan Om Indro Warkop aja aku udah senang banget." Lalu Miki menatapku kagum. "Jadi gini ya rasanya jadi Bintang pas ditolak casting."

Aku tertawa lepas. "Ditolak udah jadi makanan sehari-hariku, Mik."

"Tarra kenapa nggak mau jadi artis juga kayak Bintang?" tanya Miki kepada Tarra.

Tarra terkesiap. "Ah, gue nggak bakat jadi artis. Lebih enak jadi orang biasa. Bebas ke mana-mana tanpa infotainment. Lagi pula Ibu sama Bapak lebih suka aku jadi PNS atau kerja kantoran daripada jadi artis yang penghasilannya nggak tetap." Lalu Tarra menatap Miki dengan ambisi. "Coba tunjukin dong, materi penampilan lo itu. Gue penasaran."

Miki menjadi salah tingkah. Lebih tepatnya malu di depan kami. Aku pun penasaran dan ikut memaksa Miki untuk menunjukkan penampilannya tadi untuk menjadi bahan koreksi di audisi selanjutnya.

Miki melakukan performanya di depan kami. Meskipun aku dan Tarra tidak paham struktur apa saja serta punch line apa saja untuk memikat audiens agar tertawa, namun yang bisa kusampaikan melalui penampilan Miki barusan, menurutku sangat rapi dan lucu. Miki tahu kapan harus bercerita dan kapan harus melontarkan guyonannya di depan kami. Padahal tema yang diangkat lumayan menarik, bertema masa sekolahnya di mana dia selalu dipanggil si hitam. Seperti kataku waktu itu; "don't judge a book by its cover". Miki punya daya tarik bercerita lewat ekspresi wajahnya yang melas, kadang datar juga, hanya saja keluguannya itu membuat semuya orang bisa tertawa hanya dengan melihatnya melalui satu kedipan mata.

Aku berdoa kepada Semesta, agar semua sahabatku bisa meraih cita-citanya dengan bahagia. Berharap Miki mendapatkan karier terbaiknya, dan Tarra mendapatkan karier sebagai karyawan di perusahaan besar (meskipun ini adalah mimpi orangtuanya). Karena ketika kita masih muda dan bersemangat, mimpi itu akan menjadi siapa kita di masa depan.

Dan sebelum aku tidur, aku mendapat pesan dadakan dari Miki. Dia mengirimkanku sebuah voice note: Bin, barusan Om Indro Warkop ke bengkel aku. Om Indro ingat wajahku dan materi yang kusampaikan tadi. Dia bilang penyampaianku bagus dan lucu. Hanya saja aku terlalu gugup dan bicaranya berantakan. Om Indro menawariku main film bareng komika. Menurutmu gimana, Bin? Aku masih belum pede bersanding sama komika papan atas. Tapi aku mau banget bisa bertemu mereka.

Aku membalas pesannya: kesempatan nggak datang dua kali, Mik. Ikuti aja ke mana arah itu menuju.

Miki membalas lagi: aku rencana mau buat nama panggung yang lucu. Ada saran?

Aku mengetik pesannya: Miki Mouse?

Miki balas lagi: gak lah. Nanti di Wikipedia munculnya gambar tikus bukan wajahku.

Aku cekikikan, benar juga, balas pesannya lagi: Miki Blouse, bagus gak?

Miki memberikan balasan dengan emoji jempol.

Star On the StageTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang