Selama di Jakarta, aku banyak mengikuti kursus bahasa Inggris. Terbiasa hidup di desa membuatku sulit untuk mengubah logat bahasa Palembang menjadi bahasa Inggris. Untungnya, aku punya Gemmy. Dia membantuku banyak menghafal kosa kata dan membantuku melafalkan pronounciation yang tepat.
Aku mulai terbiasa dan betah tinggal di rumah Bapak. Nala juga memperlakukanku seperti anaknya sendiri. Dia mengajariku bagaimana caranya memotong kain hingga menjahit. Aku memang tidak ahli untuk urusan menjahit, tetapi aku selalu membantunya menjadi manekin berjalan untuk persiapan koleksi terbarunya.
Meskipun aku bahagia tinggal bersama Bapak, nyatanya aku kerap mengalami kebosanan tinggal di rumah yang sebesar ini. Aku sering sendirian di rumah―ya, meskipun ada banyak ART juga, tetapi yang kukenal hanya satu orang, namanya Uli, dia cukup pendiam, dan setiap kali aku berusaha membaur dengannya, dia menjauh.
Akhir-akhir ini Bapak sibuk keluar kota untuk urusan bisnis. Nala juga ada kegiatan di luar kota untuk mengisi seminar motivasi. Dan Gemmy, dia sibuk mempersiapkan film terbarunya.
Ya, masa sakit kepalaku berangsur memudar. Sudah seharusnya aku beraktivitas untuk memulai kegiatanku seperti sedia kala. Namun terkadang aku bersedih. Aku tidak punya ide untuk menulis―juga aku tidak tahu harus memulainya dari mana. Laptop-ku sempat rusak dan baru saja diperbaiki. Semua file kosong. Artikel tentang diriku di masa lalu tidak banyak membantu. Dan bodohnya, aku lupa semua kata sandi media sosialku sejak ponselku hilang. Bagaimana aku bisa menulis jika aku sendiri lupa dengan karyaku sebelumnya.
Gemmy bilang film terbaruku yang diperankan olehnya ada di Netflix. Aku sudah menonton lima kali film Cita dan Kutukan. Tapi tetap saja, ketika aku berhadapan dengan Final Draft, semua akan terasa hampa seperti layar―alias blank.
Lantas aku pergi ke bioskop untuk mencari inspirasi. Barangkali dengan menonton film akan membuatku mendapatkan ide baru. Ketika aku berada di kasir pembayaran, tiba-tiba lenganku ditarik seseorang―wanita berambut pirang―yang sepertinya mengenalku. Memori ingatanku masih belum sepenuhnya pulih, namun ketika aku hendak bertanya siapa wanita itu, tiba-tiba mataku berpaling pada seorang pria yang tak asing.
"Miki?" mataku terbelalak dan langsung menghampirinya. Aku tidak menyangka jika Miki berada di Jakarta. "Kenapa kau ada di Jakarta?"
Miki dan wanita rambut pirang itu kompak bertukar pandang, disertai alis mereka yang saling bertaut.
"Lo kenapa dah, Bit?" tanya wanita pirang itu.
"Maaf, tapi kamu siapa ya?" tanyaku dengan intonasi halus.
Miki tertawa dan menjitakku. "Pura-pura amnesia lo. Segala nggak ngenalin Tarra. Eh, kupret, ke mana aja sih lo? Bikin orang panik aja seminggu nggak balik ke rumah. Titin bilang lo pergi ke suatu tempat dan lo nggak pulang-pulang. Lo ke mana aja? Cari tempat rehat lagi? Kita khawatir banget sama lo. Minimal balas telepon, kek."
Kini giliranku terkejut dengan alis bertaut. Aku tidak mengerti maksud ucapan Miki. Cerocosnya seperti dialog yang ruwet. Dan sebalnya, kenapa logat Jakarta dia lebih fasih dibandingkan aku? "Tunggu, coba jelasin apa maksud kau barusan, Mik. Aku nggak paham. Dan Tarra ini siapa?"
"Wait, lo nggak ngenalin gue, Bit?" tanya wanita berambut pirang―si Tarra itu.
Aku menggeleng. "Emang kamu siapanya Miki?"
Miki dan Tarra menatapku dengan wajah serius. Mereka menarik tanganku menuju bioskop cafe dan membiarkan tiket menonton kami hangus demi sebuah wawancara yang aku tidak bisa mengerti apa maksud percakapan mereka.
Aku diinterogasi oleh Miki dan Tarra soal kepergian singkatku. Aku bercerita bahwa aku habis kecelakaan, kepalaku gegar otak, aku tinggal di rumah Bapak, dan aku akan kuliah di London untuk memperdalam karierku sebagai penulis skenario.
KAMU SEDANG MEMBACA
Star On the Stage
Misterio / SuspensoTidak semua orang bisa meraih mimpinya dengan mudah. Bitta, seorang gadis desa bercita-cita menjadi aktris papan atas agar bisa bertemu dengan Karsa Aranantyo, bapak kandungnya yang selama ini telah menelantarkannya sejak kecil. Bitta memulai karier...
