25

26 5 0
                                        

Sepuluh hari berlalu setelah pernikahan Gus Azmeal dan celosia Malaka, sejauh ini tidak ada perubahan yang baik semua hampir sama

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sepuluh hari berlalu setelah pernikahan Gus Azmeal dan celosia Malaka, sejauh ini tidak ada perubahan yang baik semua hampir sama.

Tepat hari ini juga para santri yang telah berlibur sudah dititah kembali pada penjara islami ini. Bahkan beberapa sudah  ada dipesantren asatid contohnya.

"Gus, kalo temen-temen gue atau siapapun itu tau gue istri gus gimana?" Tanya celosia menatap wajah Gus Azmeal yang terfokus pada laptop.

Gus Azmeal menoleh sekilas pada celosia. "Ya tidak apa-apa," entengnya.

Celosia memberengut tak puas. "Mereka pasti kaget, terus kalo di bully gimana? Kan kita nggak setara? Dimata mereka Gus itu berlian sedangkan gue batu nggak guna," desah lesu celosia.

Gus Azmeal menutup laptopnya memfokuskan pada celosia walau tidak menatapnya. "Ada gunanya juga batu."

Celosia mengangkat satu alisnya. "Apa?" Polosnya.

"Buat istinjak."

Singkat, padat, jelas, cebok. "Bang- kok, iya Bangkok." Celosia terkekeh hambar bahkan senyumnya terpaksa. Brengsek gue disamain batu buat cebok! Jerit batin celosia.

Gus Azmeal mengulum bibirnya menahan tawa. Ya, beginilah kehidupan sehari-hari mereka, meledek, berdebat.

Gus Azmeal menyadarkan punggungnya pada sandaran sofa. "Tidak apa-apa, ada saya."

"Dih, lo paling nanti pas gue ngadu, nggik pipi, iti cibiin," cibir celsoia.

"Tidak, nanti saya akan umumkan di masjid."

"Nggak!" Sentak cepat celsoia. Ia tidak bisa membayangkan semua tatap mata mengarah padanya. Huuh

"Ya sudah, jalanin aja."

"Jalanin, kalo jalanan nya terjal, terus pakek satu sendal."

"Maksudnya?" Heran Gus Azmeal.

Celsoia memutar bola mata lelah. "Ya kan seharusnya pake dua sendal, kaya kita harus saling bantu, kalo cuma gue doang yang pake satu sendal doang mana bisa."

"Hm, saya akan usaha."

Celosia bangkit menuju pintu hendak keluar namun sebelum itu ia menyeru kesal. "Huh, males!"

☆゚⁠.⁠*⁠・⁠。゚🦋☆゚⁠.⁠*⁠・⁠。゚

"Lo beneran mau nembak celosia?" Tanya gia.

Jehnam tersenyum lalu mengangguk. "Iya, gue yakin."

"Oke. semoga berhasil, nanti gue bantu. Lo mau bareng sama gue ke pesantrennya?"

Jehnam tampak terdiam berpikir sejenak. "Iya."

"Lo tunggu di luar gapuro nanti buntuti mobil gue."

 CelosiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang