18

30 4 0
                                        

Siang ini pesantren sudah ramai dengan orang-orang, mengisi kursi yang telah disiapkan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Siang ini pesantren sudah ramai dengan orang-orang, mengisi kursi yang telah disiapkan.

Acara akan dimulai. Pembawa acara mulai membacakan rangkuman-rangkuman acaranya.

Disaat seluruh angkatannya gugup celosia malah santai memakan beberapa cemilan.

Mungkin nanti teman-temannya akan mendapatkan sebuah buket bunga, atau hadiah-hadiah lainnya dari orang tua mereka.

Sayangnya nata tidak akan mendapatkan itu. Hadirnya kelurga saja sebuah hadiah bagi celosia tetapi mereka tidak akan hadir.

"Celosia ayo, kita baris bentar lagi naik."

Celosia bangkit mengikuti teman-temannya. Ia berada dibarisan paling belakang.

Perlahan mereka menaiki panggung dengan mahkota kecil diatas kepala masing-masing.

☆゚⁠.⁠*⁠・⁠。゚🦋☆゚⁠.⁠*⁠・⁠。゚

"Dipersilahkan kepada wali untuk naik keatas panggung memberi hadiah maupun mengambil potret." Ujar MC.

Celosia memutar bola matanya diatas sana. Mengapa harus ada sesi menyebalkan seperti ini?

Gus Azmeal dibawah sana entah mengapa sekali ingin melihat pergerakan celosia dari bawah. Gus Azmeal sedari tadi juga melihat kearah wali-wali santriwati namun tidak ada wali nata. Mungkin itu yang membuatnya memutar bola mata di atas sana.

"Apa mungkin tidak ada yang akan memberinya hadiah?"

Gus Azmeal bingung hendak berbuat apa. Biarlah waktu berputar tanpa bercampur tangan. Itu urusan celosia.

Kini giliran nata yang posisinya paling ujung gadis itu mengisyaratkan pada MC agar tak menyebut namanya.

Tapi sang MC malah mengacuhkan membuat celosia mengumpat tertahan.

"Shit."

"Terakhir kepada celosia Malaka."

Hening.

Dan kali ini adalah keheningan yang paling celosia benci.

Namun siapa sangka seorang gadis yang lebih muda dari celosia menaiki panggung dengan buket bunga dan... Tunggu celosia bisa melihat dengan jelas di buket itu ada bukunya.

"Ini mbak celosia," ucap gadis tadi yang tak celosia ketahui namanya.

"Dari siapa?" Bisik celosia tanpa melihat kearahnya karena didepan kameramen mengambil potret.

"Didalam ada sebuah surat, mbak bisa baca nanti. Aku turun dulu."

Semua bertepuk tangan meriah kini saatnya mengambil pemotretan keseluruhan bersama guru-guru.

Di awali kelurga dhalem yang akan mengambil potret sebelum asatid.

Azza menahan senyum saat dirinya berada didepan Gus Varel walau bukan pemotretan individu tetapi azza begitu amat senang bisa memiliki memori bersama Gus Varel walau itu sebuah ketidaksengajaan.

Sedangkan Gus Azmeal berada di belakang celosia membuat sang empu sedikit melirik kebelakang mendapat pelototan dari Gus Azmeal.

"Ngapain sih tuh orang pake di belakang Gue."

Celosia tersenyum smirk ketika diambilnya potret. Sangat aneh.

Kini giliran ustadz dan ustadzah yang mengambil potret. Beruntung kali ini di belakang barisan celosia adalah ustadzah.

☆゚⁠.⁠*⁠・⁠。゚🦋☆゚⁠.⁠*⁠・⁠。゚

Setelah acaranya usai teman kamar celosia berkemas sedikit karena yang lain sudah dikemas. Yah mereka akan pulang.

"Celosia, lo di jemput?" Tanya gia.

Celosia mengedikkan bahunya. "Nggak tau."

"Lah?"

"Biarin, kalo nggak dijemput gue tetep disini, bodo amat."

Gia mengangguk, terserah celosia gadis itu memang seperti itu.

"Peluk." Azza merentangkan kedua tangannya kepada celosia dan gia yang duduk di atas ranjang masing-masing.

Celosia dan gia saling melempar tatapan seperti biasa. Mereka bangkit berhambur kedalam pelukan azza.

"Kita bakal ketemu lagi loh za," ingatkan gia.

"Iya, tapi kan cuma sepekan."

Mereka melepas pelukannya.

"Aku duluan ya, orang tau aku udah nunggu."

"Eh, ayo bareng." Gia mendorong kopernya.

"Celosia kita duluan ya, kalo masih belum ada yang jemput. Hubungin gue atau jehnam oke." Celosia mengangguk. "Iya makasih. Baii."

"Baiii..."

Gia dan azza keluar celosia hanya memandanginya hingga mereka tak terlihat lagi. Ia menghela nafas.

Celosia melepas semua aksesoris yang merepotkan itu lalu ia teringat dengan buket misterius tadi. Celosia mengambilnya.

"Dari siapa ya?" Gumamnya.

Celosia melihat sebuah buku itu namun ternyata itu bukan buku melainkan novel. Celosia merasa tak asing dengan nama pena pada novel itu.

Celosia mengambil novelnya membuka halaman demi halaman dan Ternyata didalam sana terselip sekertas surat.

Assalamualaikum.

Celosia ini dari saya, sam.

Selamat hari kelulusan. Saya tidak tau untuk merancang kata seperti apa.

Intinya sebentar lagi saya akan berkunjung kerumah mu.

Cukup disitu sekali lagi selamat wisuda dan semoga suka novel ini.

Celosia tertegun dengan kalimat terakhir pada surat itu. Maksudnya, seperti apa? Berkunjung kerumah mu?

Celosia mengerutkan kening berpikir maksud dari ini. hingga dibuyarkan oleh panggilan dari seseorang.

"Mbak Celosia!"

"Iya sebentar!" Celosia menyambar hijabnya asal lalu keluar.

"Ada apa?"

"Afwan mbak, mbak dipanggil ke dhalem," kata gadis itu yang entah siapa, terlalu banyak makhluk hidup disini celosia malas untuk menghafalnya.

"Oke."

"Aku permisi mbak assalamualaikum."

"Waalaikumsalam."

 CelosiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang