27

34 4 0
                                        

"Bagaimana rasanya jadi pengantin baru Gus?"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Bagaimana rasanya jadi pengantin baru Gus?"

Gus Azmeal melayangkan tatapan tajam pada Gus Carel yang mengodanya, apalagi kedua alisnya yang naik turun.

"Gimana? Enak nggak?"

"Diam," geram Gus Azmeal. Gus Carel hanya menyengir hingga matanya menyipit.

"Mas sam kemana Gus?" Tanyanya tiba-tiba.

Gus Azmeal berpikir sejenak. Oh iya, biasanya dia balik paling awal, tapi sekarang? Bantinya.

"Nggak tau, tapi biasanya dia balik awal-awal sebelum asatid yang lain," terangnya.

"Waktu pernikahan kamu Gus, mas sam tiba-tiba pamit keluar terus nggak balik lagi."

"Dan... Pas pulang dia nggak langsung pamit ke dhalem tap ke asatid dan pulang duluan dari asatid lainnya." Kedua Gus itu saling melempar tatapan bertanya tanya.

"Kenapa ya?"

"Nggak tau. Tapi nanti saya chat kapan balik." Gus Carel mengangguk mengiyakan.

Setelah itu adzan isya berkumandang membuat mereka berlalu menuju masjid. Tentunya masjid pesantren.

Disisi lain celosia meringkuk membungkuk tubuhnya didalam selimut sedari tadi. "Gue capek, makin capek aja," keluhnya.

Celosia menyibak selimut itu mendudukkan dirinya bersandar disandaran ranjang. Seharusnya gadis itu ikut kemasjid tapi ia menolak keras karena muak akan tatapan orang-orang yang sudah bisa ia bayangkan setelah mendengar jika celosia Malaka kini menjadi istri seorang Gus.

Entah seperti apa hidupnya, kesehariannya setelah ini.

"Gue laper, makan dulu baru sholat." Celosia berlalu menuju dapur yang terlihat sepi, mungkin yang lain ada di masjid.

"Kenapa kamu tidak berjamaah dimasjid? Mentang-mentang udah jadi istrinya Azmeal."

Celosia menoleh kebelakang disana Ning Hasna menatap nyalang padanya. "Saya tidak enak badan ummi," ujarnya.

"Alasan. Awas saja jika sampai ning-ning diluar sana tau kelakuan kamu," cercanya memperingati.

Celosia menelan ludah kasar. "Iya ummi." Wanita itu melenggang pergi, sepertinya dia kesini hanya untuk menceramahinya. Celosia menghela nafas berat. Nafsu makannya hilang biarlah.

Karena sudah tidak ingin makan lagi celosia berlalu menuju kamarnya untuk sholat terlebih dahulu karena selepas ini ia akan membaca buku-buku yang ada di perpustakaan Gus Azmeal.

Setelah selesai sholat celosia masuk kedalam membawa air dan cookies yang ada di kamar ini. Mencari buku yang menarik. Hingga ia menemukan sebuah novel, Tanpa pikir panjang celosia duduk lalu membuka lembar demi lembar hingga ia terhanyut kedalamnya.

Sedangkan gia menutup kedua telinganya saat keluar dari masjid.

"Gia, dimana celosia?"

"Kok bisa mereka nikah? Kecelakaan?"

 CelosiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang