"gue nggak bisa milikin lo, tapi gue berhasil jaga lo."
-Jehnam kajendra
"Tidak ku sangka satu hari sebelum aku melamarmu, kamu lebih dulu menikah dengan sahabat ku sendiri."
-Samudra
"Aku terpaksa sebelum mengetahui kenyataannya."
-Azmeal Az-ziyad...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Celosia menatap datar luar jendela kamar Gus Azmeal melihat malam yang semakin mencekam. Rasanya sangat menyesakkan hidup jika seperti ini.
Suara dering handphone di depannya membuat ia menunduk untuk melihat itu. Sebuah pesan dari gia masuk.
"Lo dimana? Nggak pulang?"
Celsoia membalas pesan Gus dengan malas. "Iya, kenapa?"
"Kita mau ngumpul besok malem lo bisa?"
"Gue usahain."
"Oke, good night."
"Hm."
Setelah itu celosia menutup handphonenya, mungkin ia besok bisa hadir jika tidak di perbolehkan ia akan kabur, masa bodo dengan hukuman apapun itu ia sangat tak suka disini apalagi drama disini.
"Heh, ayo tidur, tidak mau tidur kamu?" Gus Azmeal sudah merebahkan dirinya di kasur setelah kembali dari luar.
Celosia melirik lelaki itu. "Tidur dimana?"
"Disini."
"Seranjang?"
Gus Azmeal mengangguk mengiyakan.
"Nggak mau," dengus celosia.
Gus Azmeal menaikkan sebelah alisnya. "Kalo nggak mau nggak usah tidur, kamu pikir ini cerita novel pernikahan terpaksa terus nggak mau seranjang."
Celosia bangkit melepas hijab yang membuat ia malas. "Kecilin AC nya gue hipotermia."
Gus Azmeal menurut saja tidak ingin berdebat.
Celosia menidurkan dirinya di sisi ranjang menjaga jarak dengan Gus khaibar. "Jangan sentuh gue, awas lo," ancam celosia menunjuk kearah Gus Azmeal.
"Nggak akan, kamu kurus," sembur Gus Azmeal. Celosia membelalakkan matanya. Melihat dirinya sendiri yang sudah berbaring. "Heh, gue nggak kurus-kurus amat ya!"