Pack Utara yang menyimpan banyak rahasia dan keindahan. Di sana tempatku jatuh cinta dan putus asa, tempatku berteman sekaligus mendapatkan musuh, dikelilingi tantangan dan ancaman. Sutu hal yang sulit adalah membawa cahaya ke tempat itu, dan hati s...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Perhatian! Memuat konten BxB. Cerita ini fiksi. Kemungkinan masih banyak penulisan yang salah, luput saat tahapan edit. Bacaan ini untuk orang dewasa (18 tahun) karena terdapat kata-kata kasar, adegan kekerasan, dan vulgar. Happy reading.
Maaf, kawan-kawanku 😅. Aku tidak Up hampir selama dua minggu. Hehehe, penulis habis ujian proposal soalnya 🤣✌, jadi fokus belajar sama persiapan minggu lalu. Syukurlah semua berjalan dengan lancar. Rasanya benar-benar lega setelah menapak satu anak tangga kehidupan, hahaha 🤣
Oke, tanpa berlama-lama lagi, mari kita cus, kasi emot buatku, dong!
.
.
.
.
BRATVA
Benteng Utara
Jubah yang menggantung di bahu hingga punggung, menjuntai hingga kaki, menutupi sepatu kulit. Angin ini mengalahkan semua jenis kain yang melingkupi tubuhku. Pakaian yang Halex berikan, disusun sedemikian matang dengan pengetahuannya, juga tidak mampu menghangatkanku, bahkan fajar yang seperti malaikat.
Dadaku, didesak oleh suatu perasaan tak lega. Itu nyeri. Hatiku seolah telah membeku, seakan membodohi diri bahwa seseorang akan mencairkannya. Namun, justru kekosongan yang paling membanjiri benakku. Alpha Mikael telah menciptakan jarak yang bahkan tidak kumengerti. Kapan kami melewati batas-batas itu? Batas-batas di antara kami, yang bahkan kulewati dengan tidak tahu malunya mengungkapkan kejatuhanku–jatuh cintaku–kepadanya.
Amarahku, adalah kelemahanku sendiri. Menciptakan pemandangan seolah aku terluka dengan sumpah yang Mikael minta dariku. Denyut nadiku bergemuruh kala tahu dia bahkan tidak membiarkan dirinya sendiri menggores kulitku dengan pedang mana pun. Aku merasa begitu dendamnya dengan sikap lembut itu, hingga kata-kata yang tidak ingin kuucapkan keluar begitu saja. Bagaimana perasaan Mikael ketika malam itu?!