Pack Utara yang menyimpan banyak rahasia dan keindahan. Di sana tempatku jatuh cinta dan putus asa, tempatku berteman sekaligus mendapatkan musuh, dikelilingi tantangan dan ancaman. Sutu hal yang sulit adalah membawa cahaya ke tempat itu, dan hati s...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tengah malam, motor trail membelah jalan sepi di Timur, menuju ke Barat. Di bawah lanskap gelap langit malam yang muram, Jesse menggunakan keahliannya dengan baik di antara desiran angin dan cahaya jalanan lampu. Sementara di belakang, Wild berpegang erat. Angin tidak akan menumbangkannya, berbekal katana yang tersarungi di punggung dan dua pistol di dalam jaketnya.
Nah, itu milik Jesse, bukan dirinya.
Wild benar-benar tidak tahu cara menggunakan benda-benda itu. Sungguh, Jesse sempat-sempatnya menatapnya dengan aneh sewaktu berkata terus terang bahwa dia tidak bisa menggunakan senjata, dan dia merasa malu, sangat malu, nyaris mati karena malu.
Perjalanan itu ditempuh dengan beberapa perhentian untuk istirahat. Untuk air dan meregangkan tubuh, khususnya Jesse. Wild merasa itu tidaklah adih, jadi ia menawarkan diri untuk mengambil alih motor. Yang, sontak saja Jesse terbelalak.
"Oh Sayangku, kau tidak percaya? Aku bahkan pernah menabrak tembok sampai hancur dengan mobil dan tiga kali dengan motor, bukankah itu hebat?"
"My Lord, rupanya kau sangat polos," komentar Jesse. Dan sejak itu, Jesse tidak membiarkannya memegang stang motor. Wild hanya duduk di belakang, bagaikan raja atau sejenisnya, menerima semua pelayanan Jesse.
Dua jam telah berlalu. Dan pemberhentian berikutnya adalah di sekitar jalan raya di tengah sebuah desa, milik Barat Ikaros. Mereka telah mencapai daerah tujuan. Wild turun dari morot, melepas helmnya. Ia bersandar ke pohon besar, memandang jauh tanah tak rata yang terbentang di depan matanya. Lapangan tidak rata itu diselimuti oleh rumput yang terpotong rapi sedangkan di sekitarnya rumput-rumput memanjang.
Wild menghela napas lelah, paling lelah, dan matanya tidak bisa menahan air mata sialan itu. Jesse menghampirinya dan memeluknya sejenak. Wild tidak bisa menduga bahwa dia melihat pemakaman massal. Masa lalu benar-benar terasa terulang lagi. Pembaringan kayu raksasa yang mulai muncul ke dalam ingatannya dengan jelas. Dan sekarang, tidak jauh berbeda.
Pembaringan kayu tersebar seperti peti mati, yang dilahap oleh api kecil yang kian mengecil, menyisakan bara dari kefanaan manusia. Bendera putih berkibar-kibar di sekitar tanah itu dan tidak ada seorang pun di sana. Hanya kedukaan yang terpaksa ditinggalkan. Upacara terakhir mungkin telah berlangsung ketika malam menjelang dan tak seorang pun dari sanak saudara mereka ada untuk melaksanakannya.
"Militer mengurus segalanya, My Lord." Jesse berbaik hati memberitahunya. "Seluruh kota sudah berada dalam situasi darurat. Seperti berurusan dengan virus, tak seorangpun bisa mendekati mayat para korban. Para keluarga hanya diberitahu bahwa pemakaman akan dilakukan di tempat terpisahan dan upacara akan dilakukan di tempat pengungsian masing-masing."
Wild tidak memalingkan tatapannya. "Mereka warga desa di sekitar sini?"
"Ya, kurasa demikian." Jesse menegakkan tubuhnya. Dia menetap sejenak ke arah Wild yang termenung "Seperti yang kita tahu, Barat telah diserang. Desa-desa telah hancur dan kastil Pack Barat tak terkecuali. Barat adalah zona bahaya, Tuanku."