Syuting MV 3

1.8K 103 1
                                    

Setelah beberapa jam syuting di lokasi, Sky dan Nani kembali ke set untuk melanjutkan pekerjaan mereka. Semua kru sibuk dengan persiapan, dan suasana kembali menjadi profesional—meskipun ada ketegangan yang tak terucapkan di antara mereka. Di depan kamera, mereka seperti biasa, profesional dan tidak menunjukkan adanya perubahan besar dalam hubungan mereka.

Nani, dengan wajah cool dan ekspresi datarnya, melangkah masuk ke dalam frame, berusaha menampilkan karakter yang tepat untuk MV OST HSF. Seperti biasa, dia tampak sangat serius. Setiap gerakan tubuhnya terkontrol dengan sempurna, dan wajahnya tidak menunjukkan ekspresi berlebihan. Itu adalah gaya Nani—selalu terlihat seperti tidak peduli, bahkan jika di dalam hati ada banyak hal yang sebenarnya sedang dia rasakan.

Di sisi lain, Sky, yang memiliki kepribadian lebih ekspresif, tidak bisa menahan senyum lebarnya meski sedang berada di depan kamera. Dia tahu betul bagaimana cara membuat suasana lebih ringan, dan saat kamera mengarah ke dirinya, dia langsung menampilkan pesonanya. Meskipun mereka berdua telah dekat di belakang layar, di depan kamera, mereka kembali menjadi dua aktor yang sangat profesional.

Namun, meskipun semuanya terlihat normal, ada ketegangan yang terus berkembang di antara mereka berdua. Sky masih merasa tidak nyaman dengan perasaan yang muncul setelah kejadian di toilet tadi. Ia tahu bahwa hubungan mereka sebagai teman sangat kuat, tetapi saat ini, perasaan yang lebih mendalam mulai mengguncang dirinya.

Setelah beberapa pengambilan gambar, mereka akhirnya diberi waktu untuk istirahat lagi. Sky melangkah ke samping, melemparkan senyum tipis ke arah Nani, yang masih tampak tenang dengan wajahnya yang dingin.

"Lo tadi oke banget di depan kamera, kayak biasa, ya," kata Sky sambil menepuk bahu Nani dengan santai. Nani hanya mengangguk pelan, tetap dengan ekspresi yang datar.

"Lo juga, Sky. Nggak usah dibahas," jawab Nani singkat, namun matanya yang tajam menatap ke arah Sky sedikit lebih dalam dari biasanya. Meskipun suaranya tetap seperti biasa—tenang dan hampir tidak ada perasaan—ada sedikit kehangatan di balik tatapannya yang tidak bisa disembunyikan.

"Tapi lo juga harus tau, gue nggak bisa berhenti mikirin tadi," lanjut Sky, dengan nada yang lebih serius. "Lo... lo tau kan, apa yang gue rasain kan?"

Nani, yang biasanya tidak terbuka tentang perasaannya, terlihat sedikit terkejut. Meskipun dia sudah terbiasa dengan sikap Sky yang lebih terbuka, kali ini Sky tampaknya sedikit berbeda—lebih serius dan agak cemas. "Lo... lo nggak bisa begitu aja, Sky. Kita berdua ngerti kalau ini semua nggak gampang," jawab Nani pelan, matanya tidak lepas dari wajah Sky yang tampak lebih gelisah dari biasanya.

Sky merasa perasaan itu semakin menguat. Ia tahu Nani selalu menjaga jarak dengan orang lain, terutama karena sifat introvertnya yang kuat, tapi dia juga merasakan ada perubahan dalam hubungan mereka—sesuatu yang lebih dari sekadar teman.

"Jadi, kita ngapain sekarang?" tanya Sky, sambil memiringkan kepala, berharap ada jawaban lebih jelas dari Nani.

Nani terdiam sejenak, lalu menarik napas panjang, matanya bertemu dengan mata Sky. "Kita tetap profesional. Tapi... gue nggak bisa pura-pura nggak ngerasain apa-apa. Kita berdua udah lama deket, dan lo tau gue bukan orang yang gampang nunjukin perasaan."

Sky mengangguk pelan, mencoba memahami apa yang Nani rasakan. Meskipun Nani tampaknya selalu menjaga jarak dengan orang lain, Sky merasa bahwa kali ini mereka berada di titik yang berbeda. Perasaan itu semakin jelas—bahwa kedekatan mereka sudah lebih dari sekadar persahabatan biasa. Namun, keduanya tahu, ini adalah sesuatu yang mereka harus hadapi dengan hati-hati.

"Yah, gue juga nggak tau mesti gimana, Nani," kata Sky, merasakan kekhawatiran dalam hatinya. "Tapi gue nggak bisa pura-pura biasa aja."

Nani akhirnya tersenyum tipis, meskipun matanya masih memancarkan ketegangan. "Gue ngerti, Sky. Tapi kita tetap profesional, kan? Nggak ada yang berubah."

Mereka berdua hanya saling menatap sejenak, seolah mencoba meyakinkan diri masing-masing. Mereka tahu bahwa ada sesuatu yang lebih besar di luar persahabatan mereka, sesuatu yang tidak mudah untuk diungkapkan begitu saja. Namun, untuk saat ini, mereka masih memutuskan untuk tetap profesional di depan kamera dan tidak membiarkan perasaan itu mengganggu pekerjaan mereka.


TO BE CONTINUE~

Imina SkyNani | Behind the ScenesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang