Hari yang dinanti akhirnya tiba. Sky dan Nani sudah berada di ruang reading bersama dengan para kru dan tim produksi untuk series BL yang akan mereka bintangi. Ini adalah bagian dari persiapan untuk syuting trailer yang akan ditampilkan pada premiere GMMTV 2025. Mereka tahu ini adalah momen penting, bukan hanya bagi mereka, tapi juga bagi seluruh tim yang telah bekerja keras untuk proyek ini.
Ruangan reading terasa berbeda dari biasanya. Semua orang tampak lebih serius, dengan naskah di tangan mereka dan ekspresi fokus di wajah. Sky dan Nani duduk di seberang meja besar, berdampingan dengan para aktor dan kru lain. Meski suasana agak tegang, ada rasa ekspektasi yang kuat. Trailer ini akan menjadi yang pertama kalinya mereka menampilkan chemistry mereka sebagai pasangan di layar, dan itu berarti banyak.
"Kalian berdua siap?" tanya sutradara, Phi Jo, yang akan memimpin syuting trailer. Phi Jo dikenal karena pendekatannya yang intens dan profesional, tapi dia selalu tahu bagaimana caranya membuat aktor merasa nyaman dalam situasi yang menegangkan.
Sky mengangguk dengan semangat, meskipun ada sedikit kegugupan di wajahnya. "Siap, Phi," jawabnya, suara yang penuh antusiasme tapi sedikit bergetar.
Nani hanya tersenyum tipis, matanya masih fokus pada naskah yang ada di tangannya. "Siap," jawabnya singkat, tetap dengan ekspresi datarnya yang khas. Meski begitu, ada sedikit kilatan ketegangan di matanya yang hanya Sky yang bisa menangkapnya.
Sutradara Phi Jo tersenyum, mengangguk pelan. "Baiklah, kita akan mulai dengan reading adegan pertama. Ini adalah momen penting bagi kalian berdua. Kalian akan menunjukkan bagaimana hubungan antara karakter-karakter ini berkembang, jadi pastikan kalian benar-benar merasa terhubung."
Adegan pertama dalam naskah itu cukup sederhana—dua karakter, yang diperankan oleh Sky dan Nani, bertemu di sebuah kafe setelah sekian lama tidak berkomunikasi. Ini adalah momen pertama mereka bertemu setelah mengalami kesulitan dalam hubungan mereka sebelumnya. Ada ketegangan di udara, tapi juga ada perasaan yang tidak bisa disangkal, meskipun mereka berusaha menyembunyikannya.
"Sky, kamu mulai," kata Phi Jo, memberi isyarat agar Sky memulai reading.
Sky mengangguk, kemudian membuka mulutnya untuk membaca dialog pertamanya. "Kenapa lo tiba-tiba mau ketemu? Gue kira kita udah selesai," kata Sky dengan nada yang sedikit tegang, namun ada sedikit rasa penasaran yang tak bisa disembunyikan.
Nani, yang sudah siap, langsung menyahut dengan nada datar, namun cukup emosional. "Gue nggak tahu, gue cuma merasa kita harus bicara. Semua yang udah terjadi... nggak bisa dibiarkan gitu aja." Nani mengucapkan kalimat itu dengan ekspresi wajah yang keras, tapi ada kelembutan yang mulai terlihat di matanya—sesuatu yang hanya bisa dilihat oleh Sky.
Keduanya saling menatap, dan meskipun ini hanya reading, ada sesuatu yang hampir nyata di antara mereka. Sebuah ketegangan yang perlahan berubah menjadi rasa saling memahami. Sky sedikit merasa terganggu dengan cara Nani berbicara, seolah-olah ada perasaan yang lebih dalam dari sekadar karakter yang diperankan.
"Adegan ini penting untuk menunjukkan bahwa meskipun mereka berdua terlihat dingin, ada perasaan yang tersembunyi. Mereka berdua masih peduli satu sama lain," jelas Phi Jo, mengarahkan mereka untuk mengekspresikan perasaan lebih dalam lagi. "Coba ulangi dialognya dengan lebih dalam. Bayangkan kalau kalian berdua benar-benar punya sejarah yang rumit."
Sky menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Kali ini, dia mengubah nada suaranya, mencoba memasukkan sedikit keraguan dan rasa sakit. "Kenapa lo datang ke sini? Setelah semuanya yang terjadi, lo masih mau bicara sama gue?" suaranya sedikit bergetar, menunjukkan kekhawatiran yang belum sepenuhnya hilang.
Nani, yang sudah sangat dalam dalam perannya, menatap Sky dengan tatapan yang lebih lembut, meskipun dia berusaha tetap menjaga ekspresinya tetap cool. "Karena gue masih peduli, meskipun lo pikir gue nggak. Gue nggak bisa ngelakuin ini sendirian."
Mendengar kalimat itu, Sky terdiam sejenak. Ada getaran yang membuatnya sedikit kesulitan menahan perasaan. Mereka berdua saling menatap, suasana semakin intens.
Phi Jo tersenyum puas, melihat bagaimana kedua aktor itu mulai menampilkan perasaan yang lebih dalam dari sekadar dialog. "Bagus, bagus. Sekarang kita lanjut ke bagian selanjutnya."
Selama reading itu, mereka berdua semakin terbawa suasana, dan meskipun mereka sudah berusaha menjaga batasan antara pekerjaan dan hubungan pribadi, rasanya semakin sulit untuk tidak merasa terhubung lebih dalam. Mereka tahu bahwa proyek ini bukan hanya tentang karier mereka, tetapi tentang bagaimana mereka menampilkan sesuatu yang lebih dari sekadar chemistry antara dua karakter. Ada perasaan yang lebih nyata yang perlahan mulai muncul, bahkan jika mereka berdua mencoba untuk menahannya.
Setelah sesi reading selesai, Sky dan Nani berjalan keluar dari ruangan dengan perasaan campur aduk. Meskipun mereka telah melalui banyak adegan sebelumnya, reading kali ini terasa berbeda—lebih intim dan lebih dekat dengan kenyataan.
"Lo nggak ngerasa apa-apa setelah tadi, kan?" tanya Sky, memecah keheningan yang tercipta setelah mereka keluar dari ruangan.
Nani menatapnya sekilas, lalu menurunkan pandangannya. "Gue... nggak tahu. Tadi tuh rasanya beda. Tapi kita harus tetap profesional."
Sky mengangguk, meskipun dalam hatinya ada perasaan yang semakin sulit diabaikan. "Iya, kita profesional. Tapi gue rasa gue mulai ngerti kenapa kita dipilih untuk jadi pasangan di sini."
Mereka terdiam, berjalan berdua, menyadari bahwa hubungan mereka—baik sebagai teman maupun rekan kerja—akan semakin rumit seiring berjalannya waktu.
TO BE CONTINUE~

KAMU SEDANG MEMBACA
Imina SkyNani | Behind the Scenes
FanfictionSebuah perjalanan hubungan antara dua aktor GMMTV, Sky dan Nani, yang awalnya hanya sahabat dan partner kerja dalam sebuah proyek, High School Frenemy. Bermula menjadi teman hingga sahabat hingga hubungan yang semakin dalam di balik layar, mereka me...