Yang Terabaikan
"Sepertinya kalian sudah berbaikan," celetuk Evita ketika sarapan.
Talitha meringis. "Maaf karena membuatmu khawatir."
Evita mengibaskan tangan. "Selama semua berakhir baik, tak ada yang perlu dipermasalahkan."
"Tapi, aku juga ingin meminta maaf padamu dan Miko," ucap Talitha. "Aku tak seharusnya berusaha ikut campur masalah di antara kalian. Karena aku sendiri sekarang mengerti betapa rumitnya hubungan dengan seseorang. Terutama jika itu menyangkut perasaan. Kalian pasti punya alasan sendiri. Meski, aku yakin, akan lebih baik jika kalian membicarakan masalah di antara kalian."
"Oh, Dear ... to hear such advice from you, Ta ..." Evita berkomentar haru. "Aku antara terharu, tapi juga merasa kekanakan. Kau, di antara orang lain, memberi saran dalam hubungan seseorang."
Talitha berdehem canggung. "Jangan meledekku! Bahkan meski sebelum ini aku tak tertarik dengan hal seperti itu, tapi setelah merasakannya sendiri, aku merasa jika hubungan pasangan itu begitu rumit dan perlu sering komunikasi untuk menghindari kesalahpahaman."
"Aw ... kau benar-benar sudah dewasa, Ta ..." Evita menowel pipi Talitha.
Talitha mendesis kesal. "Kau saja yang selalu memperlakukan aku seperti anak kecil."
Meski, Talitha sepertinya bisa sedikit mengerti kenapa Evita berkata seperti itu. Talitha selalu saja membuat Evita khawatir. Bukankah saat ini Evita ada di sini karena itu juga?
"Tapi, kuharap setelah pernikahanku dengan Nathan, kau tak lagi terlalu khawatir tentangku," ucap Talitha penuh harap. "Aku juga ... ingin kau fokus dengan hidupmu dan kebahagiaanmu."
"Kau akan membuatku menangis, Ta," balas Evita terharu. "Tapi, saat ini pun, aku sudah bahagia. Kau bisa melihat sendiri, bagaimana aku masih bisa bersenang-senang meski aku sedang memiliki masalah dengan pengacaramu itu."
Talitha meringis. Evita bahkan tak mau menyebutkan nama Miko. Meski, ya, sahabatnya itu tampak bersenang-senang. Bersenang-senang mengabaikan Miko.
"Aku senang mendengar kau masih bisa bersenang-senang," Miko menyeletuk.
Tentu saja, Evita mengabaikan itu dan berbicara pada Talitha, "Karena itu, jangan terlalu khawatir. Masalahmu adalah, kau terlalu banyak berpikir jika itu tentang orang-orang terdekatmu."
"Itu karena aku peduli," tukas Talitha. "Aku selalu mengabaikan orang-orang yang tidak penting untukku."
"Same here," sahut Evita sembari tersenyum.
"That hurts," tanggap Miko.
Ah ... Talitha sama sekali tak menduga Evita akan menggunakan percakapan mereka untuk menyerang Miko lagi seperti itu. Talitha meringis meminta maaf pada Miko.
"Tapi, Ta, bahkan meskipun kau menyukai Nathan, kau harus menolak jika dia melakukan hal yang tak kau suka padamu," Miko berpesan dengan nada serius.
"Hei, aku tidak sebrengsek itu," desis Nathan tak terima.
Talitha berpikir sejenak. "Nathan tak pernah melakukan hal yang tak kusuka padaku," ungkap Talitha. "Bahkan dia bilang, dia harus menahan dir–hmph!" Kalimat Thalita terputus karena mulutnya tiba-tiba tersumpal roti.
Di sebelah Talitha, Nathan yang menyuapkan roti itu tersenyum. "Talitha, tak peduli sedekat apa pun kau dengan seseorang, ada hal yang bisa dan tak bisa kau ungkapkan pada mereka mengenai hubunganmu dengan pasanganmu."
KAMU SEDANG MEMBACA
The Baby's Project
RandomDunia Talitha seolah runtuh ketika ia harus kehilangan kakak dan kakak iparnya, meninggalkannya dengan Jia, bayi mereka yang masih berumur satu tahun. Talitha bahkan tak bisa mengurus dirinya sendiri, bagaimana bisa dia mengurus keponakannya? Natha...
