Kehidupan Baru
"Warna favorit?"
Talitha berpikir sejenak. "Warna gelap. Kalau kotor tidak terlihat."
Nathan tersenyum geli. "Sama. Tapi, untukku, karena aku lebih cocok dengan warna gelap."
"Kau tampak bagus dengan warna putih." Talitha mengedik pada kaus polo putih yang dikenakan Nathan.
"Terima kasih. Makanan kesukaan?" tanya Nathan lagi.
"Mi instan cup."
Nathan mengerutkan kening bingung. "Kenapa?"
"Karena mudah dimasak, meski sejak aku di rumah ini, aku mulai jarang makan itu. Itu makanan yang paling sering kumakan ketika tinggal sendiri," urai Talitha.
Nathan tertawa. "Mi instan cup tidak dimasak. Kau hanya perlu menuangkan air panas ke cup-nya."
"Oke, pandangan kita tentang memasak sepertinya berbeda." Talitha tidak akan memaksakan kehendaknya.
Nathan tersenyum geli dan mengangguk. "Kalau aku suka masakan rumah. Karena itu, jika ada waktu luang, aku memasak sendiri."
"Kau tidak tinggal dengan orang tuamu?" tanya Talitha heran.
Nathan menggeleng. "Mereka selalu mengabsen apa aku sudah menikah setiap kali pulang kerja. Sepertinya mereka salah paham tentang konsep pergi ke kantor. Setahuku, orang-orang pergi ke kantor untuk bekerja, bukan untuk menikah."
Talitha tergelak mendengar itu. "Sekarang aku paham kenapa kau membutuhkan pernikahan ini."
"Orang tuaku hanya bagaikan opening untuk masalah itu. Ada lebih banyak orang yang penasaran dengan istriku, ketika aku bahkan belum punya." Nathan terdengar frustrasi.
Tatliha terkekeh. "Setelah kita menikah, kau bisa mengangkat tanganmu tinggi-tinggi ketika bertemu orang-orang itu."
"Untuk apa?" heran Nathan.
Talitha mengangkat tangannya dan menunjuk cincin di jarinya. "Memamerkan ini."
Nathan tergelak sembari mengangguk setuju. "Ide yang bagus. Aku pasti akan melakukannya."
Talitha tak dapat menahan senyum geli membayangkan itu. "Apa kegiatan favoritmu?" tanyanya kemudian.
Nathan tampak berpikir sesaat. "Bekerja."
"Kurasa aku paham kenapa orang tuamu selalu menanyakan pernikahan padamu." Talitha meringis.
Nathan mendengus geli. "Kalau kau? Apa kegiatan favoritmu?"
"Game," jawab Talitha tanpa ragu.
"Itu, aku sudah tahu. Selain itu."
"Um ..." Talitha menatap langit-langit ruang tengah sembari berpikir. "Tidur?"
Nathan tersenyum. "Carilah kegiatan favorit yang sehat."
"Tidur itu sehat. Jika kau kurang tidur, kau bisa sakit. Benar, kan?"
"Di saat seperti ini, kau pintar sekali bicara," cibir Nathan.
"Aku pintar bicara. Hanya, seringnya bicara tanpa berpikir," aku Talitha.
"Aku setuju." Nathan mengangguk.
"Oh iya, untuk panggilan kita satu sama lain bagaimana? Maksudku, di depan orang tua Kak Juna. Kau mau pakai Sayang, Cinta, atau Baby, mungkin?" usul Talitha.
Nathan menggeleng keras. "Aku bukan Jia."
"Kau jelas tak pernah punya kekasih," tandas Talitha. "Ada sepasang kekasih yang menjadi anggota timku dan mereka memanggil satu sama lain Baby. Dan tentunya, mereka bukan Jia."
KAMU SEDANG MEMBACA
The Baby's Project
RandomDunia Talitha seolah runtuh ketika ia harus kehilangan kakak dan kakak iparnya, meninggalkannya dengan Jia, bayi mereka yang masih berumur satu tahun. Talitha bahkan tak bisa mengurus dirinya sendiri, bagaimana bisa dia mengurus keponakannya? Natha...
