Gencatan Senjata
Ketika Talitha masuk ke kamar tidur tamu tempat Miko berada, langkahnya berhenti di depan pintu tatkala melihat Miko yang menggendong Evita yang tampak begitu lelap, atau mungkin pingsan, ke tempat tidur. Ketika melihat Talitha, Miko yang sudah membaringkan Evita di tempat tidur, menempatkan jari telunjuknya ke bibir, meminta Talitha tak bersuara. Talitha mengangguk, lalu menunjuk ke luar.
Talitha keluar dari kamar itu lebih dulu. Tak lama, Miko keluar dari kamar itu. Talitha tak tahu apa pria itu sudah boleh berkeliaran seperti itu setelah apa yang terjadi semalam, tapi dia tampak baik-baik saja, selain wajahnya yang sedikit pucat.
"Dia tampak sangat lelah, jadi aku tidak ingin mengganggu tidurnya," Miko berkata sembari melewati Talitha dan duduk di sofa ruang tamu.
Talitha ikut duduk di sofa ruang tamu. "Semalaman dia bekeras menjagamu dan meminta aku dan Nathan fokus saja pada Jia. Sepertinya dia tidak tidur semalaman. Dia ... uh, tampak sangat khawatir." Talitha meringis.
Miko tersenyum kecil. Talitha agak terkejut melihat ekspresi itu.
"Sejujurnya, aku tadinya tak ingin membuatnya khawatir. Karena itu, aku berusaha bertahan setidaknya sampai aku pamit pulang pada kalian. Tapi ... ketika aku tahu dia begitu mengkhawatirkanku ... itu tidak buruk juga," ucap Miko.
Hah? Apa katanya?
"Meski, aku tak suka jika dia menyalahkan dirinya," Miko berkata. "Toh, aku yang memutuskan untuk memakan makanan yang membuatku alergi."
"Kau ... benar-benar serius tentang Evita, huh?" Talitha mendengus pelan, lalu tersenyum.
"Hah?" Miko tampak agak terkejut. "Apa ...?"
"Hubunganmu dengan Evita," sebut Talitha. "Aku tahu, Evita punya motif lain. Dia mungkin bersikap seperti itu padamu karena dia belum benar-benar percaya padamu. Dia memang terkadang terlalu overprotektif jika itu menyangkut aku."
"Tapi, itu berbeda untukmu," tembak Talitha. "Aku tak pernah melihatmu ... serelaks ini setelah kakak dan kakak iparku meninggal." Talitha tersenyum kecil.
"Dan aku lega bisa melihatmu kembali seperti ini. Karena aku tahu, betapa sibuknya dirimu mengurus segala hal untuk aku dan Jia setelah kematian kakak dan kakak iparku. Kau juga pasti sangat kehilangan mereka, tapi kau bahkan tak sempat untuk berduka.
"Karena itu, ketika melihat kau tampak lebih baik ketika bersama Evita, aku lega. Aku lagi-lagi berutang pada Evita untuk itu. Tidak hanya dia mengirim Nathan untuk membantuku dan Jia, dia juga datang kemari dan membantumu juga." Talitha kembali tersenyum. "Karena itu, aku akan mendukungmu. Dan jika kakakku ada di sini saat ini, dia juga pasti akan melakukan hal yang sama."
***
Kata-kata Talitha itu seolah menampar Miko akan kenyataan. Ah, ia pikir, ia sudah menyembunyikannya dengan baik dari Talitha. Ia pikir, ia sudah cukup ahli untuk menutupi emosinya dari Talitha. Namun, gadis itu melihat semuanya.
Terlebih, dia juga melihat bagaimana Miko bereaksi pada Evita. Miko sendiri tak tahu, kenapa dia mendadak menjadi begitu kekanakan ketika menghadapi permainan Evita. Ia tak tahu, bagaimana gadis itu bisa mempengaruhinya seperti ini.
"Sejujurnya, aku juga tak tahu apa yang terjadi padaku," Miko mengaku. "Aku juga terkejut menyadari bagaimana gadis itu mempengaruhiku. Di tengah badai yang membuat tubuhku terus bergerak, tanpa sempat memikirkan hal lain, gadis itu tiba-tiba datang dan mengalihkan perhatianku, seolah memberiku ruang untuk bernapas untuk diriku sendiri."
Talitha tersenyum sendu. "Syukurlah, jika begitu," ucapnya.
"Kau tampak begitu santai, terlepas ketertarikanku pada sahabatmu," singgung Miko.
"Karena ini kau," jawab Talitha. "Jika itu kau, aku bisa memercayakan Evita padamu."
"Bahkan meski Evita menganggapku musuh terbesarnya?" Miko mengangkat alis.
Talitha meringis. "Kurasa, dia hanya salah paham."
"Apa saja yang kau katakan padanya tentangku hingga dia salah paham padaku?" tuding Miko. "Apa kau mengadu jika aku sering mengomelimu atau apa?"
"Hei, aku tidak sekekanakan itu!" protes Talitha.
Jika bukan Talitha, maka ...
Miko menatap melewati Talitha. Dari tangga, Nathan turun sambil menggendong Jia yang sepertinya baru mandi. Nathan yang melihat Talitha dan Miko di ruang tamu, seketika tampak waspada.
Melihat ekspresi Nathan, Miko seketika teringat. Bagaimana perang antara dirinya dan Evita bermula. Ketika Miko akhirnya menyadari itu, tawa kosong refleks terlepas darinya.
"M-Miko, kau baik-baik saja?" Talitha menatapnya khawatir.
"Kurasa, tidak," aku Miko. "Aku tak percaya, mengingat apa yang harus kulewati karena kepengecutan seseorang." Miko menatap lurus ke mata Nathan.
Nathan berdehem dan mengalihkan tatap pada Talitha, lalu mendekat sambil berbicara,
"Talitha, bisa kau menemani Jia makan? Aku harus mengecek sesuatu tentang pekerjaanku."
Talitha menoleh pada Nathan. "Oh, tentu saja." Talitha buru-buru berdiri untuk mengambil alih Jia. Namun, ketika dia akan menggendong Jia, Nathan menjauhkan Jia dari Talitha, membuat Talitha mengerutkan kening bingung.
"Tenanglah dulu," Nathan berbicara. "Tidak perlu buru-buru, tidak perlu panik. Ini bukan hal mendesak juga untukku, jadi kau tak perlu menekan dirimu sendiri seperti itu."
"Ah ..." Talitha meringis. "Tapi, kau sudah kehilangan banyak waktu untuk mengurus pekerjaanmu karena harus mengurus Jia dan membantuku ..."
"Bukan berarti aku tak bisa meng-handle pekerjaanku, Talitha," tandas Nathan. "Karena itu, tak perlu begitu tergesa-gesa. Kau bisa terluka."
Talitha meringis. "Baiklah," ia mengalah.
Nathan akhirnya memberikan Jia pada Talitha dan ia mengawasi Talitha hingga gadis itu menghilang di dapur. Baru setelahnya, ia duduk di sofa ruang tamu, berhadapan dengan Miko.
"Maaf." Itu adalah kata pertama yang ia ucapkan pada Miko. "Aku tak menyangka, situasinya akan menjadi seperti ini. Aku tak berpikir jika kau akan ..."
"Kau tak perlu meminta maaf untuk itu," tepis Miko. "Bukankah ada hal lain yang perlu kau mintai maaf?"
Nathan mengernyit. "Aku tahu, aku sudah gegabah karena perasaanku mengabutkan akal sehatku. Tapi, aku akan memastikan Talitha tidak akan terluka atau dirugikan karenaku."
"Well, maksudku bukan itu juga, tapi ... kurasa, kau masih seorang pengecut untuk mengakui itu," dengus Miko.
Nathan kembali mengernyit.
"Aku akan melupakan masalah itu jika kau bisa melakukan satu hal untukku," Miko menyebutkan syarat.
"Apa?" tanya Nathan waspada.
Miko tersenyum kecil. "Hanya ... jangan buat aku menjadi penjahatnya di sini. Aku tidak ingin menjadi musuh sepupumu itu. Dan ... kurasa aku tidak akan perlu mempermasalahkan hal ini lagi jika kau bisa sedikit membantuku."
"Membantumu tentang apa?" Nathan tampak penasaran kini.
"Jangan ikut campur dengan hubunganku dengan Evita," putus Miko. "Aku pun akan melakukan hal yang sama dengan kau dan Talitha."
Toh, Miko sudah melihat sendiri, jika Nathan bisa dipercaya untuk menjaga Talitha dan Jia. Terlebih, melihat bagaimana Nathan begitu tahu tentang kecorobohan Talitha yang terkadang seperti bom, rasanya Miko bisa tenang dengan membiarkan pria itu ada di samping Talitha.
Juna dan Nania pun pasti akan setuju dengannya tentang itu. Karena untuk mereka, tak ada yang lebih mereka khawatirkan selain kecerobohan Talitha. Uh, Miko mendadak merasa perlu berterima kasih pada Nathan jika mengingat masalah apa saja yang pernah dibawa Talitha. Well, bukankah pria itu adalah salah satunya? Meski, dia mungkin bukan 'masalah', melainkan solusi.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
The Baby's Project
DiversosDunia Talitha seolah runtuh ketika ia harus kehilangan kakak dan kakak iparnya, meninggalkannya dengan Jia, bayi mereka yang masih berumur satu tahun. Talitha bahkan tak bisa mengurus dirinya sendiri, bagaimana bisa dia mengurus keponakannya? Natha...
