Her World
Nathan dan Talitha yang baru keluar dari kamar Jia mengembuskan napas lega bersamaan. Mereka saling menatap dan tersenyum geli.
"Untung Jia tidak rewel dan tidur lebih cepat malam ini," kata Talitha.
"Ada apa? Apa kau ada perlu keluar?" tanya Nathan.
Talitha menggeleng. "Game. Aku ada pertandingan penting malam ini."
Nathan mengerjap. Game? Sepenting apa pertandingan game itu?
"Karena itu, boleh aku minta tolong padamu malam ini?" Gadis itu menatap Nathan penuh permohonan.
"Minta tolong seperti apa, maksudmu?" Nathan tidak langsung mengiyakan. Entah apa yang ada di kepala gadis itu.
"Jika nanti Jia terbangun saat aku sedang bermain game, bisakah kau mengurusnya dulu?" Gadis itu menangkupkan kedua tangannya. "Kumohon ..."
"Baiklah," Nathan mengalah. "Toh, tidak ada yang harus kulakukan malam ini."
Talitha mengangguk lega. "Terima kasih. Dan maaf karena harus merepotkanmu seperti ini."
Nathan menggeleng. "Kita kan, memang sudah sepakat untuk membagi jadwal mengurus Jia di malam hari. Anggap saja malam ini jadwalku."
Talitha tersenyum. "Oh iya, jika kau mencariku, aku ada di kamarku," ucap gadis itu sembari menunjuk pintu kamarnya.
Nathan mengangguk.
"Kalau begitu ... aku ke kamar dulu," pamit Talitha sebelum gadis itu berjalan mundur dan masuk ke kamarnya.
Nathan mendengus geli. Gadis itu benar-benar membuat semua orang sempurna mengkhawatirkannya. Nathan takjub akan bagaimana gadis itu masih sempat bermain game di tengah kehebohan hidup mereka.
Nathan memutuskan untuk turun dan makan malam. Namun, ketika baru sampai di anak tangga terbawah, Nathan teringat jika Talitha juga belum makan malam. Nathan akhirnya kembali naik dan pergi ke kamar Talitha untuk mengajaknya makan malam.
"Talitha," panggil Nathan setelah mengetuk pintu kamar Talitha.
"Masuklah, pintunya tidak dikunci," jawab Talitha dari dalam.
Perlahan Nathan membuka pintu kamar itu dan ia mematung di pintu melihat Talitha yang duduk di depan dua layar komputer di meja pojok kamar.
"Ada yang perlu kita diskusikan lagi?" tanya Talitha dengan tatapan tertuju pada layar dan jemarinya bergerak lincah di keyboard.
"Aku hanya ... ingin mengajakmu makan malam. Kau kan, belum makan malam juga," Nathan menyebutkan alasan kedatangannya.
"Ah, kau makan dulu saja," jawab Talitha, masih tanpa menatap Nathan. "Game-ku sudah dimulai."
Nathan tak tahu harus bereaksi bagaimana selama beberapa saat, jadi ia hanya berdiri di sana dan menonton Talitha bermain game. Gadis itu kemudian berbicara, memberi perintah,
"Jangan berpencar dulu. Strategi mereka adalah menyerang bersama satu-persatu anggota tim lawan. Tunggu mereka berpencar dulu, tapi tetap pergi berpasangan, jangan pergi sendirian."
Talitha lalu menoleh sekilas ke arah Nathan. "Ada lagi yang ingin kau katakan?" tanya gadis itu.
Nathan menggeleng. "Tidak. Hanya ... tidak ada. Pastikan kau turun untuk makan malam sebelum tidur," pesannya sebelum akhirnya meninggalkan kamar Talitha.
Nathan pun akhirnya turun sendirian, berlawanan dengan instruksi Talitha pada rekan di game-nya. Meski ia masih agak terganggu dengan kegiatan game Talitha yang mengalahkan makan malam. Sembari menyiapkan makan malam, Nathan memutuskan untuk menelepon Evita, adik sepupunya.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Baby's Project
LosoweDunia Talitha seolah runtuh ketika ia harus kehilangan kakak dan kakak iparnya, meninggalkannya dengan Jia, bayi mereka yang masih berumur satu tahun. Talitha bahkan tak bisa mengurus dirinya sendiri, bagaimana bisa dia mengurus keponakannya? Natha...
