Sultan berjalan santai di koridor sekolah dengan aura cerah yang selalu terpancar darinya. Menebar senyum ramah pada siapapun yang menyapa dan sesekali memberikan basa-basi singkat sebagai tanggapan.
"Kak Sultan semangat ya eskulnya" kata salah satu adik kelas, memberikan semangat.
Sultan menoleh dan mengulas senyum padanya. "Okey!" sahutnya singkat.
Keramahannya inilah yang membuat Sultan disukai banyak orang. Teman-temannya tak hanya berasal dari angkatan yang sama, tapi juga dari kalangan adik kelas sampai kakak kelas, baik laki-laki maupun perempuan, semuanya nyaman berinteraksi dengan Sultan.
Bruk.
Tubuh Sultan sedikit terhuyung ketika bahunya tiba-tiba disenggol kasar oleh seseorang.
"Ngehalangin jalan aja lo!" bentak Rian dengan nada sinis.
"Mata lo buta? Itu jalan masih luas banget, anjing!" Sultan membalas sambil menunjuk ke sisi kanan, menunjukkan ruang yang masih cukup lebar, bahkan untuk dilewati lima orang yang berjalan berjejer sekaligus.
"Ya, gua lagi jalannya disebelah sini. Siapa suruh lo jalan di depan gua?" kata Rian dengan nada menyebalkan.
Kesabaran Sultan yang memang setipis helaian tisu langsung habis hanya karena ucapan sederhana dari Rian. Dia mengerutkan alis dan menggertakkan giginya dengan perasaan kesal. "Dih, yaudah gausah jalan kaki aja lo sekalian. Sono naek anjing aja tuh, naek anjing! Ngeselin banget, sialan"
Tidak lagi ada balasan dari lawan bicara. Rian justru hanya diam memperhatikan wajah Sultan dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.
"Ck, ngerusak mood gua aja lo. Minggir, gua mau lewat!" kata Sultan sambil berjalan. Dia juga dengan sengaja menyenggol bahu Rian seperti yang dilakukan orang itu sebelumnya.
Sultan melanjutkan langkahnya menuju lapangan futsal yang sudah dipenuhi oleh siswa lain dari eskul yang sama dengannya.
Di sudut lapangan, di bawah pohon mangga, Sultan melihat ada Fatah yang sedang duduk bersandar dengan santai. Tanpa ragu, Sultan langsung menghampirinya.
"Halo, bang Fatahku tersayang" sapa Sultan dengan senyum lebar.
"Najis! Geli banget, anjir" sahut Fatah dengan ekspresi jijik.
Sultan malah tertawa lepas, tanpa rasa bersalah. Dia dengan santai ikut duduk di sebelah Fatah, lalu menyandarkan kepalanya di bahu abang kelasnya itu.
"Panas banget dah hari ini"
Tiba-tiba, perhatian mereka teralihkan oleh sosok Sagara yang baru saja datang. Fatah dan Sultan serempak mendongakkan kepala, dan langsung mengerutkan alis ketika melihat penampilannya yang tidak berganti memakai baju futsal, dan masih memakai seragam putih abu-abu.
"Lah, lo gak eskul, Gar?" tanya Sultan bertanya lebih dulu.
Sagara menggelengkan kepala, lalu ikut duduk bersandar pada batang pohon mangga di sebelah kiri Fatah. "Gak ah, mager. Panas banget begini"
"Yaelah, kaya lo bakal maen bola di gurun pasir aja sih. Lebay lo" cibir Fatah.
"Bilang aja lo males," Sultan ikut menyindir sambil mengibaskan tangan ke arah wajahnya, berusaha mengusir panas. "Gausah pake alasan panas segala deh lo."
"Ya pokoknya gua gak mau eskul dulu lah hari ini"
Fatah mengerutkan alisnya melihat gerak-gerik Sagara yang tidak biasa. "Loyo amat lo. Ada masalah?" tanyanya.
Sagara hanya menggeleng singkat tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Namun, gelengan itu tidak cukup untuk memuaskan rasa penasaran Fatah.
Sultan sebenarnya juga ingin bertanya lebih jauh, tapi belum dia sempat membuka mulut, pelatih sudah memanggil mereka untuk berkumpul.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Hate
Ficção AdolescenteSinister Series : 3 Sebelum membaca cerita ini, disarankan untuk melihat bio di profil lebih dulu!! Afrian Rega Pramudya, dengan sikap tengilnya sering kali memberikan gangguan pada Arrayan Sultan Argani, yang juga selalu dibalas dengan ketengilan s...
