Senja hampir habis, tapi jalanan belum benar-benar sepi. Suara motor masih ramai, lampu kendaraan berlalu-lalang, dan dari dalam minimarket, terdengar bunyi mesin kasir bercampur musik pop pelan yang nyaris tenggelam oleh kebisingan kota.
Di bangku depan minimarket, Sultan dan Rian duduk berdampingan. Es krim di tangan Sultan mulai mencair, dan batang rokok yang Rian hisap perlahan berubah semakin pendek, tapi tidak ada dari mereka yang benar-benar peduli tentang hal itu.
Jika bertanya, mengapa mereka bisa berakhir disini? Jawabannya karena sepulang sekolah tadi Sultan meminta untuk diantarkan pulang, tapi entah kenapa Rian malah membawanya berhenti disini.
“Perasaan tadi kan gua mintanya dianterin pulang, terus ini kenapa kita malah duduk di depan minimarket begini, anjir?” Sultan nyeletuk sambil melirik Rian, dengan nada suaranya yang setengah merengek tidak senang.
Rian berdecak. "Lu tuh gausah kebanyakan ngerengek kenapa sih? Duduk aja diem! Itu kan udah gua beliin es krim juga"
"Bukan masalah es krim, anjing. Sekarang ini kita ngapain coba disini? Gabut banget anjir cuman duduk diem doang begini kaya orang dongo"
"Meratapi hidup" jawab Rian dengann santai, lalu menghisap rokoknya lagi. Udara malam sudah mulai terasa sedikit dingin, tapi menurut Rian rasanya justru menenangkan.
"Woy, ayo balik aja sih!" ajak Sultan yang mulai frustasi. Dia sama sekali tidak bisa menikmati hal ini seperti yang Rian lakukan.
"Ssttt..." desis Rian menyuruh Sultan untuk diam.
"Ck." Sultan berdecak kesal, bergerak menyandarkan punggungnya dengan gerasakan kasar dan kembali menjilat es krimnya.
Namun, di detik berikutnya, raut wajah yang tadinya cemberut mendadak berubah sumringah. Sultan kemudian menunduk sambil membuka resleting tas yang dia sampirkan di bahu, lalu mengeluarkan botol plastik berisi makanan kucing yang selalu dia sediakan di dalam tasnya.
“Heh, mau kemana?" Tanya Rian yang terkejut melihat Sultan yang tanpa ragu sudah pergi menjauh.
Rian terus memperhatikan Sultan yang melangkah pelan ke pinggir trotoar, mendekati seekor kucing belang oranye yang tengah meringkuk di dekat tiang listrik. Tanpa mereka sadari, kucing itu rupanya sudah mengamati sejak tadi.
Pandangan Rian sama sekali tidak beralih, bahkan ketika Sultan berjongkok dan membuka botol kecil dengan gerakan jari yang luwes. Dia terus memperhatikan Sultan yang mulai menuangkan makanan kering itu ke tanah, lalu meratakannya sedikit dengan tangan agar mudah dijilat oleh kucing.
Bukannya langsung pergi, Sultan tetap berjongkok disana, menunggu kucing itu mendekatinya untuk makan.
Awal-awal kucingnya tampak ragu, tapi Sultan tetap setia diam tanpa melakukan pergerakan mendadak yang dapat membuat kucing itu takut. Dia hanya berjongkok di situ, dengan satu tangan di pangkuan dan satu lagi menjentik untuk memanggil si kucing.
Beberapa detik kemudian, si kucing oren mulai mengendus-ngendus dan akhirnya mendekat perlahan.
Dari samping, Rian busa melihat Sultan tersenyum saat kucingnya mulai memakan makanan yang tadi dia berikan. Senyuman itu tampak sederhana dan tulus, sama sekali tidak terlihat dibuat-buat. Bahkan sorot matanya pun menunjukkan kehangatan, seolah-olah dia benar-benar menikmati momen itu.
Dengan tenang, Sultan mengulurkan tangannya dan mulai mengelus bulu kucing itu dengan lembut.
Mata Rian masih terpaku pada sosok Sultan. Ada sesuatu yang kembali muncul dalam dirinya, sesuatu yang selalu tidak bisa dia jelaskan dengan lisan setiap kali melihat Sultan. Rasanya lebih tenang dari pada hanya duduk diam mengamati kendaraan berlalu lalang dari kursi di depan minimarket ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Hate
Teen FictionSinister Series : 3 Sebelum membaca cerita ini, disarankan untuk melihat bio di profil lebih dulu!! Afrian Rega Pramudya, dengan sikap tengilnya sering kali memberikan gangguan pada Arrayan Sultan Argani, yang juga selalu dibalas dengan ketengilan s...
