Masih mengenakan seragam putih abu-abu, Rian dan Sultan sudah berada di dapur rumah Sultan. Di atas meja, berbagai bahan telah tertata rapi. Ada tepung, gula, telur, mentega dan peralatan baking seadanya yang tersedia di rumah itu.
Sultan menyingsingkan lengan bajunya dengan percaya diri, sementara Rian berdiri di sampingnya, menatap bahan-bahan itu dengan ekspresi skeptis.
"Ini terus kita mulai dari mana nih?” tanya Rian pada akhirnya, mengungkapkan kebingungannya. Masalahnya, jangankan membuat kue, Rian bahkan tidak pernah menyentuh dapur sama sekali. Jadi dia total awam dengan segala sesuatu terkait hal ini.
"Gua udah cari resep yang paling gampang. Katanya tinggal campur semua bahan, aduk, terus panggang" kata Sultan yang sedikit mendengus ketika dia membuka layar ponselnya.
Rian mengangkat alisnya, membaca resep yang ditunjukkan Sultan. "Tinggal campur aja? Sesimpel itu?" tanyanya terdengar meragukan.
"Iya, kan udah gua bilang resep ini tuh bakal gampang banget. Udah lu percaya aja sama gua!" kata Sultan dengan penuh keyakinan.
Namun, kenyataannya tidak semudah itu.
Baru mulai menimbang bahan, kekacauan sudah terjadi. Rian, yang bertugas menuang tepung, justru menumpahkannya terlalu banyak hingga debu putih itu berhamburan di meja. Sementara itu, Sultan yang seharusnya memecahkan telur malah terlalu fokus memperhatikan Rian.
"Anjir, Rian! Itu lu cuman nuang tepung aja masa gak bisa? Kalah lu sama bocil yang baru belajar masak!" cibir Sultan, melirik meja yang berantakan. Ia tidak sadar bahwa telur yang seharusnya dia pecahkan ke dalam mangkuk, malah jatuh menetes ke atas lantai.
"Lah, lu ngaca bego! Liat tuh telor lu netes ke mana-mana!" sahut Rian sambil mengulas senyum tengil, balas menatap Sultan dengan pandangan meremehkan.
Ekspresi Sultan langsung berubah. Dia buru-buru menoleh dan mendapati cairan amis telur yang sudah terlanjur jatuh ke lantai. "Ah, gara-gara lu nih Yan, gua jadi gak fokus" hardiknya menyalahkan.
"Lah, ngapa jadi gua? Gua anteng aja nih dari tadi, cuman nimbang tepung" protes Rian, tidak terima disalahkan.
"Ya itu salah lu disitu! Lu cuman nimbang tepung doang aja gak becus, gimana nanti kalo ngadonin kue?" sahut Sultan dengan nada sengit yang tetap tidak mau kalah.
Rian mendecih. Sudut bibirnya terangkat membentuk seringai licik, tanda kebiasaan isengnya mulai muncul. "Yaudah nih, sekalian aja lu yang jadi kuenya"
Tanpa memberi kesempatan Sultan merespons, secara sengaja, Rian menepuk pipi Sultan dengan tangannya yang penuh tepung, membuat pipi gembul korbannya jadi sedikit cemong.
Sultan terdiam sejenak karena terkejut, sebelum dia menatap Rian dengan mata menyipit penuh ancaman. "Rian! Lu ngajak ribut, ya?"
Tanpa pikir panjang, Sultan mengambil segenggam tepung dan melemparkannya ke arah Rian. Mengakibatkan, Rian terbatuk-batuk dan mengibaskan tangannya di udara, sebelum akhirnya terkekeh singkat.
"Iya, iya damai! Ini fokus bikin kuenya aja dulu!" kata Rian sambil mundur selangkah dan membuat simbol peace dengan dua jarinya.
Melihat Rian menyerah secepat itu bukanlah hal biasa. Sultan sempat memicingkan mata curiga, tapi akhirnya memilih menerima ajakan damai tersebut dan kembali pada tujuan awal mereka, membuat kue.
Namun, masalah lain muncul. Setelah semua bahan dicampur, adonan itu terlihat aneh karena seperinya terlalu cair.
"Eh Yan, ini ada yang salah gak sih?" Sultan bertanya, sambil menatap kue itu dengan pandangan ragu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Hate
Teen FictionSinister Series : 3 Sebelum membaca cerita ini, disarankan untuk melihat bio di profil lebih dulu!! Afrian Rega Pramudya, dengan sikap tengilnya sering kali memberikan gangguan pada Arrayan Sultan Argani, yang juga selalu dibalas dengan ketengilan s...
