Malam itu, markas Sinister tampak lengang. Beberapa anggota duduk di sudut ruangan, asyik bermain game di ponsel mereka, sesekali tertawa kecil.
Rian berjalan mengikuti Gilang. Awalnya, Gilang hanya bilang ingin mampir untuk mengobrol, tapi begitu sampai, dia langsung berhambur mendekati Fatah.
"Ck, ngapain dah lu ngajak gua kalau ujungnya cuman mau bucin doang?" gerutu Rian dengan ekspresi kesal.
"Lah katanya lu mau ketemu Sultan?" sahut Gilang asal.
Rian langsung mendelik. "Mana ada gua ngomong gitu anjing!"
Fatah, yang masih dalam rangkulan Gilang, tersenyum geli dan ikut mengambil kesempatan untuk meledek. "Tuh, Sultannya ada di belakang" katanya.
Rian mendengus pelan, lalu memilih untuk berjalan ke salah satu kursi kosong di sudut ruangan. Dia merogoh saku celananya, mengeluarkan sebungkus rokok, dan mengambil sebatang. Setelah menyalakannya dengan korek, dia menghisap tembakau itu dalam-dalam sebelum menghembuskan asapnya ke udara.
"Gua baru tau lu ngerokok."
Rian menghela napas panjang. Suara itu terlalu familiar di telinganya, dan dia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa pemiliknya.
"Emang kenapa kalau gua ngerokok?" balasnya malas.
Sultan yang berdiri tak jauh darinya, hanya mengangkat bahu sebelum akhirnya menjatuhkan diri pada tempat kosong di sebelah Rian. Dia menatap Rian dengan santai, memperhatikan setiap gerakannya, seolah sedang mengamati sesuatu yang menarik.
"Ngapain sih lu di sini? Gabung sama temen lo yang lain kek sono!" Rian berkata dengan nada sarkas.
Alih-alih menjawab, Sultan malah memasang ekspresi cemberut, menundukkan kepala seolah tersinggung.
Rian mengernyit, merasa geli sekaligus risih. "Ngapa muka lu begitu? Najis banget, nyet."
Sultan mendengus, menyandarkan punggungnya ke kursi. "Gua bosen , Yan."
"Bosen kenapa?"
"Ya bosen aja, anjir. Emangnya bosen harus make alesan?" Sultan bersungut. "Emangnya lu gak bosen?"
Rian kembali menghisap rokoknya, lalu menghembuskan asap ketika dia menghela napas. "Bosen sih," akunya pelan.
"Nah, kan!" Sultan langsung berbinar senang, nyaris berseru semangat. "Ke pasar malem, yuk?"
"Pasar malem di mana?" Rian menatap Sultan dengan tatapan bingung.
"Ada lah. Udah, lu ikut gua aja!" ajak Sultan penuh antusias. Dia sudah lebih dulu bangkit, menarik satu tangan Rian seolah tidak mau menerima penolakan.
Rian mendecak, tapi tetap ikut berdiri. Mengekori Sultan yang langsung berjalan mendekati Fatah dan Gilang.
"Gua cabut dulu ya, bang," kata Sultan ringan. "Mau pergi ke pasar malem sama Rian" pamitnya.
Fatah hanya mengangguk kecil, meski alisnya sedikit berkerut, bingung. Sementara itu, Gilang yang sejak tadi menempel pada Fatah tiba-tiba menoleh ke arah Rian dengan senyum aneh, seolah mengejek.
Membuat Rian mendengus sambil mengacungkan jari tengahnya ke arah Gilang, yang justru terkekeh puas.
Tanpa banyak berdebat lagi, akhirnya mereka berdua pergi ke pasar malam yang letaknya tidak terlalu jauh dari sana.
Perjalanan hanya memakan waktu sekitar sepuluh menit dengan motor hingga mereka tiba di sana. Begitu memasuki area pasar malam, aroma makanan langsung menyerbu hidung. Asap dari gerobak bakso bakar mengepul, wangi manis permen kapas yang baru matang tercium menggoda, dan bau khas gorengan semakin membuat perut terasa lapar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Hate
Fiksi RemajaSinister Series : 3 Sebelum membaca cerita ini, disarankan untuk melihat bio di profil lebih dulu!! Afrian Rega Pramudya, dengan sikap tengilnya sering kali memberikan gangguan pada Arrayan Sultan Argani, yang juga selalu dibalas dengan ketengilan s...
