Sepulang sekolah, Rian dan Sultan berjalan beriringan menuju parkiran. Tak ada percakapan berarti di antara mereka, hanya suara langkah sepatu yang beradu dengan tanah dan riuh ramai siswa lain disekitar. Meski begitu, keheningan itu sama sekali tidak canggung, sebaliknya justru terasa nyaman.
Sesekali, tangan mereka bersentuhan ringan. Hanya sebentar, tapi cukup untuk membuat jantung Rian berdebar tak karuan. Dan meski Rian mencoba bersikap biasa, senyum tipis yang berusaha dia tahan perlahan tetap muncul di wajahnya. Ada perasaan hangat yang tumbuh diam-diam, membuatnya ingin menggenggam tangan Sultan lebih lama, tapi juga takut kalau keberaniannya justru merusak momen sederhana ini.
"Yan, kita beneran bikin carbonara, kan?" tanya Sultan tiba-tiba, suaranya ringan dengan mata yang menatap penuh harap ke arah Rian.
Rian berdecak pelan dan menoleh dengan wajah malas. "Yaudah, iya. Tapi jangan nyalahin gua ya kalau gagal. Kue kemarin aja-"
"-itu gara-gara lu masukin telornya lima, goblok. Harusnya kan tiga doang" potong Sultan beralasan.
"Woi, diem anjing!" Rian mendesis tidak terima disalahkan.
"Yaudah nanti mampir minimarket dulu ya" seru Sultan sambil memeluk lengan Rian dengan kedua tangannya.
Sedangkan si pemilik lengan hanya bisa terdiam membisu, sibuk menatap lengannya yang entah sengaja atau tidak dipeluk erat oleh Sultan.
Singkat cerita mereka mampir ke minimarket dekat komplek perumahan tempat Sultan tinggal. Mengikuti panduan resep dari tiktok, Sultan mengarahkan Rian untuk membeli beberapa hal, sementara dia sibuk membaca label keju.
Rian yang diberi perintah terlihat niat tak niat mengambil sebungkus sosis secara acak, lalu meletakkannya di keranjang yang dibawa oleh Sultan.
"Yan, gua nyuruh lu ambil sosis yang isi keju, jir. Ganti!" titah Sultan sembari menyerahkan kembali sosis tersebut.
"Apa bedanya dah? Sama-sama sosis anjir."
"Ya biar lebih enak aja rasanya. Dah sana ganti-ganti!"
Rian pada akhirnya memilih mengalah. "Si paling tau rasa sosis tuh ye" gerutunya sambil berlalu.
Tidak lama kemudian Rian kembali dengan sebungkus sosis di tangannya. Namun, Sultan masih tetap degan kegiatannya memilih keju.
Rian berjalan mendekat, meletakkan sosis yang dia bawa ke dalam keranjang belanja mereka. "Buset, dari tadi kaga kelar-kelar ini milih keju doang" celetuknya berkomentar.
"Ya soalnya gua bingung kalo carbonara tuh makenya keju parmesan atau keju mozarella sih?"
"Udah sih beli yang mana aja, orang kita juga make pasta carbonara kemasan masaknya"
"Gak bisa. Kalo nanti kejunya salah, rasanya jadi gak enak kaya kue waktu itu gimana?"
Rian berdecak sambil memutar matanya malas. "Yaudah beli aja dua-duanya, elah. Ribet amat" katanya yang segera merampas dua keju yang sedang Sultan pegang, lalu memasukkannya ke dalam ke ranjang. "Dah ayo!" Kemudian Rian membawa keranjang belanja itu dan menganggandeng tangan Sultan di sisi yang lain. Mengajaknya membayar belanjaan mereka.
Begitu sampai rumah, Sultan langsung melesat ke dapur. Sedangkan, Rian duduk di kursi sambil pura-pura main HP, padahal sesekali curi-curi pandang ke arah Sultan yang sibuk menyiapkan air rebusan, sosis, dan keju.
"Yan, tolong rebusin spageti"
"Mager lah, udah lu aja sih yang masak."
"Anjing, bantuin lah minimal, gua pecat jadi pacar ya lu"
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Hate
Teen FictionSinister Series : 3 Sebelum membaca cerita ini, disarankan untuk melihat bio di profil lebih dulu!! Afrian Rega Pramudya, dengan sikap tengilnya sering kali memberikan gangguan pada Arrayan Sultan Argani, yang juga selalu dibalas dengan ketengilan s...
