012

2.2K 186 39
                                        

Beberapa menit setelah bel pulang berbunyi, Rian berjalan menuju area parkir. Menyusul Sultan yang katanya sudah menunggu di motornya.

Namun, baru sampai di gerbang sekolah, Rian sudah melihat Sultan yang sedang mengobrol berdua dengan Reno.

Rian langsung mengerutkan alis dengan ekspresi wajah yang jelas menunjukkan ketidaksenangan, dia menatap tajam ke arah keduanya. Dari tempatnya berdiri, samar-samar dia bisa mendengar Reno yang hendak mengajak Sultan pergi bersama di hari Minggu, dan dia juga melihat Sultan yang tersenyum lebar, seolah-olah akan menerima ajakan tersebut.

Perasaannya mendadak terasa tak nyaman. Jadi, tanpa banyak bicara, dia berjalan cepat mendekati Sultan dan langsung menarik lengannya.

“Eh! Apaan sih, Yan?” Sultan memprotes, tapi langkahnya tetap mengikuti tarikan Rian pada tangannya.

“Katanya mau beli pancong!?” sentak Rian tanpa menoleh ke arah Reno yang kini hanya bisa memandang mereka dengan rahang yang mengeras.

Sultan mendesah panjang, mengira bahwa Rian hanya mengusilinya seperti biasa. “Ya, gausah pake narik-narik segala kenapa sih? Gue tuh masih ngomong sama Reno tadi”

Rian tidak menjawab. Sebaliknya, dia terus menyeret Sultan sampai mereka tiba di tempat motornya terparkir. Menahan tangan Sultan, menunggunya untuk naik tanpa kata.

Sayangnya, Sultan tidak menangkap sinyal itu. Dia mengerutkan alisnya dan menatap Rian, tidak mengerti. "Apa? Kenapa lo ngeliatin gua begitu?" tanyanya bingung.

Rian menghela napasnya, sedikit frustasi dengan tingkah Sultan dan kesal yang menjalar di hatinya. "Naik!" titahnya.

"Owalah, bilang dong!" ucap Sultan dengan wajah yang menunjukkan pemahan, lalu segera bergerak naik ke atas motor. "Lu diem aja gua kira kebelet boker" lanjutnya.

Setelah memastikan Sultan sudah duduk dengan benar di jok motornya, Rian juga bergerak naik dan menjalankan motor itu.

Butuh waktu 20 menit hingga mereka tiba di kios pancong lumer yang berada di dekat stasiun. Rian memarkirkan motornya. Tanpa diduga, setelah mesin motor dimatikan, mereka turun dari motor secara bersamaan, membuat keseimbangan motornya sedikit goyah.

Beruntungnya, Rian memiliki refleks yang bagus. Dengan cepat, dia mengendalikan motor dan mengulurkan tangan ke belakang untuk meraih tubuh Sultan, mencegah mereka terguling ke tanah.

“Sabar, dong!” seru Rian dnegan nada sedikit menyentak.

Sultan hanya tersenyum tanpa dosa, memamerkan gummy smile miliknya, yang membuat Rian seketika membeku. Seperti terhipnotis, dia sama sekali tidak berkedip menatap wajah Sultan yang begitu manis.

"Woy, Rian! Heh, ayo beli pancong, kok malah bengong?" tegur Sultan sambil menepuk-nepuk pipi Rian.

"Iya, bawel banget lo kaya banci" sahut Rian yang sudah kembali pada kewarasannya.

"Please, jangan bikin mood gua jelek! Tangan gua ini udah gemes banget nih pengen mukul kepala lo"

"Iya, iya. Elah, berisik banget suara lo" Rian turun dari motornya sambil berdecak, lalu langsung menyeret Sultan dengan cara menarik kerah belakangnya.

Sultan jelas memberontak. "E–eh! Yan, ih lepasin, anjir!" protesnya.

Namun, kali ini Rian hanya main-main dan langsung melepaskan cengkeramannya pada kerah Sultan. Membiarkan cowok yang lebih pendek itu berjalan lebih dulu masuk ke dalam kios.

Begitu langkah mereka berhenti di depan outlet pemesanan, Sultan langsung menyapa penjualnya dengan hangat, bahkan juga bertegur sapa dengan beberapa staff ya g bekerja di kios ini, seperti Sultan sudah mengenal mereka semua dengan akrab. Berbanding terbalik dengan Rian yang hanya berdiri canggung di belakang Sultan, memperhatikan interaksi itu dalam diam.

Love HateTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang