Rian terus menggenggam tangan Sultan sepanjang berjalan di koridor. Mengabaikan beberapa orang yang memperhatikannya dengan tatapan penasaran dan penuh minat. Namun, Rian hanya fokus pada langkahnya saja, mengeratkan pegangannya dan berjalan mantap membawa Sultan ke UKS.
Sementara Sultan yang terpaksa mengikuti di belakang, terus berusaha menarik tangannya dengan ekspresi merengut. "Rian, lepasin tangan gua! Ini sakit, woy!"
Rian mendengus, tapi tetap sedikit melonggarkan genggamannya. "Yaelah, baru gitu doang udah teriak sakit. Lemah banget, sih" katanya sambil melirik pada Sultan dengan senyum mengejek.
"Heh!? Ini tuh bukan gua yang lemah, tapi emang lo yang narik tangan gua kekencengan. Lagian lo pikir, gua sapi yang bakal lari kalo gak dipegangin? Gua masih bisa jalan sendiri ya ke uks" katanya terdengar kesal.
Rian melepaskan tangan Sultan ketika mereka sudah berada tepat di dalam ruang UKS dan beralih menatap Sultan dengan alis terangkat. "Sapi? Lo lebih mirip anjing sih dari pada sapi" ejeknya.
Sultan mendelik marah. "Muka lo tuh mirip biawak" balasnya sambil memegangi lengannya yang sedikit memerah.
Rian menggerakkan dagunya untuk menunjuk sebuah kursi. "Udah, sana duduk! Biar gue bisa ngobatin tuh kepala lo yang benjol"
"Gausah. Gue bisa sendiri" tolak Sultan dengan kepala yang menggeleng.
"Kaya lo bisa aja," ucap Rian terdengar meremehkan. Kemudian dia mendekat dan langsung menekan bahu Sultan untuk memaksanya duduk. "Tinggal duduk doang, banyak gaya lo"
"Dih! Siapa lo maksa-maksa gua?" Sultan mencoba berdiri lagi, tapi Rian menahan bahunya dengan kedua tangan.
"Lo diem dulu bisa gak? Gue cuman mau bantuin doang, mumpung gua lagi baik nih" Rian menjelaskan dengan nada yang sedikit berbeda dari caranya biasa berbicara. Kali ini seperti terdengar lebih tenang dan lembut.
Sultan sempat terdiam beberapa detik, sebelum dia akhirnya menurut. "Pelan-pelan ya!"
"Iya, tenang aja sih" Rian berbalik, membuka lemari tempat penyimpanan obat dan mencari sesuatu di dalamnya.
"Mana bisa tenang? Gua bawaannya curigaan mulu kalo sama lo"
Rian yang sudah menemukan apa yamg dia cari kembali mendekati Sultan. Alisnya mengkerut heran setelah mendengar apa yang Sultan katakan. "Lah kenapa?" katanya yang seperti merasa tidak terima dengan hal itu.
"Dih, make nanya?" kata Sultan dengan mata yang memicing sinis.
"Emang gua kenapa? Perasaan gua gak kenapa-napa?"
"Nih malaikat mau jawab petanyaan lo juga bingung, Yan" kata Sultan lagi sambil mendengus lelah.
Rian tidak lagi menanggapi. Dia hanya menarik sedikit sudut bibirnya yang berkedut, sebisa mungkin berusaha untuk tidak kelepasan tersenyum.
Dengan sebuah hot pack di tangannya, Rian menarik kursi lain dan duduk tepat di hadapan Sultan. Kemudian tanpa aba-aba dia menarik leher cowok dihadapannya ini agar lebih mendekat. "Sebelah sini yang sakit?" tanyanya sambil meraba bagian belakang kepala Sultan.
"Iya–aw! Jangan diteken, goblok!" Sultan melayangkan satu pukulan kecil pada perut Rian ketika merasa pemuda itu menekan tempat sakitnya terlalu kuat.
"Gak sengaja" sahutnya. Kemudian Rian dengan perlahan mulai menempelkan hot pack yang dia pegang ke bagian yang tadi dia tekan.
Gerakan Rian penuh kehati-hatian, mencoba sebisa mungkin untuk tidak memperparah rasa sakitnya lagi.
Sementara, Sultan hanya diam mengerutkan alis dengan mata yang terpejam, dan sesekali meringis saat kompres hangat itu menempel pada kulitnya. "Sakit banget, sumpah. Gara-gara lo nih, Yan," Sultan bergumam pelam dengan nada setengah kesal.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Hate
Teen FictionSinister Series : 3 Sebelum membaca cerita ini, disarankan untuk melihat bio di profil lebih dulu!! Afrian Rega Pramudya, dengan sikap tengilnya sering kali memberikan gangguan pada Arrayan Sultan Argani, yang juga selalu dibalas dengan ketengilan s...
