Karena Sultan masih saja bersikap aneh, Rian jadi merasa sungkan untuk pulang meninggalkannya. Hatinya berat melihat Sultan yang biasanya cerewet dan banyak tingkah mendadak jadi pendiam, seolah sedang menyembunyikan sesuatu. Setelah berpikir sejenak, akhirnya Rian mengajaknya keluar. Alasannya sederhana, hanya untuk ganti suasana
Mereka akhirnya tiba di sebuah lapangan kecil yang tak jauh dari taman kota. Udara terasa lembut, tapi suasana hati Sultan tetap terasa membingungkan. Sementara itu, Rian langsung mengambil bola basket dari sisinlapangan, lalu mulai memantul-mantulkannya di atas aspal yang sedikit retak.
“Ayo, basket. Lawan gua!” tantang Rian dengan senyum mengejek.
Sultan memutar bola matanya. “Males, ah"
“Bilang aja kalo lo takut kalah,” kata Rian memprovokasi.
"Gak ada ceritanya gua takut kalah sama lo, ya" balas Sultan cepat.
"Yaudah nih bola, ayo main!” teriak Rian sambil melempar bola ke arah Sultan.
"Maksa anjir!” jawab Sultan, tapi dia tetap bergerak melompat dan mencoba melakukan lay-up.
Namun, baru lima menit berlalu, Sultan sudah tertinggal beberapa poin dan tampak kewalahan. Napasnya memburu, dadanya naik turun cepat, dan keringat mengalir deras dari pelipisnya hingga membasahi leher kaos. Langkah kakinya mulai melambat, tangannya terjulur sesekali hanya untuk menghalangi, bukan merebut.
Sementara itu, Rian masih terlihat santai. Gerakannya gesit dan lincah, seperti tubuhnya belum kehilangan tenaga sedikit pun. Dia memantulkan bola dengan irama yang stabil, lalu menggocek ke kiri dan kanan, memancing Sultan agar tetap mengejarnya. Sesekali, Rian tertawa kecil saat Sultan hampir terpeleset karena terlalu semangat merebut bola.
“Cepet banget sih lo,” desah Sultan sambil membungkuk, tangan bertumpu di lutut, mencoba mengatur napasnya.
Rian hanya menyeringai. Dia menyeka keringat di dahinya dengan ujung kaos yang sudah lembap, lalu kembali memantulkan bola ke tanah. Kali ini, dia sengaja memperlambat gerakannya, memberi kesempatan Sultan untuk mengejar, tapi baru beberapa detik, bola itu kembali berhasil dia ambil dan langsung dia lempar masuk ke dalam ring dengan mudahnya.
Baru aja Sultan mau mengajak istirahat, Rian tiba-tiba melambai padanya sambil melangkah ke arah luar lapangan. Lu tunggu di sini!”
“Hah? Lu mau kemana?” tanya Sultan, tapi Rian sudah lebih dulu pergi tanpa memberikan jawaban.
Sultan berdiri diam di tengah lapangan, matanya heran menatap ke depan. Kemudian, dia memilih untuk berjalan pelan ke pinggir lapangan dan duduk di atas beton pembatas, membiarkan tubuhnya terkulai lemas. Dengan tangannya sendiri, dia mengipasi wajahnya yang sudah basah oleh keringat. Ekspresinya menunjukan kelelahan yang bercampur kesal. Dahinya berkerut dengan bibir yang sedikit manyun. “Rian monyet,” gumamnya. “Sok misterus banget anjing, nyuruh nunggu tapi gak bilang mau kemana.”
Setelah menunggu selama sepuluh menit, Rian kembali akhirnya dengan dua botol minuman dingin di tangan, yang alah satunya langsung diletakkan di pangkuan Sultan, sengaja ingin membuat korbannya kedinginan oleh botol minuman itu.
“Tuh, buat lu. Haus, kan?” katanya tanpa rasa bersalah karena telah meninggalkan Sultan sendirian di tengah lapangan tanpa penjelasan.
"Dingin anjing!" Namun, Sultan tetap menerima minuman itu, walau dengan ekspresi cemberut. “Bilang dulu kek kalo mau pergi beli minum, kan gua jadi gak planga-plongo kaya orang dongo”
"Lah, lu mah emang udah dongo dari sananya. Lagian, kenapa juga gue harus izin dulu ke lu? Emangnya lu pacar gue?" kata Rian, berusaha terdengar santai sambil memposisikan diri duduk di sebelah Sultan. Bibirnya menyunggingkan senyum menggoda, tapi jantungnya berdetak kencang karena kalimat asal ceplos yang baru saja keluar dari mulutnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Hate
Teen FictionSinister Series : 3 Sebelum membaca cerita ini, disarankan untuk melihat bio di profil lebih dulu!! Afrian Rega Pramudya, dengan sikap tengilnya sering kali memberikan gangguan pada Arrayan Sultan Argani, yang juga selalu dibalas dengan ketengilan s...
