004

2.9K 211 35
                                        

Sultan berjalan beriringan di sebelah Fino, menggoyang-goyangkan tangan abang-abangannya itu sambil merengek. Tingkahnya persis seperti anak kecil yang sedang membujuk orang tuanya. Dia memeluk lengan Fino, wajahnya memelas dan ada nada manja yang membuat beberapa siswa lain melirik geli ke arahnya.

"Bang, please temenin gue cobain toko es krim yang baru buka itu!" bujuk Sultan. "Lu tega gua pergi sendirian, bang?"

Fino tetap diam. Wajahnya sama sekali tidak menampilkan ekspresi apapun, menatap lurus ke depan seperti tidak terganggu dengan Sultan di sampingnya. Namun, Sultan tidak menyerah. Semakin Fino mengabaikannya, semakin Sultan menempel pada lengan Fino.

Di samping keduanya, Sagara yang juga sedang berjalan mengomentari dengan nada malas, "Udah kek, Sul! Orang bang Finonya aja gak mau gitu"

Sultan mendelik pada Sagara. "Ish, emang kenapa sih? Lu bantuin gua kek bujukin bang Fino"

"Males banget" komentar Sagara sambil merotasikan matanya.

Sultan kembali menolehkan kepalanya pada Fino, sedikit mendongak karena perbedaan tinggi badan di antara mereka yang cukup kontras. "Bang, ayo kek temenin gua pergi, bang! Masa gua pergi sendirian kaya orang dongo, jir? Ayo lah bang!"

Tidak jauh di belakang mereka, ada Rian yang berjalan dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana.

Rian menatap lurus pada Sultan yang bergelayut erat di lengan Fino, memandangnya tajam, lalu mendengus sinis. "Banci," gumamnya dengan nada sarkas yang hanya bisa terdengar oleh dirinya sendiri.

"Eh itu bang Fatah bukan sih? Ngapain dah dia diem aja disitu?" tanya Sultan sambil memicingkan matanya heran melihat Fatah yang seperti orang kebingungan di depan gerbang sekolah.

Tanpa menjawab pertanyaan Sultan, Fino melangkahkan kaki mendekati Fatah, membuat Sultan yang masih memegangi tangannya, mau tidak mau mengikuti. Begitu pula dengan Sagara yang juga penasaran.

Ketika mereka sampai di dekat Fatah, Sultan dengan gerakan cepat langsung melepas tangan Fino dan berganti merangkul pundak Fatah. "Bang Fatah, kita pergi beli es krim yuk? Di deket gang depan jalan yang mau ke markas itu ada toko es krim baru tau. Kesana yuk?" ajaknya merayu.

Fatah terlihat ingin menolak, tapi belum sempat membuka mulut, Sagara sudah lebih dulu ikut merangkul pundaknya dari sisi lain. "Udah ikut aja sih, bang! Mau di traktir sama Bang Fino katanya" ucap Sagara menunjuk Fino yang terlihat cuek.

Fatah kemudian menatap Fino seakan meminta validasi atas perkataan yang baru saja Sagara katakan, dan Fino mengangguk seolah bisa berkomunikasi lewat telepati.

Akhirnya, Fatah menghela napas panjang, menyerah. "Yaudah ayo" katanya menyetujui dengan nada pasrah.

"YEAY!" jerit Sultan senang sambil melompat-lompat kecil tanpa melepas rangkulannya.

Keempat motor mereka akhirnya melaju beriringan menuju toko es krim yang Sultan maksud. Jalanan sore itu tidak terlalu ramai, dan Sultan terus bersenandung kecil sepanjang perjalanan.

Namun, tanpa mereka sadari, ada satu motor lain yang terus mengikuti di belakang mereka sejak dari sekolah.

Motor milik Rian.

Entah apa yang membuatnya melakukan ini. Yang Rian tahu, begitu motor keempat orang itu melaju keluar dari sekolah, dia langsung menyalakan mesin motornya dan mulai mengikuti.

Awalnya, dia pikir ini hanya iseng. Namun semakin jauh dia mengikuti, semakin dia sadar, tindakannya ini terasa aneh. Tidak ada alasan yang jelas untuk melakukannya, dia hanga ingin melakukannya.

Tangan Rian mencengkeram setang motor lebih erat, pandangannya fokus pada punggung Sultan yang sesekali terlihat di sela-sela motor lain. Sultan yang terlihat santai di atas motornya, membuat Rian tanpa sadar menduga-duga apa yang sedang di pikiran cowok itu.

Love HateTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang