020

2K 157 42
                                        

Rian terus menggandeng Sultan hingga tiba di tempat motornya terparkir, tidak jauh dari warmindo.

Begitu sampai, barulah Sultan berhenti dan menarik tangannya yang sejak tadi berada dalam genggaman Rian.

"Lu tuh kenapa sih?" Sultan menatap Rian dengan bingung. "Makanan gue belom juga habis, tapi lu udah buru-buru aja ngajak gua pergi"

Rian berdecak, menyugar rambutnya ke belakang dengan ekspresi kesal yang masih jelas terlihat. "Gue males aja ada dia. Dia tadi tuh kayak–"

"Kayak apa?" potong Sultan, dengan alisnya yang berkerut bingung.

Rian sibuk merangkai kata, tapi pikirannya terasa buntu mencari alasan yang masuk akal untuk menjawab, hingga pada akhirnya dia hanya bisa menghela napas dengan kasar. "Ya, pokoknya gue gak suka aja liat dia tiba-tiba muncul terus langsung nempel gitu ke elu" katanya.

Sultan menatapnya lama dengan raut bingung. Namun, perlahan matanya menyipit, dan ekspresinya berubah penuh kecurigaan. "Kenapa dah? Kok gua ngerasanya lu kaya lagi marah?"

Rian mendadak tersedak ludah saat mendengar pertanyaan itu. "Gue biasa aja," katanya, berusaha tetap terlihat santai.

"Masa sih? Tapi kok muka lu keliatan kayak pengen nonjok orang gitu" tanya Sultan yang memperhatikan Rian dengan tatapan skeptis.

"Itu mah mata lu aja yang ngelihatnya gak bener!" Rian melengos, tapi ekspresinya jelas tidak bisa menyembunyikan bahwa dia memang sedang kesal.

Melihat itu, Sultan mendengus pelan. Dia mungkin tidak tau apa alasan Rian bersikap seperti ini, tapi bukan berarti dia tidak menyadari raut wajah Rian yang jelas-jelas menunjukkan ketidaksenangan sejak Reno datang.

"Tapi serius, Yan!" Sultan kembali bicara. Nada suaranya memang terdengar jenaka, tapi ada rasa ingin tahu yang jelas terselip di dalamnya. "Lu tuh kenapa?"

"Kenapa apanya?"

"Kenapa lu tiba-tiba kayak mode senggol bacok gitu pas Reno dateng?"

Rian total kosong mendengar pertanyaan itu. Meskipun Sultan bertanya dengan nada biasa, tapi rasanya sangat tepat sasaran membaca isi pikirannya.

"Ya, gue cuman gak suka aja," jawab dia  pada akhirnya, masih berusaha beralasan.

Sultan akhirnya menghela napas, mulai frustrasi dengan jawaban Rian yang sedari tadi tidak memuaskan rasa penasarannya. "Ya lu tuh gak sukanya kenapa?" geramnya.

"Mukanya nyebelin" jawab Rian sambil menatap ke arah lain.

Alis Sultan semakin menukik sebab jawaban yang Rian berikan justru membuatnya semakin kebingungan. "Nyebelin gimana? Perasaan muka lu yang lebih nyebelin."

"Lebih nyebelin muka dia, lah!" sanggah Rian dengan nada sewot. Merasa tidak terima dengan apa yang Sultan katakan.

Sultan memutar mata dengan malas mendengar Rian mengatakan itu. Ingin sekali Sultan meneriaki bahwa wajah Rian itu sangat amat menyebalkan. Namun, karena tidak ingin memulai perdebatan baru, dia hanya berkata, "Oke. Gue ngerti lu gak suka sama Reno, tapi kan gue gak ada masalah sama dia?"

Rian langsung berdecih sinis. "Nah disitu masalahnya!"

"Apaan jir?"

"Lu tuh gampang banget akrab sama orang" celetuk Rian pada akhirnya dengan ekspresi kesal yang bercampur rasa frustrasi. "Padahal jelas-jelas tuh orang ada maunya" lanjutnya lagi.

Sultan masih tidak mengerti. "Lah, emang dia mau apaan dari gua?"

"Ya mana gue tau?!" balas Rian dengan nada sinis, meskipun sebenarnya dia tahu jawabannya dengan sangat jelas.

Love HateTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang