023

2K 154 44
                                        

Saat matahari mulai naik, sinarnya perlahan menyelinap melalui celah jendela, menyorot lembut ke dalam kamar yang masih diselimuti keheningan. Cahaya hangat itu jatuh di wajah Sultan, memaksanya mengerjap pelan.

Begitu kesadarannya pulih sepenuhnya, barulah Sultan menyadari posisinya yang tertidur dalam pelukan Rian. Kepalanya bertumpu pada lengan pemuda itu, sementara napas mereka berdua terdengar saling bersahutan dari jarak yang cukup dekat. Sesaat, waktu terasa melambat. Hanya ada mereka, terperangkap dalam posisi yang terlalu canggung.

Seharusnya, Sultan langsung bangun begitu terjaga dari tidurnya. Namun, tubuhnya terasa kaku, seakan enggan untuk bergerak. Matanya terpaku hanya pada wajah Rian yang begitu dekat. Dia memperhatikan hidung Rian yang tegak, dengan bibir yang sedikit terbuka, serta helaian rambut yang berantakan di dahi Rian. Entah mengapa, wajah Rian terlihat berbeda dari biasanya.

Membuat sebuah perasaan aneh menyelinap ke dalam hati Sultan dan menyebabkan jantungnya berdegup lebih cepat. Berbeda dari gugup atau canggung, ini terasa seperti sesuatu yang lain, yang tidak Sultan pahami.

Perlahan, Sultan menarik napas dalam, berusaha meredakan debaran di dadanya. Namun, semakin lama dia menatap Rian, semakin sulit baginya untuk mengabaikan getaran halus yang menyelinap ke hatinya.

Ada kehangatan yang menjalar pelan, terasa asing namun tak sepenuhnya membuatnya gelisah. Justru, ada bagian dari dirinya yang ingin tetap berada di posisi ini dan menikmati perasaan yang perlahan masuk tanpa bisa dia tolak.

"Ergh..."

Rian bergumam pelan dalam tidurnya, tubuhnya sedikit bergerak, membuat Sultan refleks menahan napas. Namun, alih-alih terbangun, Rian justru semakin merapat, hingga Sultan benar-benar merasa seolah dunianya berhenti sejenak.

Mendadak ingatan tentang series BL yang pernah Sultan tonton melintas di kepalanya. Adegan di mana dua karakter utama mulai menyadari perasaan mereka setelah tanpa sengaja tidur dalam pelukan satu sama lain  persis seperti yang sedang dia alami sekarang.

Seketika tubuh Sultan langsung menegang. Panas menjalar ke wajahnya hingga menimbulkan rona merah di pipinya. Jelas menunjukkan bahwa dia tersipu karena malu.

"Si anjing!" umpat Sultan membatin.

Tanpa pikir panjang, Sultan langsung bangkit dengan kasar dan menepis tangan Rian yang masih melingkari tubuhnya seolah dia sangat nyaman di posisi ini.

Gerakan tiba-tiba itu membuat Rian yang sedang tidur nyenyak langsung terbangun dengan ekspresi terganggu. Dengan suara serak khas orang baru bangun tidur, dia menggerutu, "Apaan sih? Lu bangun tidur rusuh banget, anjir! Ganggu gue tidur aja!"

Sultan yang tadi masih dalam keadaan kikuk, justru menjadi kesal setelah mendengar Rian. Wajahnya yang sudah memanas kini makin merah dengan mata yang menatap sinis. "Salah siapa lu tidur make meluk-meluk gue segala? Mesum banget lu!" todongnya dengan nada ketus.

Rian langsung memasang ekspresi tidak terima. Alisnya terangkat karena tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.

"Gue meluk lu?" tanya Rian dengan suaranya penuh ketidakpercayaan. "Heh! Semalem tuh elu ya yang ngedusel-dusel ke gue, nih tangan gue aja sampe sakit gara-gara lu tindihin!" Kata Rian sambul memijat lengannya yang sejak tadi terasa pegal karena dijadikan bantalan oleh Sultan.

"Halah alesan! Kan harusnya bisa aja lu langsung dorong gua"

"Udah anjing, udah! Gua udah dorong, udah gua tendang, tapi lu tetep aja balik-balik lagi tidurnya nempelin gua"

Sultan mengalihkan pandangannya, berusaha keras menutupi rasa malu yang semakin menjalari dirinya. Jantungnya masih berdebar tak keruan, tapi bukan karena marah, melainkan lebih karena menyadari bahwa terlepas dari bagaimana awalnya, dia sempat merasa nyaman dalam pelukan Rian.

Love HateTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang