⚠Warning adegan jorok, anak dibawah umur jangan liat!!
________________________
.
“Kenapa apanya?” balas Rian, nadanya terdengar usil. “Tadi kan udah ciuman.” Dia menyunggingkan seringai tipis, memperlihatkam ekspresi tengil khas miliknya.
Sultan tak langsung menjawab. Dadanya masih terlihat naik turun dengan cepat, seolah udara di sekitarnya mendadak menipis. Bukan marah, tapi karena jantungnya yang belum juga tenang.
“Aku gak nyangka,” gumam Sultan pelan. Suaranya nyaris tenggelam.
“Gak nyangka kenapa?” Rian mendekat sedikit, masih dengan ekspresi santainya. Padahal matanya bergerak menelusuri setiap inci wajah Sultan, terutama pergerakan bibirnya ketika laki-laki itu sedang bicara.
Mendapat perhatian seintens itu dari jarak yang begitu dekat, Sultan jelas salah tingkah. Dia mengusap tengkuknya sendiri untuk menghalau rasa kikuk. Diam-diam, dia menyimpan kalimat yang ragu untuk dia suarakan. Sebuah kalimat pengakuan yang dipikir akan terasa aneh jika diungkapkan, apalagi kepada Rian. Selain karena dia terlalu malu, juga karena egonya merasa enggan untuk memberi validasi untuk apa yang baru saja Rian lakukan.
Namun, disisi lain, Sultan memiliki dorongan besar untuk mengatakannya. Dalam hatinya dia sangat ingin merayu Rian dengan pujian tersebut. Maka dari itu Sultan akhirnya berkata, "Ternyata lo jago ciuman"
Rian menunduk, bahunya bergerak kecil saat dia terkekeh, seolah tawa itu cukup untuk menutup raut malu-malu yang terlanjur naik ke wajahnya. Ujung jarinya mengusap hidung sekilas, sebelum dia kembali mengangkat kepala. Tatapannya kembali pada Sultan dengan sorot yang lebih tenang, tapi masih menyisakan kilat nakal yang sama. "Gimana rasanya? Enak?” tanyanya dengan nada usil yang terselip.
“E-Enak,” jawab Sultan pelan dengan suaranya yang tersendat. Bersamaan dengan itu, dia langsung memalingkan wajah ke samping. Sebab dia terlalu malu untuk menatap Rian, merasa bodoh karena meladeni pertanyaan konyolnya.
Berbanding terbalik dengan Rian yang justru menjilat bibirnya sekilas, meloloskan satu gerakan kecil sebagai reaksi atas jawaban yang Sultan katakan. Karena hal yang sama itu juga matanya bergetar tak fokus, mulai merasa tidak sabaran dengan pandangan yang sama sekali tidak beralih dari pacarnya ini. "Lo suka?" tanyanya lagi, yang hanya dibalas dengan anggukan malu-malu.
Untuk sesaat, ada jeda yang tercipta di antara mereka. Sunyi yang terasa menekan, membuat napas keduanya sama-sama kian menggebu. Sebagai sesama laki-laki, secara naluri mereka menyadari nafsu yang mendadak datang menguasai, bahkan tanpa perlu mengonfirmasinya lagi.
Namun, keduanya sama-sama tidak ada yang bergerak. Baik Sultan yang masih sangat kaku dengan hal semacam ini, maupun Rian yang entah kenapa justru hanya berdiam diri memandangi Sultan yang dia kukung di bawahnya.
Waktu berjalan semakin lama dan Sultan merasa semakin tidak nyaman. Akhirnya dia memberanikan diri menatap Rian. "Rian" panggilnya dengan suara parau.
"Hm?"
Sultan menelan ludahnya ketika mendengar gumaman singkat dari Rian. Entah ini hanya perasaannya saja atau memang suara Rian barusan terdengar jauh lebih berat dari biasanya, dan anehnya itu menghantarkan perasaan merinding geli di sepanjang punggungnya.
Rian yang tidak kunjung mendapati suara lanjutan setelah tadi namanya dipanggil, secara otomatis mengangkat alisnya heran. Kemudian dengan matanya yang lurus menatap mata Sultan, dia bertanya ulang, "Kenapa?"
Sultan refleks memalingkan wajahnya ke samping, menghindari tatapan Rian yang di kondisi begini terasa mengintimidasi.
Satu gerakan kecil yang Sultan lakukan itu justru membuat alis Rian berubah menukik. Dia merasa tidak senang karena kegiatannya memandangi wajah Sultan jadi terganggu kalau sang empu menghadap ke sisi yang lain. Maka dari itu, Rian mengulurkan tangannya untuk menahan wajah Sultan agar kembali lurus menghadapnya. "Kenapa?" tanya Rian lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Hate
Teen FictionSinister Series : 3 Sebelum membaca cerita ini, disarankan untuk melihat bio di profil lebih dulu!! Afrian Rega Pramudya, dengan sikap tengilnya sering kali memberikan gangguan pada Arrayan Sultan Argani, yang juga selalu dibalas dengan ketengilan s...
