017

1.8K 156 27
                                        

Setelah menghabiskan satu loyang kue itu, Rian jadi harus bolak-balik ke toilet akibat diare.

Sudah entah ke berapa kali Rian keluar dari kamar mandi setelah menguras isi perutnya. Penampilannya benar-benar berantakan. Rambutnya lepek berantakan, tubuhnya basah oleh keringat, dan wajahnya terlihat lemas.

Dengan langkah gontai, Riam berjalan menuju kasur Sultan lalu langsung merebahkan diri disana. "Gara-gara lu nih. Lain kali gausah ngide mau bikin kue! Udah mah rasanya gak enak, bikin keracunan juga lagi" katanya misuh-misuh.

"Ya lu udah tau kue bentukannya begitu, ngapain masih diabisin, tolol?" balas Sultan bersungut sengit.

"Mubazir"

"Tapi jadi keracunan gini kan! Ck, ngerepotin gua lu ah!" gerutu Sultan.

Melihat seragam putih Rian yang sudah basah oleh keringat, Sultan langsung beranjak, berinisiatif untuk meminjamkan baju miliknya. Dia tidak ingin Rian masuk angin karena tetap mengenakan pakaian basah di dalam kamarnya yang ber-AC.

"Nih, ganti baju lo," ucap Sultan sembari melemparkan kaos hitam polos ke arah Rian.

Rian yang sudah terlalu lemas tidak berniat membantah. Tanpa banyak bicara, dia membuka kemeja seragamnya, memperlihatkan tubuhnya yang cukup terbentuk dengan otot kering yang pas.

Untuk sesaat, Sultan terdiam sejenak. Matanya tanpa sadar terpaku pada tubuh Rian, seakan terhipnotis. Hingga tanpa sadar, dia bergumam, "Badan lo bagus, Yan."

Mendengar itu, Rian menoleh cepat dengan wajah terkejut dan mata yang melotot horor. "Homo lu bangsat!" hardiknya untuk menutupi salah tingkahnya yang disebabkan oleh pujian itu.

Sultan langsung mendengus malas. Dalam sekejap, ia meraih bantal terdekat dan menghantamkannya ke wajah Rian tanpa ragu. "Itu muji doang, mana ada homonya, anjing?" balasnya dengan nada kesal.

Mendengar itu, rasa bangga dan puas menyelimuti diri Rian. Dia tanpa sadar menegakkan posisi duduknya dan sedikit membusungkan dada, seolah sengaja memamerkan bentuk tubuhnya. "Ya, gua tau kok badan gua emang bagus" ucapnya sombong.

Raut wajah Sultan semakin datar. Memang susah kalau orang satu ini dikasih pujian, karena sudah pasti malah jadi besar kepala. Rasanya menyebalkan sekali melihat wajah tengil yang semakin sombong itu. Tangannya sudah mengepal erat di kedua sisi dan dalam hatinya dia sudah menyebutkan semua kata kasar yang dia tau hanya untuk mengumpati Rian.

"Emang badan lo gak begini?" tanya Rian sedikit pensaran.

Sultan menghela napas, merasa malas mendengar pertanyaan bernada meremehkan itu keluar dari mulut Rian. "Badan gue ini seksi."

"Halah, kerempeng gitu."

"Bangke lu, Rian! Segini tuh gak kerempeng, ya, babi!"

Memang benar, Sultan tidak memiliki otot yang terbentuk jelas seperti Rian, tapi badannya juga jauh dari kata kerempeng. Justru sebaliknya, tubuh Sultan ini bisa dikatakan sebagai tubuh ideal untuk bobot tubuhnya.

"No bukti, hoaks," ujar Rian dnegan santai dan wajah tengil andalannya.

Sultan berdecak kesal. "Bilang aja lu mau lihat badan gue, kan?" cercanya.

"Idih, narsis! Kaya yang badan lu beneran bagus aja" Rian memprovokasi.

Sultan jelas langsung terpancing. "Beneran bagus, anjir! Nih, ayo adu!" Tanpa ragu, dia melepas kaos putih yang dia kenakan, dan memperlihatkan tubuhnya dengan percaya diri.

Rian menyeringai tipis, umpan yang dia lempar tepat sasaran. Namun, detik berikutnya dia justru menyesali kejahilannya sendiri karena ternyata, sebab benar adanya bahwa tubuh Sultan itu sexy.

Love HateTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang