011

2.3K 189 29
                                        

Sesuai dengan ucapannya, Sultan duduk santai di atas motor milik Rian, benar-benar menunggu pemiliknya datang.

“Oy, Sultan, ayo balik!” Fatah mendekat sambil menunjuk motor miliknya di kejauhan. “Motor gua di sana. Ngapain lu malah nongkrong di motor Rian?” tanyanya heran.

“Balik duluan aja, Bang. Gua ada janji sama Rian,” jawab Sultan santai.

Fatah mengernyit, bingung dengan jawaban itu. “Janji ngapain?”

“Mau pergi,” jawab Sultan singkat.

Mwmbuat kerutan di dahi Fatah semakin dalam setelah mendengar jawaban itu. “Tumben banget lu sama Rian akur?”

“Emangnya gak boleh?” Sultan menatap Fatah dengan alis terangkat.

“Kemarin lu meluk Rian, sekarang tiba-tiba mau pergi bareng,” balas Fatah, nadanya penuh kecurigaan dengan mata yang menyipit, mencoba membaca gerak-gerik Sultan.

Sultan balas menatap Fatah dengan bingung. “Kenapa sih, Bang? Kok natap gua kayak gitu?”

Fatah mendekatkan diri, berbisik tajam di telinga Sultan, “Lu berdua… mau merencanakan kudeta, ya?”

Ekspresi Sultan langsung berubah malas seketika. Tatapan bosannya semakin jelas, dan kedua tangannya hampir saja terulur ke arah leher Fatah, berniat mencekiknya, kalau saja Gilang tidak tiba-tiba muncul dan merangkul Fatah.

"Ngobrolin apaan nih? Deket banget" tanya Gilang dengan senyum ramahnya. Namun, entah kenapa Sultan bisa membaca aura panas yang menguar dari Gilang.

"Ck, ngapain sih tangan lo?" Fatah berusaha melepas rangkulan Gilang, tapi tidak berhasil, membuat dia akhirnya pasrah membiarkan tangan Gilang melingkar di pundaknya.

"Kok lu duduk di motor Rian?" tanya Gilang yang merasa heran ketika sadar bahwa Sultan duduk di atas motor salah satu anggotanya.

"Iya, gua lagi nungguin Rian. Lu liat tuh bocah gak, bang?"

"Nungguin Rian? Ngapain?" Gilang mengerutkan alisnya. Reaksi yang sama persis dengan yang tadi Fatah tunjukkan.

"Mau pergi. Kenapa sih pada kaget gitu? Emangnya aneh banget nih gua pergi sama Rian?" tanya Sultan yang tidak mengerti.

Gilang menoleh pada Fatah yang berada dalam rangkulannya. Beradu tatapan bingung satu sama lain sebelum dia kembali menatap Sultan. "Gapapa sih. Itu tadi gua ngeliat Rian lagi ngerokok di samping warkop" jawab Gilang memberitahukan keberadaan Rian pada Sultan.

"Lah? Yaudah gua kesana dah, makasih infonya ya, bang. Bang Fatah lu pulang aja duluan, gua bareng Rian. Dah ya" ujar Sultan sambil berlalu pergi, melangkah menuju tempat yang tadi Gilang sebutkan.

Di warung kopi dekat sekolah, Sultan langsung mendapati Rian yang sedang duduk santai sambil merokok bersama beberapa temannya. Tanpa ragu, Sultan mempercepat langkahnya menuju orang yang dia cari.

Begitu sampai, Sultan langsung duduk di sebelah Rian dengan santai. Tangan kirinya terulur, melingkar di pundak Rian sambil menepuk-nepuk ringan. “Oy, Rian!” sapanya dengan senyum lebar.

Hal itu jelas membuat Rian terkejut, dia bahkan hampir tersedak asap rokoknya yang baru saja tertempel di sela bibirnya. Spontan menoleh kaget pada Sultan yang sudah menempel padanya. "Lu ngapain kesini, anjir?" tanyanya.

"Harusnya gua yang nanya gitu, woy! Gua nungguin lu hampir setengah jam di parkiran, ya bangsat" kata Sultan menyerukan protesnya.

"Bukan gua yang nyuruh! Lagian ini tangan lo ngapain sih? Risih banget gua" Rian menyentak kasar tangan Sultan hingga terlepas. Namun, detik berikutnya Sultan justru memeluk erat lengan Rian dengan sangat kencang sampai Rian tidak bisa melepaskan tangannya sendiri. "Lu tuh ngapain sih?" tanya Rian lagi.

Love HateTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang