008

2.4K 182 42
                                        

⚠️Warning adegan dewasa, anak kecil jangan baca!!
__________________________


"Ahh!"

Mata Rian membesar ketika mendapati Sultan yang berada di bawah kukungannya. Dengan mata yang berlinang air mata dan ekspresi sayu yang terlihat sangat berantakan.

"Ah... enak, Rian. Lagi!"

Rian menelan ludahnya. Menatap pada keseluruhan tubuh Sultan yang tidak terhalang oleh sehelai benang pun.

Tubuh itu halus dan mulus, juga sangat ramping sampai membuat Rian terangsang luar biasa hanya karena melihatnya. Maka detik berikutnya, dia bergerak cepat, memaju mundurkan penisnya yang sudah tertanam sempurna di dalam Sultan.

Setiap gerakannya menghasilkan desahan nikmat yang terus keluar dari celah bibir Sultan yang terbuka. Menggoda Rian untuk merendahkan tubuh dan mencium bibir ranum itu dengan penuh nafsu.

Ciumannya sedikit berantakan seperti orang yang sedang sakau. Rian pikir, dia kecanduan oleh bibir Sultan yang biasanya selalu digunakan untuk mengumpatinya ini.

"Emh.." Sultan melenguh tertahan ketika tangan Rian dengan lancang menyentuh penisnya. Namun, bukannya menahan tangan yang mengocok miliknya, Sultan justru melingkarkan tangannya di leher Rian. Menahan agar ciuman di antara mereka tidak terlepas.

Sedangkan, Rian semakin gencar. Dia mencium Sultan semakin brutal tanpa menghentikan gerak pinggulnya yang juga semakin cepat.

Hingga dirasa putihnya semakin dekat, Rian melepas ciuman itu, dan bergerak semakin liar sambil menatap wajah Sultan yang sudah sangat kacau karena ulahnya.

"Errgh!" Rian menggeram ketika penisnya berkedut, tanda dia semakin dekat.  "Bangsat! Sempit banget, Sultan!"

"Ahh... iyahh.. enak–emhh"

Pergerakan Rian semakin menggila, hingga ketika dia sudah sangat dekat untuk melepaskan muatannya, semua visual itu seketika lenyap. Tergantikan oleh cahaya terang yang memaksanya membuka mata.

Rian berkedip beberapa kali sebelum dia bangkit dari tidurnya dan menatap sekitar seperti orang linglung. Hanya ada dia sendirian di dalam kamarnya, tanpa Sultan, atau adegan cabul yang tadi dia mimpikan.

Dengan cepat, Rian menyadari sesuatu. Dia segera menyingkap selimut yang menutupi bagian bawahnya. 

"Anjing!!" Rian mengumpat kesal saat melihat area selangkangannya yang menggembung dan basah oleh cairan precum.

Dengan gerakan kasar, Rian mengusap wajahnya, mencoba menjernihkan pikirannya yang kacau. Namun, saat matanya kembali terpejam, bayangan Sultan yang menangis di bawahnya muncul lagi, membuat Rian cepat-cepat membuka matanya. "Sultan, sialan!" umpatnya lagi.

.
___________________
.

Sepanjang hari ini Rian terlihat lebih pendiam dan emosian. Dia bahkan marah untuk hal yang sepele.

Itu jelas membuat Gilang, Argam, juga temannya yang lain merasa heran. Karena biasanya Rian bukan tipe orang yang pemarah atau sensian, tapi kali ini, pemuda itu terlihat siap bertengkar kapanpun dan dengan siapapun.

"Ck, lo bisa main gak sih? Kita kalah terus, tai!" sentak Rian pada Argam ketika game yang mereka mainkan berakhir tidak memuaskan.

Saat ini mereka sedang berada di gudang belakang sekolah, tempat biasa mereka membolos, dan karena berada di dalam ruangan, suara Rian jadi cukup menggema hingga mampu menarik atensi semua orang yang ada disana.

"Dari tadi yang mainnya gak bener itu elo!" Argam tidak terima disalahkan. Dia menatap Rian tajam sambil mengangkat alisnya. "Main gua udah bener, lo tuh yang gak fokus!"

Love HateTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang