030

646 70 27
                                        

"Anjing! Ngapain lu berdua pelukan disini?"

Baik Rian maupun Sultan yang tadinya terfokus pada satu sama lain, serentak mengalihkan pandangannya pada sumber suara. Tatapan mereka tertuju pada seorang remaja laki-laki lain yang berdiri di dekat pantry dapur. Fitur wajahnya mirip Sultan, tapi dengan tubuh yang jauh lebih besar, seolah dengan sekali lihat pun, siapapun sudah akan tau bahwa keduanya memiliki garis keturunan yang sama.

“Ganggu lu, bangsat," Sultan memaki singkat.

Dalam hitungan detik, raut wajah Sultan yang sebelumnya sempat terkejut, kini berubah datar. Pandangannya melirik sekilas pada tangan sang kakak yang sedang menggandeng seorang laki-laki lain di sampingnya.

“Lah, salah lu!” balas laki-laki itu santai. “Noh, ada ruangan namanya kamar. Bukannya malah mesum di dapur.”

Rian yang tidak mengerti dengan situasi yang sedang terjadi, sedikit menarik lengan Sultan dan menatapnya, menuntut penjelasan.

Beruntung, Sultan langsung menangkap maksud dari tatapan itu. Ia menunjuk laki-laki yang usianya terpaut setahun darinya tersebut, lalu berkata, “Namanya Satria. Dia abang gua.”

Rian tersenyum canggung mendengarnya. Dia tau orang ini bernama Satria. Mereka bersekolah di tempat yang sama, dan Rian jelas pernah melihat atau setidaknya berpapasan dengannya beberapa kali. Lagipula, siapa yang tidak mengenal Satria? Berbagai rumor tentangnya sudah menjadi rahasia umum di sekolah.

Termasuk informasi bahwa Satria dan Sultan adalah saudara juga sering sampai di telinga Rian, meski sulit mempercayai bahwa manusia seberisik Sultan memiliki abang kandung yang terkesan sulit disentuh seperti Satria.

Satria melangkah maju satu langkah. Pandangannya menyapu Rian dari ujung kepala hingga kaki, seolah sedang menilai. “Dan lu si Rian Rian yang tiap hari ribut mulu sama adek gua itu, kan?” tanyanya, “Lu berdua pacaran sekarang?”

Rian tersenyum kaku. Kemungkinan bahwa Satria mengenalinya adalah satu hal, tetapi mengetahui bahwa abang Sultan ini juga tau tentanv apa yang pernah dia lakukan terhadap adiknya adalah hal lain. Meski begitu, Rian tetap berdiri tegap. Dia membalas tatapan Satria yang masih menatapnya penuh selidik.

"I—"

"Iya sekarang kita pacaran, kenapa emangnya?"

Jawaban yang hendak Rian sampaikan sudah lebih dulu dilontarkan oleh Sultan.

Satria juga tidak bereaksi banyak setelah mendengarnya. Dia hanya mengangguk singkat, lalu tersenyum geli. "Enemy to lover kah ceritanya? Klise banget cih"  decaknya dengan nada meledek. "Yaudah sono lu berdua lanjut mesumnya di kamar, jir! Ngapain coba peluk-pelukan di dapur?"

"Dih, ngaca bego! Tuh tangan lu juga gua liat-liat lengket banget lengket itu kaya make lem tikus" balas Sultan tidak mau kalah.

Dari perdebatan kakak beradik ini, Rian mengetahui bagaimana karakter Sultan berasal.

"Sialan" umpat Satria geram.

Sultan justru tertawa, merasa puas karena bisa balas menggoda abangnya. Kemudian dia merapatkan tubuh pada Rian dan tanpa ragu meraih lengan pacarnya itu dengan kedua tangan, menempel manja.

“Udah, ke kamar gue aja, yuk” ajaknya ringan.

Rian mengangguk setuju tanpa banyak kata, berjalan mengikuti langkah Sultan yang mengarah ke kamarnya.

Begitu sampai, pintu kamar ditutup dan dikunci. Dengan santainya, Sultan langsung menjatuhkan diri ke atas kasur, lalu menepuk sisi kosong di sebelahnya. “Eh, Yan, lu mau nontin series BL gak?”

Love HateTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang