Untuk pertama kalinya, Rian menjejakkan kaki di rooftop sekolah. Dia berdiri tegak dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana, membiarkan angin meniup helai rambutnya, sedangkan dia memandang lurus pada langit biru dengan isi kepala yang kacau.
Suara decit pintu seng yang terbuka memecah lamunannya, membuat Rian menoleh dan menarik napas dalam-dalam sebelum memaksakan seulas senyuman. Memperhatikan Gina yang melangkah kian mendekat.
“Tumben kamu ngajak ketemu di sini, sayang?” tanya Gina dengan nada ringan. Matanya menyorot teduh seperti biasa, menatapnya dengan lembut.
Rian mengambil waktu sesaat, tidak langsung menjawab. Dia lebih dulu menyugar rambutnya yang berantakan karena tertiup angin, mencoba untuk sedikit mengalihkan rasa gugup. "Gin," panggilnya dengan suara yang terdengar berat meski dia sudah berusaha terlihat tenang. "Aku mau ngomong sesuatu."
Gina mengerutkan alis, ekspresinya berubah bingung, memperhatikan Rian dengan tatapan penuh tanya. "Ngomong apa? Aku perhatiin kamu lagi gak beres belakangan ini. Kenapa?"
Rian menggigit lidahnya, mengalihkan mata ke arah lain, mencoba menghindar dari tatapan Gina. Dia tahu ini akan terdengar menyakitkan. Dia tidak tega untuk mengatakannya, tapi dia tidak bisa terus menjebak Gina dalam hubungan ini. Jadi Rian mengambil napas lagi, sebelum berkata, "Ayo... ayo putus."
Kata itu akhirnya mengudara. Singkat, tapi cukup mampu untuk membuat Gina membeku.
Perempuan itu hanya diam memandangi Rian dengan tatapan tidak percaya, seolah berharap kalau dia hanya salah dengar. "Kamu... bercanda?" tanyanya pelan, hampir seperti berbisik.
Rian mengeleng pelan. "Enggak. Aku serius, Gin. Kayanya kita gak bisa lanjutin hubungan ini lagi."
Gina tetap diam, mencoba mencerna apa yang baru saja Rian katakan. "Kenapa tiba-tiba? Aku... aku ada salah sama kamu?" Nada suaranya mulai terdengar gemetar.
"Kamu sama sekali gak salah, Gin." Rian menunduk lagi, menahan napas untuk menghilangkan rasa sesak di dadanya. Sama sekali tidak memiliki keberanian untuk menatap mata Gina dengan benar. "Aku yang salah karena sebenarnya dari awal, aku gak pernah ada perasaan apapun sama kamu."
Gina menggeleng pelan sebelum dia mundur selangkah. "Kamu... k–kenapa kamu mau pacaran sama aku kalau dari awal kamu gak suka sama aku?" Gina hampir menjerit, tapi dia mencoba mempertahankan intonasinya agar tetap stabil.
"Aku gak punya alasan buat nolak waktu itu," Rian menjawab dengan jujur. "Aku juga gak mau kamu malu di depan teman-teman kamu, tapi ternyata keputusan aku itu malah bikin semuanya jadi makin salah. Maaf, Gina."
Gina semakin melangkah mundur. Air mata mulai menggenang di matanya, tapi dia cepat-cepat menghapusnya. "Kamu tau gak sih, Yan? Aku suka sama kamu karena aku pikir kamu itu orang yang beda. Tapi ternyata..." Dia menarik napas panjang, mencoba menahan gemetar di nada bicaranya. "Kamu sama aja kayak cowok yang lain. Kamu malah nyakitin aku kayak gini."
Rian semakin menunduk. Dia tahu, tidak ada kata maaf yang cukup untuk memperbaiki semuanya, sebab dia mutlak salah dalam hal ini. "Gue minta maaf, Gina" katanya lirih.
Gina tertawa kecil, tapi tawa itu menyiratkan rasa sakit yang tersampaikan dengan jelas. "Maaf?" tanyanya dengan nada getir. "Kamu minta maaf setelah selama ini kamu biarin aku mikir kalo hubungan ini berarti buat kita?" Dia menghapus air matanya dengan kasar. "Aku gak ngerti kenapa aku bisa sebodoh ini, tapi makasih, Yan. Makasih buat semuanya."
Tanpa menunggu jawaban, Gina berbalik dan berjalan pergi. Meninggalkan Rian yang masih berdiri terpaku di tempatnya.
Melihat Gina yang pergi dengan langkah cepat, Rian tidak mengejar karena tahu itu hanya akan membuat semuanya semakin buruk.
Setelah melihat Gina yang sudah benar-benar pergi, Rian mendesis geram sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Rasa frustrasi memenuhi dirinya, meski ada sedikit rasa lega karena akhirnya dia bisa jujur, tapi kejujuran itu terasa berat, terutama saat dia melihat Gina yang terluka karena kebodohannya.
Dengan langkah malas, Rian memanjat tembok rendah di tepi rooftop dan duduk di sana, membiarkan kakinya menggantung. Merasakan tiupan angin yang menghantarkan suasana tenang, meski berbanding terbalik dengan perasaannya yang kacau.
Rian mengingat reaksi Gina sebelumnya. Semua ekspresi kecewa, raut terluka, dan air mata yang nyaris jatuh tadi terus terbayang di benaknya.
Bahkan ketika Rian telah menyakitinya, perempuan itu sama sekali tidak melempar kata kasar atau makian. Membuat Rian semakin merasa bersalah. Gina terlalu baik, sementara dia merasa seperti laki-laki paling bajingan di dunia.
Rian terus berpikir, kalau seharusnya dia tidak menyeret Gina dalam sebuah hubungan ketika dia bahkan belum mengerti apa yang dia rasakan.
Namun, di tengah semua kekacauan pikirannya itu, tiba-tiba ingatan mimpi cabul pagi tadi kembali muncul. Sosok Sultan lagi-lagi memenuhi kepalanya, membawa perasaan aneh yang sulit dijelaskan. Geli, hangat, tapi juga mendebarkan. Jantungnya berdetak lebih cepat, dan itu membuatnya kesal.
"Kenapa mikirin dia terus sih, anjing!" Rian menggerutu frustasi sambil mengacak rambutnya sendiri. Dia benar-benar tidak mengerti apa yang salah dengan dirinya. Apa yang dia mau, apa yang dia rasakan—semuanya kacau.
Tepat di saat itu, pintu rooftop kembali berdecit, mengeluarkan suara gesekan yang sedikit berisik. Namun, Rian tidak menoleh, sebab pikirannya terlalu sibuk untuk sekadar memperhatikan, tapi suara langkah mendekat membuatnya sadar ada orang lain di sana. Sultan muncul, diikuti Fatah, Fino, dan Sagara.
Sultan yang berjalan paling depan, langsung melihat Rian duduk di tepi atap dengan posisi yang menurutnya berbahaya. Tanpa berpikir panjang, dia segera berlari mendekat.
"Rian! Lu ngapain sih?!" Sultan langsung menarik Rian turun dari tembok dengan gerakan cepat. Sebelum Rian sempat berkata apa-apa, Sultan langsung memeluknya dengan sangat erat, mengejutkan Rian yang hanya bisa terpaku. "Kalo ada masalah tuh diselesaiin, bukan malah ngelakuin hal bodoh kayak gini, anjir!" sentaknya lagi dengan nada yang bercampur cemas dan marah.
Pelukan di tubunya semakin erat, dan ketika Rian akhirnya sadar, dia merasakan tubuh Sultan sedikit gemetar. Tanpa menyadari mata Sultan yang sudah berkaca-kaca, menggambarkan rasa takut yang begitu jelas.
"Lu kira hidup lu gak penting, hah?! J–jangan bunuh diri anjing!" Sultan kembali melanjutkan dengan suaranya yang mulai bergetar.
Rian hanya diam. Entah kenapa dia tidak berniat untuk menjelaskan bahwa dia tidak berniat untuk bunuh diri.
Sebenarnya disebelah atap ini ada bangunan lagi yang tidak cukup tinggi untuk membuatnya terluka serius, apalagi mati. Namun, melihat Sultan bertingkah seperti ini, membuatnya memilih untuk diam. Dia membiarkan Sultan memeluknya dan merasakan detak jantungnya yang mulai berdetak semakin cepat akibat pelukan ini.
Rian merasa janggal. Pelukan ini memberi rasa nyaman di tengah pikirannya yang kacau, tapi perasaan itu juga semakin membingungkannya. Juga debaran jantungnya yang sedikit membuat dia kesal hingga telinganya memerah.
Di belakang, Fatah, Fino, dan Sagara hanya berdiri diam, saling bertukar pandang tanpa kata. Meski Rian hanya diam tanpa membalas pelukan Sultan, tapi tetap terasa aneh melihat dua orang yang biasanya selalu berdebat tentang berbagai hal, kini justru terlihat sangat dekat. Situasi ini terasa ambigu, mengingat hubungan mereka yang selama ini tidak pernah akur, membuat ketiganya tidak tahu harus bereaksi seperti apa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Hate
Novela JuvenilSinister Series : 3 Sebelum membaca cerita ini, disarankan untuk melihat bio di profil lebih dulu!! Afrian Rega Pramudya, dengan sikap tengilnya sering kali memberikan gangguan pada Arrayan Sultan Argani, yang juga selalu dibalas dengan ketengilan s...
