015

2.3K 174 53
                                        

Suasana kantin terasa lengang, hanya menyisakan Rian dan Sultan yang duduk di sudut paling pojok, tepat di dekat dinding yang menghadap ke lapangan sekolah.

Mereka duduk berhadapan di bangku panjang, dengan papan permainan monopoli berada di tengah. Masing-masing dari keduanya memegang plastik batagor di satu tangan.

“Minggir, Yan, gua mau beli rumah disini nih!” Sultan berkata sambil meletakkan bidaknya di kotak negara yang baru saja dia injak, meraih tumpukan uang kertas palsu dan membayar ke bank untuk membeli sebuah rumah di negara tersebut.

Rian mendengus kesal sambil melipat tangannya. “Langsung aja lu beli semua properti yang mahal. Duit gua udah tipis, bangke.”

“Ya salah sendiri. Dari tadi boros banget beli hotel,” balas Sultan sambil terkekeh. Dia memasukkan satu suapan batagor ke dalam mulutnya, membuat pipinya sedikit menggembung dengan senyum kemenangan yang terpatri di wajahnya.

Rian hanya bisa menghela napas panjang, kembali mengocok dadu, dan ketika dadu memperlihatkan angka yang dihasilkan, wajahnya langsung berubah semakin jengkel karena bidaknya berhenti tepat di properti Sultan yang sudah penuh dengan hotel.

“Ah, mampus lu, Yan! Sini bayar sewa!” seru Sultan sambil tertawa puas. Dia langsung mengulurkan tangan, seolah menagih uang sungguhan.

“Berapa?” tanya Rian dengan nada ketus.

“Tiga juta, sini,” jawab Sultan, nadanya dibuat sok serius seperti rentenir penagih hutang.

“Tiga juta? Ini duit gua aja gak nyampe lima ratus ribu, anjir!” protes Rian sambil menatap uang kertas di tangannya yang hanya tersisa beberapa lembar.

“Itu jual properti lu, makanya! Punya aset dimanfaatin anjir, bukan cuman dijadiin pajangan doang” cibir Sultan.

Dengan berat hati, Rian akhirnya menjual salah satu propertinya ke bank dan menyerahkan uang sewa pada Sultan. “Sialan banget lu,” kata Rian yang terlihat kesal.

Sultan tertawa melihat ekspresi kekalahan di wajah Rian. “Ya, namanya juga hidup. Yang kaya makin kaya, yang miskin makin menderita.”

“Babi!" maki Rian sambil menyuap batagornya. Rasanya agak hambar karena merasa harga dirinya sedikit tergores selepas kalah bermain.

"Udah, makanya lu main yang bener! Siapa tau kan ada epic comeback, keajaiban tiba-tiba duit lu jadi banyak" kata Sultan yang kembali fokus pada papan permainan.

Rian berdecih lalu berkata, “Dulu juga gua jago nih main monopoli”

“Emang iya?" tanya Sultan yang tampak tidak percaya.

“Lah serius. Tapi, dulu gua mainnya pake aturan ngawur. Gak ada bayar sewa, gak ada jual properti. Pokoknya siapa yang punya uang paling banyak, dia yang menang,” cerita Rian sambil terkekeh.

“Pantes aja sekarang lu payah. Kebiasaan main curang sih dari kecil,” Sultan menyindir sambil mengocok dadu di tangannya.

“Curang apaan? Itu namanya strategi,” balas Rian sambil memasukkan satu potong batagor terakhir ke mulutnya.

Setelah Sultan selesai menjalankan bidaknya, kini giliran Rian yang mengocok dadu. Dia menjalankan bidaknya yang tanpa diduga berhenti di penjara. "Bangsat, gua masuk penjara, anjing!!" jerit Rian memaki kesal.

Sementara Sultan tertawa kencang sampai air matanya tergenang di sudut mata, puas sekali menertawai Rian yang sangat payah dalam bermain. Kemudian dia mengambil alih dadu dan mengocoknya, mendapatkan angka enam sebanyak dua kali dan terus mendapat giliran jalan karena Rian yang berada dalam penjara.

Love HateTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang