Sesampainya di rumah Sultan, si pemilik rumah langsung menjatuhkan dirinya ke sofa di ruang tengah dan menghela napas panjang, seolah baru saja melakukan pekerjaan yang melelahkan.
Rian berjalan di belakangnya, menutup pintu dengan setengah hati sebelum melangkah masuk. Suasana rumah yang sunyi, tidak lagi membuat Rian heran.
Tanpa banyak pikir, Rian juga ikut duduk di samping Sultan yang kini membaringkan tubuhnya di sofa, membiarkan kedua lengannya terentang malas di atas sandaran. Baru merakasan lelah setelah menyusuri setiap sudut pasar malam yang luas.
Namun, baru saja Rian mulai merasa nyaman, Sultan tiba-tiba bangkit, menyalakan PlayStation, lalu meraih konsolnya.
"Yan, main satu match yuk sambil makan martabak," katanya, langsung menyodorkan salah satu stik ke Rian tanpa memberi pilihan.
Rian melirik konsol yang disodorkan padanya sebelum menerimanya. "Siap-siap aja gua bantai"
"Buset... gak kebalik tuh?"
Rian tak lagi menanggapi. Tatapannya terkunci pada layar TV yang mulai menampilkan menu permainan. Diam-diam, ia menahan senyum, menikmati setiap detik tambahan yang bisa ia habiskan bersama Sultan.
Permainan pun dimulai. Dalam hitungan menit, Rian membantai Sultan tanpa ampun. Jemarinya bergerak gesit di atas konsol, memfokuskan setiap serangan yang dia lancarkan hingga membuat Sultan kewalahan.
"Anjing, curang lo!" gerutu Sultan yang langsung duduk bersila dengan ekspresi tidak terima ketika avatar yang dia gerakkan kehabisan nyawa.
Sebaliknya, Rian menyeringai congkak, melirik Sultan dengan tatapan sombongnya. "Mana ada curang? Itu mah lo aja yang payah"
Sultan mendengus, matanya menyala sedikit kesal. Tanpa berniat mengalah, dia kembali fokus ke layar, berusaha mengejar ketertinggalannya. Beberapa ronde berikutnya, Sultan terlihat mengimbangi permainan, membuat pertarungan diantara mereka jadi semakin sengit.
Namun, Rian tidak benar-benar fokus pada permainan. Tangannya memang terus bergerak, tetapi pikirannya melayang kembali ke kejadian di pasar malam tadi. Waktu yang ia habiskan bersama Sultan perlahan membuatnya terbiasa dengan kehadiran pemuda itu di dekatnya.
Semua hal yang Sultan lakukan seolah memupuk rasa yang sudah tertanam dalam di hati Rian. Bahkan saat tadi tangannya ditarik dalam genggaman dapat memberikan sensasi aneh yang masih tertinggal di kulitnya, seolah Sultan masih menggenggam tangannya sampai sekarang.
Sensasi hangat yabg sulit untuk diabaikan membuat Rian tanpa sadar menggenggam konsolnya dengan lebih erat. Sehingga gerakannya jarinya jadi kacau dan membuat avatarnya kehilangan keseimbangan, lalu kalah hanya dalam satu kali serangan.
"MANTAPP!!" jerit Sultan heboh ketika dia akhirnya berhasil mengalahkan Rian. "Menang, gua menang hihi..." ledeknya, balik menyombongkan diri.
Sesaat, Rian terkejut mendengar teriakan mendadak dari Sultan. Namun, dalam hitungan detik, ia berhasil mengendalikan ekspresinya. Rian berdecak pelan, pura-pura memasang raut tidak terima. "Kebetulan saja itu mah," ujarnya.
"Heh, monyet! Itu tadi emang serangan gua yang bagus ya" kata Sultan menyangkal.
"Itu tuh karena gua sengaja ngalah. Soalnya gua kasian ngeliat lu gak menang-menang"
"Tai lu!" ujar Sultan kesal. Tanpa basa-basi, dia mengulurkan tangan, mengambil sepotong martabak, lalu memasukkan satu gigitan besar ke dalam mulutnya. "Ayo main lagi kalau lu nggak percaya. Lihat sendiri kalau gue beneran jago" tantangnya.
Rian hanya berdecih, tapi yang tak disadari Sultan adalah senyuman tipis yang perlahan terukir di wajah Rian, yang diam-diam tidak bisa menahan perasaan bahagianya.
Permainan kembali di lanjutkan, beberapa ronde terlewatkan, tapi semakin menit berlalu semakin perhatian Rian mulai teralihkan pada Sultan yang semula duduk tegak bersandar di sofa, mulai terlihat kehilangan keseimbangan duduknya.
Rian menoleh hanya untuk mendapati wajah Sultan yang sudah setengah sadar, dengan matanya yang tampak sulit terbuka dan kepalanya yang terhuyung tidak stabil. Hingga akhirnya, kepala Sultan jatuh begitu saja, bersandar di tangan Rian dengan posisi canggung.
Seketika Rian langsung membeku.
Beban kepala Sultan yang terasa sedikit berat di lengannya membuat Rian sulit bergerak. Napas Sultan berhembus menyentuh kulitnya dengan ritme yang teratur, pertanda jelas bahwa lelaki itu telah tertidur.
Rian menelan ludah gugup. Matanya melirik wajah Sultan dari dekat, memperhatikan setiap detail yang biasanya tidak sempat dia lihat dengan jelas. Alisnya yang sedikit berkerut, bulu matanya yang panjang, bibirnya yang sedikit terbuka dengan sisa coklat yang masih ada di sudut mulutnya.
Membuat Rian bertanya-tanya, bagaimana mungkin seorang laki-laki dapat terlihat secantik ini?
Namun, di detik berikutnya, dia langsung menyadari apa yang baru saja dia pikirkan. Dengan cepat, Rian menepuk kepalanya, berusaha mengembalikan pikirannya ke jalur yang seharusnya.
"Tan, Sultan! Jangan tidur di sini lah, woy!" Rian menepuk-nepuk wajah Sultan beberapa kali, mencoba membangunkannya, tapi yang dipanggil sama sekali tidak bereaksi.
"Sultan!" panggilnya lagi, kali ini lebih keras. Namun, tetap tidak ada jawaban.
Rian menghela napas panjang, lalu memandangi Sultan yang masih tertidur lelap di tangannya. Dia sempat ragu sebentar, tapi akhirnya menyerah. Dengan hati-hati dia bangkit dari sofa, meneyelipkan tangannya pada leher dan lutut Sultan, kemudian dalam sekali gerakan, Rian menggendongnya untuk dipindahkan ke kamar.
Kaki Rian melangkah dengan perlahan, berusaha agar tidak membuat Sultan terbangun.
Sesampainya di kamar, Rian dengan hati-hati menurunkan Sultan ke atas kasur, memastikan tubuhnya berbaring dengan nyaman. Dia menarik selimut hingga menutupi tubuh Sultan, lalu merapikan bantal di bawah kepalanya.
Setelah itu, Rian tidak langsung beranjak dari kamar. Dia duduk di pinggir kasur, membiarkan matanya memperhatikan wajah Sultan yang tampak lebih tenang ketika tertidur.
Napas pemuda kecil itu teratur dengan wajahnya yang tampak begitu damai, seolah dunia telah berhenti berputar hanya untuk memberinya istirahat yang layak. Tidak ada suara berisik atau energi meledak-ledak yang biasa dia tunjukkan.
Di bawah cahaya lampu, setiap detail wajah Sultan terpampang jelas di mata Rian. Tidak peduli seberapa sering Rian melihatnya, pesona Sultan tetap mampu membuat jantungnya berdegup lebih kencang. Kehangatan mengalir di dadanya, menjalar hingga ke relung hati, dan menjatuhkannya ke dalam rasa yang tidak bisa dia hilangkam.
Rian menghela napas pelan, membiarkan senyum kecil terulas di wajahnya. Dia bangkit, meraih saklar lampu, lalu mematikannya. Seketika, kamar ini diselimuti oleh kegelapan dan hanya menyisakan sedikit cahaya redup yang menyelinap dari celah jendela.
Seharusnya, dia keluar dan pulang sekarang. Namun, bukannya melangkah pergi, tubuhnya justru bergerak sendiri kembali mendekati kasur, menyibak selimut, lalu berbaring tepat di samping Sultan.
Kasur yang kecil membuat jarak di antara mereka nyaris tidak bersisa. Terlalu dekat hingga Rian bisa merasakan hangat tubuh Sultan dan mendengar hembusan napasnya yang teratur.
Seperti biasa, jantung Rian mulai berdetak lebih cepat, bukan karena gugup atau canggung, tapi lebih karena ada perasaan bersemangat dan nyaman yang tiba-tiba mengalir dalam hatinya.
Perlahan, Rian memejamkan matanya,
membiarkan perasaan itu menyelimuti dirinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Hate
Teen FictionSinister Series : 3 Sebelum membaca cerita ini, disarankan untuk melihat bio di profil lebih dulu!! Afrian Rega Pramudya, dengan sikap tengilnya sering kali memberikan gangguan pada Arrayan Sultan Argani, yang juga selalu dibalas dengan ketengilan s...
