Di dalam kelasnya, Sultan duduk dengan kepala yang diletakkan di atas meja. Sudah lewat sehari sejak kejadian dia memeluk Rian di atap sekolah, tapi itu masih membayangi pikirannya hingga saat ini.
“Kemaren gua ngapain meluk dia segala ya?" pikir Sultan untuk kesekian kalinya, mencoba mencari jawaban yang tidak kunjung dia dapatkan.
Masih tertinggal dalam memori Sultan, suara detak jantung Rian yang terdengar begitu jelas, seolah selaras dengan detaknya sendiri. Dia juga masih bisa merasakan tubuh Rian yang berotot saat dia memeluknya. Bayangan itu membuat wajah Sultan kembali memerah tanpa sadari.
Sontak, Sultan menegakkan tubuh dan menepuk pelan kedua pipinya, berusaha mengusir bayangan yang terus menghantui pikirannya. “Kenapa gue malah mikirin badan dia gitu?” gumamnya pelan, setengah kesal pada diri sendiri.
“Woy!” suara Sagara yang tiba-tiba terdengar membuyarkan lamunannya. Dia datang dengan santai dan langsung merangkul pundak Sultan sebelum duduk di kursi sebelahnya. “Bengong aja, lu?” tanyanya ringan.
Sultan melepas tangan Sagara dari pundaknya tanpa berkata apa-apa, lalu kembali meletakkan kepalanya di atas meja. Sikapnya yang lesu membuat Sagara semakin penasaran.
"Lu kenapa dah? Tumben loyo amat?" tanya Sagara sambil mengernyitkan alis, bingung melihat tingkah temannya.
"Semalem gua namatin series bl, tiga belas episode. Jadi sekarang ngantuk banget gua" jawab Sultan yang diakhiri dengan menguap.
Sagara mendengus. "Gua kira lo lagi banyak pikirian, anjrit" katanya berkomentar.
Kemudian, tanpa sengaja mata Sagara Kemudian, tanpa sengaja Sagara melihat Rian yang kondisinya tidak jauh berbeda dengan Sultan. Rian menundukkan kepala di atas meja, menggunakan tangannya sebagai bantalan. Beberapa kali Sagara melirik Sultan dan Rian secara bergantian, tapi tetap saja dia gagal menemukan perbedaan mereka. Seakan keduanya terikan oleh semacam tali penghubung tak kasat mata yang secara kebetulan membuat tingkah dan suasana hati mereka jadi selaras.
Sagara sedikit menggeser tubuhnya lebih mendekat pada Sultan, kemudian berbisik, "Tan, gua denger si Rian itu baru aja putus. Berarti ya g kemaren di rooftop tuh dia lagi galau gak sih?"
Sultan tidak menjawab, tapi dia tetap merespon ucapan Sagara dengan memutar kepalanya untuk melihat Rian. Kemudian dia menggedikkan bahunya singkat. "Kenapa deh bisa putus? Dua hari lalu, gua masih ngeliat mereka mesra-mesraan di depan mata gua"
Kini giliran Sagara yang menggedikkan bahu. "Ya, mana gua tau? Ribut kali, terus putus"
"Sayang banget, padahal Gina baik" Sultan memberi komentar sederhana, lalu kembali menutup matanya karena tidak tahan dengan rasa kantuk yang menyerang. Tidak lagi memperdulikan Sagara yang masih berada di sampingnya dan memilih untuk terlelap.
Di sisi lain, Rian yang sedari tadi meletakkan kepalanya di atas lipatan tangan, diam-diam memikirkan kejadian kemarin. Dia sampai tidak bisa tidur semalaman hanya karena terbayang oleh sosok Sultan yang memenuhi pikirannya.
Sedikit, Rian memiringkan kepalanya. Mengintip Sultan dari sela lipatan tangannya.
Mendadak, perasaan sesak yang menyenangkan hadir dalam hatinya ketika melihat Sultan, orang yang sudah membuatnya tidak tenang beberapa hari ini. Rian cukup mengerti arti dari perasaan yang dia rasakan. Perasaan yang sudah berusaha dia kubur sangat dalam sejak pertama kali dia melihat Sultan saat mereka duduk di kelas 10.
Sebagian orang mungkin akan menyebutnya pengecut, tetapi bagi Rian, perasaan seperti ini terasa tidak wajar, terutama karena perasaan itu muncul untuk seseorang dengan jenis kelamin yang sama dengannya. Rian menolak kenyataan bahwa dia 'tidak normal'.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Hate
Teen FictionSinister Series : 3 Sebelum membaca cerita ini, disarankan untuk melihat bio di profil lebih dulu!! Afrian Rega Pramudya, dengan sikap tengilnya sering kali memberikan gangguan pada Arrayan Sultan Argani, yang juga selalu dibalas dengan ketengilan s...
