014

2.1K 171 50
                                        

Rian tampak sibuk memainkan game mobile di ponselnya. Sesekali, dia mengumpat kesal setiap kali hero yang dia kendalikan kalah diserang lawan. Di sebelahnya, Argam duduk bersandar dengan santai, perhatianya juga terfokus pada game yang tengah dimainkan Rian.

“Gam, bantu gua, anjing!” sentak Rian tanpa mengalihkan pandangannya.

“Udah, jing! Lu aja yang mainnya payah,” balas Argam watados.

Mereka tengah asyik hingga pintu gudang tiba-tiba terbuka perlahan. Suara langkah yang mendekat membuat keduanya menoleh. Gilang masuk dengan senyum lebar di wajahnya, ekspresi yang terlihat aneh bagi mereka.

“Lang, lu kerasukan?” tanya Argam sambil mengernyit. Gilang tidak menjawab, hanya terus tersenyum sambil berjalan mendekat.

“Yaelah Bang, lu kaya gak ngerti orang lagi jatuh cinta aja sih” celetuk Rian sambil mengulas senyum geli. “Kali ini lu apain lagi si ketua Sinister itu?” tanyanya.

Gilang mendengus dan menjatuhkan tubuhnya di sofa, tepat di sebelah Argam. “Dih, gak gua apa-apain. Emangnya gua pernah ngapain dia?”

Mendnegar hal itu, Argam langsung berdecak geli, lalu memandang Gilang dengan tatapan yang sedikit memicing sinis. "Ngomong gitu sana sama orang yang setiap ketemu sama si Fatah maen ciam-cium aja, terus langsung kabur!" sindirnya.

Wajah Gilang berubah masam. Dia berdecak kesal, merasa kalah karena tidak mampu membalas ucapan Argam. Akhirnya, Gilang hanya memilih diam, membiarkan pembicaraan itu terhenti begitu saja. Lebih memilih untuk melepaskan seragam SMA milik Rian yang dikenakannya, lalu melemparnya pada pemiliknya.

“Oh iya, Yan, tadi si Sultan nanyain lu,” ujar Gilang tiba-tiba.

Rian mengernyit dan langsung merubah atensinya jadi menatap Gilang dengan raut bingung. “Nanya apaan?” tanyanya penasaran.

"Dia ngenalin seragam lu yang gua pake, sama kan dia gak dibolehin ikut tawuran sama Fino jadi tadi dia protes sama Fatah terus gua bilang lu juga gak ikut tawu–"

"Goblok. Ngapain lu bilang?" sentak Rian memotong ucapan Gilang.

"Lah emang kenapa?" Gilang melebarkan matanya bingung. Dia melirik Argam, berharap ada jawaban dari sana, tapi Argam hanya menggeleng tidak mengerti.

“Terus dia ngomong apaan lagi?” tanya Rian.

"Dia nanya kenapa lu gak ikut tawuran, ya gua jawab aja lu yang gak mau ikut. Terus abis itu dia pergi ke toilet"

Rian mendengus sambil mengusap wajahnya dengan tangan. Kemudian dia berdiri, memakai seragamnya dengan benar, dan berjalan menuju pintu gudang.

“Mau ke mana lu?” tanya Gilang sedikit berteriak karena karak Rian yang sudah cukup jauh.

“Mau balik ke kelas. Udah bel masuk,” jawab Rian singkat sebelum akhirnya benar-benar menghilang di balik pintu yang tertutup.

“Katanya mau bolos?” Gilang menoleh pada Argam, lagi-lagi dibuat bingung dengan tingkah Rian yang tidak jelas.

Namun, bukannya memberikan respon yang dihatapkan, Argam justru mengedikkan bahu tidak peduli. “Otaknya lagi bener kali,” jawabnya santai, lalu kembali menatap layar ponselnya.

Di sisi lain, Rian berjalan cepat menyusuri koridor menuju toilet. Pikirannya berlawanan dengan perasaannya, tapi entah kenapa dia tetap tergesa-gesa mencari Sultan. Sesuatu yang terasa asing baginya.

Meskipun fakta bahwa dia tidak ikut tawuran kali ini karena sempat memikirkan Sultan, yang memang dilarang terlibat dalam aksi tersebut. Namun, dia tetap merasa aneh dengan semua tindakannya.

Love HateTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang