BUGH!
Pukulan pertama mendarat telak di pipi kiri Rian. Suara peraduan kulit terdengar nyaring, membuat kepala semua orang di sekitar sontak menoleh.
Sementara itu, Rian yang dipukul terhuyung ke belakang. Pandangannya bergetar sesaat, dengan alisnya yang mengerut. Rasa panas langsung menjalar dari pipinya, bercampur dengan nyeri yang menusuk. Detik itu juga, emosinya tersulut.
"Sialan lo!" Rian menjerit dengan suara yang pecah oleh amarah. Tanpa sempat berpikir, dia mengayunkan tangan, balas menghantam dagu Sultan dengan keras. Sontak itu menghasilkan suara duk! tumpul yang memancing pekikan terkejut dari mereka yang melihat.
Lapangan yang tadinya hanya dipenuhi langkah santai siswa kini berubah menjadi arena perkelahian antara dua orang. Lingkaran manusia terbentuk, suara-suara riuh bercampur meneriaki berbagai macam kata.
Namun, Rian tidak mendengar apa-apa selain degup jantungnya sendiri yang menghentak keras di telinga. Begitu pula Sultan.Mmata keduanya seolah menyala, isi kepala mereka sama-sama penuh emosi yang mendorong ereka untuk terus saling hajar satu sama lain.
"Lo kenapa sih, anjing?!" Rian menarik kuat kerah baju Sultan, wajahnya memerah dan napas memburu. "Gue salah apa, ha?! Gara-gara gue suka sama lo, emangnya salah?!" teriaknya tepat di wajah Sultan.
"Lo gak ngerti!" balas Sultan dengan nada tinggi yang sama. Hanya saja, suaranya terdengar lebih serak seolah ada yang dia tahan. "Lo gak tau apa yang gue rasain, Rian! Jadi mending lo diem!"
Pukulan Sultan berikutnya membuat Rian mundur tersandung. Pandangannya sedikit berkunang. Namun sebelum dia sempat membalas, suara berat memotong berhasil membuyarkan fokusnya.
"WOY!!"
Dari arah kanan, para sisa yang tadinya berkerumun langsung terbelah memberi jalan bagi Fatah untuk masuk, yang diikuti oleh Sagara dengan wajahnya tegang.
"Berenti woy!!" seru Fatah. Sagara langsung mencengkeram bahu Rian, sementara Fatah menahan lengan Sultan.
Namun, keduanya jelas memberontak hebat, berusaha kuat hingga tangan yang menahan mereka terlepas. Dan dalam sepersekian detik, Rian dan Sultan kembali bertubrukan. Bahu menghantam dada, napas saling berderu, lalu kesempatan itu diambil Sultan untuk segera mengaitkan lengannya di leher Rian, sengaja menjatuhkan tubuh mereka ke tanah. Membuat tubuh mereka saling tumpang tindih di tengah keramaian yang menonton.
Hening.
Hanya terdengar suara napas tersengal, dan dada yang naik-turun dengan cepat. Jarak keduanya nyaris tanpa sekat, bahkan wajah mereka tidak sampai satu telapak tangan. Mata Rian dan Sultan saling mengunci, tatapan yang sulit di jabarkan jika hhanya lewat kata, namun mereka sama-sama tau kalau di baliknya ada sesuatu yang lain.
Tanpa sadar, Rian merasa gugup karena dia sendiri bisa merasakan detak jantungnya yang menggila. Sedangkan Sultan terus menatap lekat wajah Rian, dan di detik itu, rasa berdebar aneh muncul dalam hatinya yang membuat pipinya terasa panas.
Perlahan tangan Sultan terangkat, jari-jarinya menyentuh pipi Rian yang masih panas. Dia mendekat, dengan suara pelan yang serak, dia berbisik di telinga lawannya.
"Yan... ternyata lo ganteng juga, anjing. Ayo lah, kita pacaran aja."
Mata Rian sontak langsung membelalak. Degup jantungnya makin berdetak hebat, dan perlahan wajahnya memerah padam.
"Apaan, nyet?!" Rian mendorong bahu Sultan pelan, agar sedikit menyingkir dari tubuhnya. "Ulang, jir! Harusnya gue yang bilang gitu ke lo!"ucapnya tidak terima.
Tawa Sultan pecah disaat yang sama karena tidak tahan melihat ekspresi kesal di wajah Rian. Hingga dia menempelkan keningnya pada pundak Rian.
Suasana yang sebelumnya tegang perlahan meleleh dengan perasaan aneh yang menyelimuti semua orang yang meihatnya. Sagara dan Fatah juga hanya bisa saling pandang dan mengerutkan alis bingung.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Hate
Fiksi RemajaSinister Series : 3 Sebelum membaca cerita ini, disarankan untuk melihat bio di profil lebih dulu!! Afrian Rega Pramudya, dengan sikap tengilnya sering kali memberikan gangguan pada Arrayan Sultan Argani, yang juga selalu dibalas dengan ketengilan s...
