005

2.6K 193 37
                                        

Sultan pada dasarnya membenci hari Kamis, karena di hari itu ada jadwal pelajaran Ekonomi, yang merupakan salah satu mata pelajaran yang gurunya tidak dia sukai. Kebetulan sekali saat dia mempertimbangkan untuk membolos, dia mendapatkan sebuah notifikasi dari Fatah yang mengajaknya ke atap. Ajakan itu membuat Sultan semakin yakin untuk pergi dari kelas seperti biasanya.

Dengan langkah santai, Sultan berjalan menuju tangga yang mengarah ke atap sekolah, tempat yang seharusnya jarang dilewati oleh siapa pun. Namun, kali ini dia dibuat mengerutkan alisnya ketika dia melihat segerombolan siswa dengan seragam acak-acakan sedang mengerubungi seorang cowok kecil di bawah tangga yang menuju atap.

“Duit lo mana, sini!” Terdengar salah satu dari mereka membentak, sambil ngeremas kerah seragam cowok itu.

Bisa dilihat wajah cowok itu pucat. Jelas dia ketakutan, tapi tidak berani melakukan apa-apa selain menuruti kemauan orang itu.

Sultan mendengus pelan ketika menyadari bahwa lagi-lagi dia harus berurusan dengan hal begini. Tanpa banyak berpikir, dia langsung berjalan mendekat dengan langkah santai dan kedua tangannya yang dimasukkan ke saku celana.

Sesaat, terpikir olehnya kalau dia seperti sedang menirukan cara berjalan Rian, Namun, Sultan segera menepis pikiran acak itu.

“Wih ada apaan nih? Live drama, kah?” Sultan bicara dengan nada santai, tapi matanya terlihat tajam menatap ke arah gerombolan perusuh itu.

Salah satu dari mereka berbalik dengan ekspresi kesal. “Mendingan lo gak usah ikut campur atau lo bakal kita bikin sama nasibnya kayak si cupu ini!” tanyanya dengan suara berat.

“Ih, sangarnya! Mau dong dipalak sama si paling jago" balas Sultan sambil mengangkat alisnya dan memasang ekspresi tengil.

“Kurang ajar lo!” Cowok itu langsung maju, mukanya merah karena kesel.

Namun, Sultan tetap terlihat tenang. Dia juga melangkah maju, membuat jaraknya semakin dekat seperti memang sengaja ingin menantang.

“Ayo, sini gua aja yang lo palak! Sekalian bantuin ngitungin duit gua sini!” kata Sultan, sambil menggerakkan tangan, memberi isyarat agar mereka mendekat. Sikapnya yang provokatif jelas sengaja dibuat untuk menyulut emosi kelima orang itu.

"Stop!"

Belum sempat ada yang menyentuh Sultan,
suara berat lainnya tiba-tiba terdengar dari belakang mereka.

Semua orang spontan menoleh ke arah sumber suara. Di sana, Reno, si pentolan kelompok kecil itu sedang melangkah maju dengan tatapan tajam.

“Lu siapa, berani-beraninya ngerecokin kita?” Reno bertanya sambil berdiri di depan Sultan dengan mata tegas yang coba untuk mengintimidasi.

Bukannya takut, Sultan justru semakin tengil. “Cih, kalo lo gak tau gua, berarti maen lo kuranng jauh, bro! Kenalin gua Sultan, bukan siapa-siapa sih, cuman murid biasa aja yang gak suka liat abang jago kaya lo semua"

Reno menukikkan alisnya dan mengamati Sultan dari ujung kepala hingga ujung kaki. Membuat suasana tiba-tiba terasa tegang dalam jeda yang sunyi, sebelum akhirnya Reno menyunggingkan senyum tipis.

Sultan juga ikut mengerutkan alis, merasa bingung sebab senyum itu tidak tampak sinis, tapi lebih seperti senyuman dengan maksud tersirat di baliknya.

“Berani juga lo ngomong gitu di depan gue,” kata Reno pelan, tapi mampu terdengae jelas. “Menarik. Gua suka gaya lo!”

Mata Sultan melebar. Dia sama sekali tidak menyangka akan mendapat respons seperti itu dari Reno. Padahal, sebelumnya dia sudah bersiap untuk baku hantam, tapi sekarang malah dibuat bingung dengan gelagat Reno ini.

Love HateTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang