018

1.9K 155 17
                                        

Pagi hari menjelang. Cahaya matahari samar-samar menembus celah jendela, menciptakan guratan cahaya di dinding kamar. Rian menggeliat pelan, matanya masih setengah terpejam. Tangannya bergerak mencari sesuatu di sisi lain tempat tidur, niatnya ingin meraih guling untuk dipeluk, tapi yang dia sentuh hanyalah kasur kosong.

Mata Rian terbuka perlahan, bersamaan dengan pikirannya yang mulai mengumpulkan kembali ingatan tentang kejadian semalam. Dia teringat bagaimana Sultan mengeluh tidak bisa tidur, lalu tanpa berpikir panjang, Rian melontarkan sebuah kalimat yang kini terasa begitu konyol.

"Ini kan ada gua. Gua temenin lo di sini, sampe besok pagi lo bangun lagi"

Rian mengerjap, merasa aneh sendiri dengan ucapannya. Sekarang, dalam keadaan sepenuhnya sadar, baru dia menyadari betapa bodohnya apa yang telah dia lakukan. Rasa malu sempat menyelip di benaknya, tapi detik berikutnya, dia memilih untuk mengabaikannya.

Mengambil posisi duduk di tempat tidur, Rian mengucek matanya sebelum akhirnya menatap ke seluruh sudut ruangan dengan tatapan malas. Sultan sudah tidak ada di sana. Tempat tidurnya kosong dan selimut yang sebelumnya dipakai juga sudah dilipat rapih.

"Cepet banget dah ilangnya" gumam Rian pelan, suaranya agak serak efek baru bangun.

Dengan enggan, Rian akhirnya bangkit dan berjalan keluar kamar, menuruni satu-persatu anak tangga dengan langkah pelan.

Begitu sampai di lantai bawah, suara gaduh dari dapur menarik perhatiannya. Dia melangkahkan kakinya kesana dan mendapati Sultan yang sedang berdiri di depan kompor, mengenakan kaus kebesaran yang menggantung di tubuhnya.

"Ngapain lo?" tanya Rian, suaranya masih terdengar berat.

Sultan menoleh sebentar, lalu kembali fokus pada yang dia kerjakan. "Bikin roti panggang"

Alis Rian terangkat. "Ngapain bikin roti?"

Sultan berdecak, seolah malas menjawab pertanyaan yang menurutnya tidak jelas. "Ya buat sarapan kita lah. Lo biasa sarapannya harus pake nasi apa gimana?"

"Gua biasanya gak sarapan sih," jawab Rian dengan nada santai. Matanya tertuju pada Sultan yang sibuk membolak-balik roti di atas teflon. "Itu emang lo bisa manggang roti? Nanti gua keracunan lagi"

Sultan menoleh dengan ekspresi sebal. "Manggang roti doang mana bisa bikin keracunan, anjing!"

"Baunya aja gosong gitu"

"Berisik ah, namanya juga dibakar, ya pasti ada bau gosongnya lah anjir. Udah, tuh makan!" Sultan meletakkan piring berisi roti yang telah dipanggang di atas meja dengan sedikit kasar, membuat bunyi tak yang cukup nyaring.

Rian sebenarnya ingin meledek lagi, tapi ketika dia melihat Sultan mulai makan, dia malah terdiam.

Entah kenapa, melihat Sultan makan selalu saja menarik perhatian Rian. Gerakannya saat sedang mengunyah terlihat begitu santai, seolah tanpa beban. Sesekali bibirnya mengerucut saat menggigit roti, dan matanya juga sedikit menyipit setiap kali dia menikmati makanan yang masuk ke dalam mulutnya.

Manis, sedikit cantik, tapi tetap tegas. Sultan memiliki fitur wajah yang unik, seperti ada daya tarik yang sering kali muncul tanpa dia sadari.

"Kok lo ngeliatin gua gitu?" suara Sultan memecah lamunan Rian.

Rian berkedip cepat, menyembunyikan reaksinya dengan pura-pura menggigit rotinya. "Enggak."

"Eh, ikut gua pergi yuk, Yan?" kata Sultan yang tiba-tiba mengganti topik pembicaraan.

Rian mengernyit. "Kemana?"

"Beli komik. Sekalian jalan-jalan aja sih. Mau ya, temenin gua?"

Nada suara Sultan terdengar lebih lembut di bagian akhir kalimatnya, seperti permohonan kecil yang tidak bisa diabaikan. Membuat Rian diam sebentar.

Setelah memutuskan untuk membuka perasaaannya, Rian jadi mengerti kenapa dia selalu luluh setiap kali Sultan memintanya untuk melakukan sesuatu. Karena Sultan selalu meminta dengan suara lembut alami yang tidak dibuat-buat, dan hanya rengekan halus yang ternyata memang sulit untuk ditolak.

Tanpa sadar, sudut bibirnya tertarik membentuk senyum tipis, yang buru-buru dia sembunyikan dengan menggigit roti bakarnya lagi.

"Heh!" Sultan mengernyit. "Jadinya mau ikut gak nemenin gua?"

Rian mengangguk sekali. "Lo atur aja lah. Tapi gua gada baju by the way"

"Ah aman aja. Baju gua kebanyakan oversize, muat lah di badan lo" jawab Sultan yang sudah kepalang antusias. Sementara Rian hanya mengangguk pasrah saja.

.
______________________
.

Jadi disini lah mereka, berdiri di antara deretan rak-rak penuh komik di sebuah toko buku yang cukup terkenal.

Rian benar-benar merasa seperti anak hilang yang tersesat. Sejak tadi, dia hanya mengekor di belakang Sultan yang sibuk membolak-balik komik satu-persatu, kadang membaca sinopsisnya, kadang sekadar menatap sampulnya lama seolah sedang menilai sesuatu yang penting.

Rian yang dari awal memang tidak punya ketertarikan sama sekali pada komik, mulai kehilangan kesabaran. Dia melirik jam di ponselnya, lalu melipat tangan di dada sambil bersandar ke rak.

"Lama banget sih, Sul?" keluhnya.

"Lo gak liat ini gue lagi milih?" Sultan menjawab tanpa menoleh, masih sibuk membolak-balik halaman sebuah komik.

"Orang milih sayur aja gak sampe selama ini, anjir."

Sultan berdecak pelan, tapi tetap tidak beranjak. Masih fokus pada komik yang sedang dia pegang.

Rian menatapnya malas, lalu menyeringai usil. "Asli, lo wibu banget, anjir. Udah gede gini masih aja nongkrong di rak komik lama-lama."

Sultan akhirnya menoleh, menatap Rian dengan ekspresi sinis. "Terus? Masalah buat lo?"

"Masalah banget, lah. Ini kaki gua sampe udah gak berasa gara-gara dari tadi berdiri nungguin lo ngeliatin komik ginian doang"

Sultan menyipitkan mata, menatap Rian seakan ingin membantingnya di tempat. "Lu kalo pegel, yaudah tinggal duduk aja tuh di lantai. Gausah berisik!"

Rian merengut, mulai tidak sabaran. "Ya lagian, lo di situ-situ aja dari tadi. Udah lah, ambil aja yang mana gitu, beres."

"Gak bisa gitu! Harus milih yang ceritanya lagi bagus!" Sultan kembali fokus pada komik-komik di depannya.

Rian mendesah panjang. Daripada terus memperhatikan Sultan yang masih berkutat dengan pilihannya, dia akhirnya asal meraih satu komik dari rak di sebelahnya dan mulai membaca lembaran pertama.

Awalnya, dia hanya berniat menghabiskan waktu, tapi semakin dia membaca, semakin dia merasa tertarik. Gambarnya bagus, ceritanya juga lumayan seru. Tanpa sadar, dia sudah membalik beberapa halaman dan mulai penasaran dengan kelanjutannya.

"Gue kayanya mau beli yang ini," kata Rian tiba-tiba.

Sultan menoleh dengan alis terangkat. "Lah, katanya lo gak suka komik?"

"Ya suka-suka gua lah"

Sultan mendengus. "Ngeselin banget sumpah."

Mereka akhirnya menuju kasir, masing-masing dengan komik pilihannya. Sultan terlihat puas dengan belanjaannya, sementara Rian lebih kepada merasa heran karena ternyata dia benar-benar tertarik dengan sesuatu yang sebelumnya dia anggap membosankan.

Namun, saat mereka baru saja keluar dari toko buku, ponsel Sultan bergetar. Dia melihat layar sejenak, lalu langsung mengangkat panggilan itu.

Rian bisa melihat, raut wajah yang semua ceria itu perlahan berubah jadi lebih serius dengan alis yang menukik tajam. Sehingga, Rian tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya, "Kenapa?"

"Bang Fatah masuk rumah sakit, Yan."

Rian yang tadinya juga masih bersikap santai, langsung mengerutkan kening dengan ekspresi yang sama seriusnya. "Hah? Kok bisa?" tanyanya.

"Katanya dikeroyok anak Alter di jalan" Sultan buru-buru memasukkan ponselnya ke saku. "Ayo buruan ke rumah sakit!"

Tanpa banyak tanya lagi, Rian langsung mengikuti Sultan yang melangkah cepat menuju parkiran.

Untuk pertama kalinya hari ini, mereka berdua benar-benar diam, tenggelam dalam pikiran masing-masing, tanpa saling meledek atau hanya sekadar melempar kata seperti biasa.

Love HateTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang