026

1K 97 14
                                        


Sultan jelas bukan tipe orang yang pendiam. Biasanya, dia akan jadi yang paling ramai. Selalu duluan menimpali kalau ada yang bercanda, dan hobi membuat candaan sampai satu tongkrongan tertawa lepas.

Namun, entah mengapa, sejak dua hari terakhir, dia jadi lebih sering melamun. Pemuda itu sering terlihat duduk termenung sendirian, seolah sengaja menjauh dari keramaian teman-temannya.

Perubahan itu jelas tidak luput dari mata Fino yang tajam. Dia sudah cukup lama mengenal Sultan untuk tau, kalau cowok itu diam, pasti ada sesuatu yang tidak beres.

“Lagi ada pikiran?” tanya Fino perlahan, ikut duduk bersama Sultan di teras markas. Angin sore menyapu pelan, membawa bau rokok yang melayang ke udara, sisa dari sebatang yang masih menyala di tangan Sultan.

Sultan tak langsung menjawab. Ia hanya menunduk, menggoyangkan kaki tanpa irama, dan menatap batang rokok di antara jarinya seolah berharap jawabannya ada di sana.

Keheningan menyelimuti mereka, tapi berbeda, inibukan hening yang nyaman dan tenang.

Fino melirik dari ekor matanya saat Sultan hendak menghisap lagi rokoknya, dengan sigap tangan Fino bergerak menahan, mencabut batang tembakau itu, lalu menekan sumbunya ke asbak tanpa basa-basi.

Barulah Sultan bergeming. Suaranya terdengar protes, nyaris seperti rengekan. “Kenapa sih, Bang?”

Fino menghela napas. Ia mengambil rokok dari tangan Sultan dan menekannya ke asbak hingga padam. “Ini udah rokok kelima lo. Udah dulu!” ucapnya, seperti memberi perintah yang tak butuh dibantah.

Sultan tidak membalas. Ia hanya diam dan kembali menunduk, seolah menerima titah itu tanpa protes.

“Kalau mau cerita, gue dengerin,” kata Fino, matanya menatap lurus ke depan. Suaranya datar, tapi Sultan tau bahwa dalam pertanyaan itu justru sirat akan kepedulian.

“Gue gapapa. Cuman... bingung aja,” kata Sultan apda akhirnya. Suaranya terdengar lebih rendah dan pelan dari biasanya, seakandia enggan untuk bicaram

Fino melirik sekilas. “Bingung kenapa?” tanyanya lagi.

Sultan menghela napas panjang. Tangannya mengusap wajah frustasi, lalu dia duduk lebih tegak. Namun, dengan sorot mata yang tetap tertuju ke bawah, enggan bertemu pandang dengan Fino.

“Lu... pernah suka sama orang, Bang?”

Pertanyaan itu membuat Fino terdiam, gerakan tangan yang hendak memantik korek untuk menyalakan rokok mendadak berhenti di tengah jalan. Alisnya mengernyit. Dia melirik Sultan, dan dari sorot matanya, Fino tahu ini bukan pertanyaan bualan.

Gestur terkejut itu hanya bertahan sesaat, sebelum kemudian Fino lanjut menyalakan rokoknya yang tadi sempat tertahan di bibir. “Kenapa nanya gitu?” tanyanya tenang.

“Ya... penasaran aja. Soalnya gue gak tau rasanya tuh gimana kalo kita suka sama orang.” Sultan mendongak, menatap langit yang mulai berubah jingga. “Lu pernah kepikiran gak sih bang, gimana kalo ternyata orang yang lu suka itu... cowok?”

Kata-kata itu meluncur pelan, tapi efeknya terasa seperti dentuman di kepala Fino. Dia tidak menyangka Sultan akan menanyakan sesuatu yang begitu sensitif dan Fino menangkap dari cara Sultan bicara, jelas terlihat bahwa dia sedang berhati-hati. Mencoba membuka diri, tapi seperti masih ragu.

Keterdiaman Fino membuat Sultan gelisah. Jari-jarinya saling meremas, kakinya bergerak tanpa sadar. Dan Fino tau bahwa itu bukan sekadar gugup biasa.

Melihat reaksi itu, Fino cepat menghubungkan semuanya. Lalu dia bertanya dengan nada santai, “Cowok mana yang lo suka?”

Love HateTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang