Minggu siang, panas matahari terasa sangat menyengat untuk Sultan yang berdiri di depan gerbang rumahnya. Crewneck putih bergambar beruang yang dia kenakan mulai terasa lengket di badan. Matanya berulang kali menatap kesal pada jam di ponselnya yang sudah lewat setengah jam dari waktu janjian. Namun, sosok Rian belum juga datang.
“Ah anjing, ngaret banget dah nih orang!” Sultan menggerutu sambil mengusap lehernya yang mulai basah oleh keringat. Baru saja dia hendak menyerah dan masuk ke rumah, suara motor perlahan terdengar dari kejauhan.
Rian menghentikan motornya tepat di depan Sultan. Sengaja memasang tampang tengil yang membuat darah Sultan naik hingga ke ubun-ubun.
“Lama amat sih lu datengnya?! Gue udah kaya jemuran nih dari tadi nungguin lu di sini!” seru Sultan meluapkan kekesalnnya
“Yaelah rewel banget lu, pacar gua juga bukan,” sahut Rian santai sambil melepas helmnya.
Sultan mendengus keras. “Gua juga ogah jadi pacar lu. Dah, yuk buruan jalan! Udah gerah banget nih gua berdiri di sini dari tadi.”
“Lagian, siapa suruh nunggu di luar? Bukannya nunggu di dalam aja,” balas Rian dengan nada meledek.
“Heh, kalo lu datengnya gak lama juga gua gak harus nunggu, anjrit!” Sultan bergerak naik ke boncengan motor Rian, lalu menepuk bahunya dengan cukup keras. “Dah, cepet jalan!”
Rian mencibir pelan, tapi tetap memutar kunci motor. Membuat mesin bergetar halus di bawah mereka, dan tanpa banyak basa-basi lagi, Rian menarik gas, membawa mereka melaju di jalanan yang terlihat ramai.
Angin menerpa wajah Sultan, membawa sedikit kesejukan yang dia syukuri setelah panas matahari yang tadi membakar kulitnya. Dia memperhatikan pemandangan di sepanjang jalan yang tampak sederhana, tapi terasa menenangkan.
Sultan membiarkan dirinya hanyut dalam suasana itu. Tanpa sadar, tangannya bergerak memegang bahu Rian untuk menstabilkan tubuhnya di atas motor yang melaju.
Di depan, Rian yang tadinya santai tiba-tiba merasakan sentuhan lembut tangan Sultan di bahunya. Alisnya terangkat, dan matanya melirik sekilas ke spion. Melihat pada Sultan yang tampak tenang menikmati perjalanan.
Seperti biasa, setiap kali melihat Sultan, Rian solah terhipnotis dalam pesonanya. Membuat jantungnya berdebar menyenangkan dengan perasaan hangat yang menyesakkan.
Dengan cepat Rian mengesampingkan perasaan itu dan mendadak sebuah ide jahil terlintas dalam kepalanya. Dia tersenyum tipis di balik helm, lalu tanpa peringatan menambah kecepatan motornya.
Sultan yang semula tenang, mendadak terkejut. “Rian! Pelan-pelan napa?! Gua gak bisa melek nih, anginnya kenceng banget!” protes Sultan dengan suara setengah berteriak dengan matanya yang terpejam erat.
Rian pura-pura tidak mendengar. Dia malah semakin meliuk-liukkan motor di antara kendaraan lain. Hingga akhirnya Sultan yang merasa kewalahan secara refleks melingkarkan lengannya di pinggang Rian.
Pegangan itu membuat Rian tercekat. Punggungnya bersentuhan langsung dengan tubuh Sultan, dan napas hangat cowok itu terasa samar di lehernya. Seketika, suasana yang semula biasa saja, mendadak berubah menjadi sedikit berbeda.
Namun, berusaha mengendalikan debar di dadanya yang justru semakin menggila, Rian akhirnya memperlambat motor. Tidak lama kemudian, mereka tiba di sebuah kios kecil berwarna cerah tempat seblak prasmanan yang katanya menjadi langganan Sultan.
Begitu motor berhenti di depan kios kecil, Sultan langsung turun dengan cepat, lalu menepuk keras lengan Rian. “Bangsat! Rem motor lu blong atau kenapa sih? Kenceng banget naik motornya, kaya dikejar rentenir” ujarnya dengan nada sedikit kesal.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Hate
Novela JuvenilSinister Series : 3 Sebelum membaca cerita ini, disarankan untuk melihat bio di profil lebih dulu!! Afrian Rega Pramudya, dengan sikap tengilnya sering kali memberikan gangguan pada Arrayan Sultan Argani, yang juga selalu dibalas dengan ketengilan s...
